Kamis, 19 Februari 2026

Jatuh Cinta dengan-Nya Berkali-kali

 


Apa yang terjadi pada kehidupan ini, membuatku semakin takjub bahwa Allah Swt. memperlihatkan kuasa-Nya. Melalui kepahitan, luka masa lalu, dan kedamaian. Semua gejolak rasa singgah di waktu usia 30 tahun ini dan akan mengalami hal-hal yang Allah persiapkan. 

Sebetulnya, menarik sekali untuk bahas tentang psikologi manusia, bahwa potensi manusia memang besar dan beragam. Namun kita perlu mengenalnya, adanya ilmu psikologi ini hanya gambaran dan memperkuat maksud dari kitab Al Quran dan sunnah, bukan semata-mata ramalan yang tidak berdasar. Boleh mempelajari tapi tidak mengimani, seperti ilmu psikologi mengenai teori behavioristik, humanistik, dan semacamnya yang dari teori barat. Yang kita ambil adalah hikmahnya.

Banyak hal yang aku pelajari di perantauan ini khususnya tentang berteman atau bersosialisasi. Kita adalah makhluk sosial, tak akan terlewat dari prasangka manusia dan perhatian manusia. Melalui diamnya kita atau tingkah laku kita pasti bertemu hal-hal yang unik. Aku meyakini bahwa di manapun kita berpijak, lihatlah dari muhasabah diri dahulu dan memikirkan sebab akibat. Berpikir sebelum bertindak itu perlu, namun latihannya adalah waktu untuk berpikir. Ada yang berpikir secara mendalam atau hanya permukaan atau langsung action. Aku sangat menghargai orang yang langsung action karena memang jika bertemu dengan orang tersebut kita menjadi termotivasi. Begitupun sebaliknya, kita memiliki teman yang berpikir sebelum bertindak itu membawa kita untuk bermuhasabah diri. Orang akan saling tarik menarik dan saling menggantung. Memang secara mutlak kita harus menggantungkan diri dan berserah pada Allah Swt. itu yang utama. Makanya hikmah dari sholat 5 waktu itu kita perlu bertemu dengan-Nya, berbincang apa yang dirasakan dan harapan. Agar kita terhindar dari dosa dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Pada akhirnya Allah saja yang mengatur. Kita bagian untuk berusaha.

Ketika kita sedang bersedih, bayangkan Allah sedang mengusap air mata kita. Allah tidak akan tinggal diam dan semua waktu, ada dalam genggaman-Nya. Yakin saja. Betapa damainya merasakan dan meyakini kehadiran-Nya, apapun kejadian yang lalu dan sekarang, Allah sedang menguji dan mempersiapkan kejutan yang tak pernah kita sangka sebelumnya. Dan Allah sebaik-baik pemberi ketenangan. Tidak usah ragu dan pertolongan-Nya amat dekat jika kita terus mengingat Allah. Peluk aku Yaa Allah.. Tenangkan aku dengan cara-Mu.. Damaikan hatiku ketika kecemasan itu muncul Yaa Allah.. dan terima kasih atas rasa yang Engkau beri selama ini. Kekuatan dan keberpasrahan akan Qadha dan Qadar-Mu Yaa Allah. Bersyukur atas anugerah yang tiada habisnya kenikmatan berdua dengan-Mu, berpikir bahwa Engkaulah sebaik-baik pemberi balasan. Dan berdoa kepada Engkau adalah langkah terbaik sepanjang masa.

Berkali-kali aku jatuh dan sekaligus jatuh cinta lagi. Tidak terasa aku sudah sejauh ini melangkah. Jatuh bangun yang aku rasakan, semoga menjadi penyemangat untuk terus mencari-Mu dalam keadaan suka dan duka. Dalam kedamaian sejati. Selalu kuyakin dan kuucap bersyukur Alhamdulillaah ‘ala kullihaal. Jika aku salah, mohon luruskan Yaa Allah. Buat aku jatuh cinta pada-Mu berkali-kali betapa sangat indah kebesaran-Mu.


Selasa, 06 Januari 2026

Deep Talk bersama Suami

 


1. Selalu perbaiki cara komunikasi, selalu konfirmasi apakah pasangan sudah mendengar apa yang disampaikan. Jika ingin istirahat atau meminta tolong, komunikasikanlah. 

2. Menjadi diri sendiri sesuai dengan porsinya. Tidak takut akan kelemahan dan tidak terlalu bangga akan kelebihan. 

3. Tidak mengapa kita disalahpahami orang lain, toh itu di luar kendali kita. Justru saling menguatkan saja. Ubah respons kita menjadi terhubung dengan Sang Pencipta. 

