Senin, 12 Oktober 2015

Teman Sejati


Ketika lisanku sukar untuk berucap, badan merinding, dan berlinangan air mata membasahi pipiku. Ada sesosok laki-laki yang telah duduk di depanku yang sedang menghadap waliku. Mengucapkan janji suci yang membuat dunia ini gemetar, di hadapan Allah..
Oh Tuhan.. benarkah ini adalah sebuah pernikahan? Seperti inikah? Aku tak percaya takdirku sampai pada akhirnya umur 20 tahun untuk berumah tangga. Kini diriku yang belum sepenuhnya dewasa, ingin belajar bagaimana cara menghadapi kehidupan rumah tangga yang rumit menjadi mudah apabila diselesaikan bersama.

Cukup sudah penantianku terhadap seseorang selama ini.  Ternyata dia-lah orangnya, yang akan membimbingku, menemaniku, dan memberiku kasih sayang sebagai seorang suami di kala suka dan duka. Cukup sampai di sini, di hati ini kuberlayar untuk mencari pasangan yang menerimaku apa adanya.

Bismillah… Inilah takdirku, inilah pilihanku, inilah orangnya…. Tak disangka, kau bilang bahwa kau datang tepat pada waktunya. Ya, aku baru saja merasakan seperti ini sekarang. Telah banyak peristiwa yang tak terduga, yang benar-benar semakin kubersyukur pada-Mu Yaa Rabb.. :’)

Indahnya pacaran setelah menikah… tenang rasanya.. Pun aku dan dia sedang diuji kesetiaan dan kepercayaan.. Dia sedang bekerja untuk masa depan kami nanti. Ya, Kami ditakdirkan berpisah untuk sementara. Dia sedang fokus bekerja, aku pun sedang fokus kuliah. Kami seperti sedang berjalan masing-masing, namun kedekatan kami selalu di hati dan pikiran ini.


Perjuanganku untuk menjaga hati, memang tidak ada ujungnya. Godaan selalu ada, tetapi aku yakin, dengan niat tekad yang kuat, akan mengalahkan godaan itu. Teruslah perbaiki diri walaupun tak ada yang salah. Prinsipku, maafkanlah diri sendiri dan orang lain, itu membuat kita semakin tenang menjalani hidup ini.