4. Open minded. Mengenal berbagai macam karakter. Dari Sabang sampai Merauke, karakter bahasa, suku, kebiasaan semuanya berbeda. Lalu menerima perbedaan sampai tidak dimasukkan ke dalam hati.

5. Melatih empati dengan kadar yang sesuai. Kurang empati ya jangan sampai, tinggi empati juga kadang menyesakkan, sehingga mengorbankan diri sendiri juga menjadi madhorot. Jadi, secukupnya saja. Hargai perkembangan sekecil apapun.

6. Dzikir penenang jiwa. Terlepas ujian atau goncangan hati, solusinya ada di dalam Al Quran, tilawah dan tilawah. Jika belum sempat, maknai sesuatu yang di Istighfari (melihat anak sangat aktif sampai capek bathin) itu adalah sebuah amal berdzikir mengingat Allah. Lebih baik sambil berbaik sangka dan berdoa yang baik-baik. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illAllah sambil melihat hal-hal yang tidak enak. Yakin kalau kita diuji agar menaikkan derajat kita di sisi Allah.

7. Validasi perasaan, lalu mengakui kesalahan, mau berubah, setelah itu bangkit lagi. 

8. Pilih prioritas dahulu agar bisa fokus (apalagi kalau kita memiliki anxiety). 

9. Jalani saat ini dengan sadar dan mindfulness, yakin sesuatu yang terjadi itu atas izin-Nya, dan akan terlewati. 

10. Perbaiki niat. Sedikit atau banyaknya aktivitas, niatkan semoga berkah. Berkah dalam ke segala arah, bukannya kita banyakin kegiatan malah menjadi tidak karuan karena kelelahan, sehingga anak menjadi korban kemarahan kita. 

11. Sesuatu yang tak bisa diubah, biarkan Allah yang mengurusnya (tentunya dibarengi dengan ikhtiar).

12. Yakinlah rencana Allah lebih indah.

13. The power of Doa orang tua. Saling mengabari, menanyakan kabar (kalau jauh), dan minta doa.

14. Kelola emosi. Emosi bukan hanya emosi marah, kelola emosi sedih sehingga tidak terlalu dalam, senang juga jangan sampai terlalu dalam sehingga kita lupa akan kasih sayang-Nya.

15. Meyakini diri tidak sempurna, makanya butuh solusi dan masukan-masukan.


=> Menulis ini bukan berarti kita lebih baik dari pasangan atau orang lain, kami masih belajar ^_^


Jumat, 05 Desember 2025

Bertumbuh dalam Harmoni Kepercayaan

 


            Bertumbuh di sini dimaknai bertambahnya pendewasaan diri. Melihat diri ini masih berproses dan perjalanan masih panjang. Kata dewasa itu dapat dilihat melalui bagaimana kita bersikap dan berbuat tentang hidup ini, bagaimana kita menerima dan seperti apa respon kita apapun yang terjadi.

            Seperti halnya saat awal pindah dari Tasikmalaya ke tanah Papua pada tahun 2021 sampai saat ini karena ikut suami kerja. Terkadang saya mengalami culture shock, karena di sini terdapat beragam suku dan budaya, bahkan agama. Namun, lambat laun saya mulai mengenal karakter dan menghormati keberagaman itu. Jika membicarakan keberagaman, kita menjadi tahu dan menjadi open minded, bahkan membuka wawasan bahwa ternyata keberagaman itu indah. Di situlah mulai bertumbuh.

   Awal kisah memang perjuangan sekali merantau ke Papua. Mengandalkan Bismillaahirrahmaanirrahiim dan Laahaula walaa quwwata illa Billah, saya dan suami sepakat untuk hidup bersama di sini. Memang tak mudah, tapi saya yakin InsyaaAllah ada jalan dan semoga dipermudah bahkan dikuatkan oleh Allah. Memahami rasa Syukur yang mendalam itu berproses di sini. Allah memberikan ujian agar kita bisa bertumbuh. Entah itu melalui suka, duka, tantangan, dan airmata. Namun, yang harus diyakini adalah Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ada saja pertolongan Allah yang tanpa kita sadari dan akhirnya kita memikirkan “oh.. maksud Allah itu seperti ini, sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Yang tadinya merasa selalu cemas, Alhamdulillah perlahan bisa tenang menghadapi apapun. Yang penting bersama pasangan (hehe). Bersama merasakan pengalaman pahit manisnya hidup berkeluarga di perantauan tanpa adanya orang tua dan keluarga besar.

            Barulah kami merasakan apa itu harmoni “kepercayaan”. Akan ada esok hari tantangan demi tantangan yang dihadapi dan bergantung pada-Nya, percaya pada-Nya.

1.      * Kepercayaan bahwa ada Allah Swt. yang sudah mengatur semuanya.

Tinggal kita berikhtiar dan berdoa. Tentu Allah hadirkan orang-orang yang membersamai kita, dengan beragam karakter di dalamnya untuk kita percayai bahwa kita adalah manusia biasa. Yang ingin hidup tenang dan menikmati proses yang ada. Yang tadinya memikirkan penyesalan, sekarang mengubah mindset “oh, ini terjadi atas izin-Nya”. Berdoa adalah senjata paling ampuh. Doa jalur langit, dan yakin bahwa di mana ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Saya banyak mengalami miracle di perantauan ini. Bahwa saya adalah manusia biasa yang banyak dosa dan banyak mengeluh, tapi Allah selalu tolong dalam bentuk apapun. Kasih sayang-Nya tak pernah putus. Semakin yakin harus melibatkan Allah dalam segala urusan. Tuntun dan bimbing kami Ya Allah..

Hayati, nikmati, syukuri semua prosesnya, karena Allah hadirkan kisah untuk menumbuhkan kualitas diri. Allah hadirkan tantangan agar naik level dan menguji kita apakah kita akan bersabar atau tidak. Semakin dekat atau semakin menjauh dengan Allah. Itu semua pilihan. Dan Allah Maha Tahu segala isi hati.

2.      * Kepercayaan pada diri sendiri

Yakin terhadap diri sendiri bahwa kita mampu untuk menjalaninya, tanpa perlu pembuktian. Akan ada suatu keajaiban jika kita berusaha dan berserah pada-Nya. Hanya bisa memohon untuk “mampukan diri ini Yaa Allah” untuk menikmati proses, menghadapi kehidupan, dan takdir. Berusaha memaafkan luka masa lalu tanpa menyalahkan keadaan dan buka lembaran baru, serta keyakinan baru. Menyibukkan diri untuk terus menjadi lebih baik setiap harinya. Pasti Allah memberikan ujian agar kita memetik hikmahnya.

Firman Allah pun berkata dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 yaitu “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak akan memberikan beban atau ujian kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan kita. Bukti bahwa Allah menyayangi kita, maka kita pun harus percaya pada diri sendiri bahwa kita bisa melalui itu semua. Allah bersama kita.

Untuk tahun ini 2025, banyak momen yang di luar rencana, khususnya berdamai dengan diri sendiri. Atur saja semuanya Ya Allah. Alhamdulillah Allah siapkan rencana lainnya yang lebih indah ternyata :’) Wahai diri, terima kasih sudah survive di setiap episodenya. Sangat terharu dengan diri ini yang masih tak menyangka. Benarkah saya sudah melewati 4 tahun di perantauan?

Kita harus yakin, dibalik kesukaran ada kemudahan, dan harus yakin Allah ada bersama kita. Di saat saya harus bisa menyetir mobil dalam keadaan mendesak untuk antar-jemput anak-anak, karena di Papua ini tidak mengenal waktu hujan. Tiba-tiba saja. Itu semua saya harus kuat dan tahan banting di sini. Mengingat suami makin sibuk bekerja dan tempatnya semakin jauh. Di sisi lain, Alhamdulillah ternyata keyakinan untuk percaya diri ini dikuatkan dan digerakkan Allah. Tak lupa ada ridho suami juga di dalamnya, maka Allah juga permudah jalannya. Banyak saudara rantau yang membantu untuk melancarkan belajar mobil ini. Sungguh haru. Berkali-kali diri ini ditolong oleh-Nya. Nikmat apa lagi yang telah kudustakan? Tak menyangka ternyata Alhamdulillah saya bisa dan banyak keajaiban lainnya.

Jika saya berada di Tasik yang penuh dengan kenikmatan, keperluan apapun bisa cepat dan dekat, bisa meminta tolong kepada orang tua, makan gofood, dan lainnya. Itu semua dilakukan bukan karena manja, tapi karena kurang percaya diri bahwa setiap manusia bisa melakukan segala hal, meskipun ada kekurangannya. Di Papua sini harus segala diurus sendiri. Masak harus sendiri, kangen cemilan Sunda ya masak sendiri, namun di situlah Allah tumbuhkan kepercayaan diri ini.

Saya berusaha memiliki kendali dan batas agar tidak mudah stress. Salah satunya dengan mengurangi ekspektasi dan berharap kepada manusia. Alhamdulillahnya, di Papua adalah warga pendatang yang baik-baik, solidaritasnya tinggi dalam menolong hal apapun. Lagi-lagi Allah tolong dan hadirkan mereka untuk merajut kisah suka dukanya di perantauan. Setiap momennya akan selalu dikenang dan ambil hikmahnya, tapi kembali lagi Allah-lah sebaik-baik Penolong.

 

3.      * Percaya bahwa doa orang tua menembus langit.

The power of doa orang tua. Setiap hari tak lupa video call. Obrolannya macam-macam dan pasti terselip doa, apapun itu. Dalam tahajudnya, dalah dhuhanya, dalam puasanya, pasti meminta kebaikan-kebaikan anaknya dalam menjalani hidup. Dan itu semua saya rasakan di rantau ini. Meski ada tawa, tapi ada juga rasa kerinduan di dada yang tertumpah dalam sajadah mereka. Alhamdulillah sampai detik ini saya berusaha menikmati prosesnya hidup di perantauan. Salah satunya karena doa orang tua yang menembus langit menginginkan anaknya dalam keadaan sehat wal-afiat, meminta perlindungan-Nya, dan meminta kebaikan-kebaikan menghampiri kami.

Kamis, 19 Desember 2024

Healing Terbaik adalah Menulis

    Semenjak menjadi ibu, tentu banyak perubahan besar pada diri apalagi hidup di perantauan. Mengenai pandangan ke depan dan tetap berusaha menikmati yang terjadi saat ini. Mungkin bagi sebagian besar perempuan, ini hal yang biasa dilakukan oleh seorang ibu. Bahkan entah kapan seorang ibu bisa bertukar cerita pada dunia bahwa apa yang dia rasakan saat ini. 
    Zaman sekarang, sudah serba canggih dan serba viral. Jadi, sesuatu yang terjadi, memang harus benar-benar difilter atas apa saja yang harus diceritakan. Jangan semua orang tahu. Tapi, kalau menurutku balik lagi kepada niat dan semoga bermanfaat saja, sharing apa yang terjadi dan ceritakan untuk pembelajaran ke depannya. Bukannya kita tidak bersyukur dan tidak percaya kuasa Allah/ menyalahi takdir Allah, namun manusia pasti punya akal pikiran agar tidak terjerumus pada kondisi yang sama. Intinya ambil hikmahnya saja lah ya. 
    Menjadi ibu, terus sibuk akan rutinitas sehari-hari. Apalagi berprofesi kerja di rumah (IRT) Hihi. Dilengkapi anak yang masih membutuhkan perhatian (usia 5 tahun dan 1,5 tahun). Rumah rame sekali. Dan entah mengapa aku terpaku oleh dunia mereka. Dan dari sinilah aku harus mulai belajar TEGA. Tega bukan berarti mengabaikan, namun melatih mereka untuk tumbuh, tentunya berada dalam pengawasan. 
    Banyak yang hilang diri ini kalau dikatakan jujur ya, termasuk bersosialisasi dan belum menemukan manajemen waktu, ya masih melihat dan menyesuaikan kondisi mental dan fisik anak. Diri ini butuh menulis saja tidak ada waktu. Sampailah pada diriku yang sering marah-marah di rumah, karena tidak memiliki waktu untuk sendiri. Me time sambil nonton drakor juga Alhamdulillah banget (hehehe). Apalagi menemani tidur siang anak kedua yang masyaaAllah 1 jam aja udah syukuran banget. Memang lebih aktif saja anak yang kedua. 
    Inti dari semua, berusaha menjadi yang terbaik menurut versiku. Diusia ini, mulai bersosialisasi sewajarnya. Makin bersyukur, minta ampun pada Allah atas kesalahan yang sudah diperbuat, apalagi kepada anak dan suami ya. Yang harus dilawan adalah gengsi, gengsi meminta maaf. Healing sejenak jika capek. Daaaaaaannn teruslah berkarya, memotivasi diri sendiri dan orang lain. 
Ambil baiknya, buang yang buruknya yaaa.. Sekian dulu healing setitik. XD 
Terima kasih yaa Allah, atas kenikmatan menulis ketika anak-anak sedang tidur siang :') 

Senin, 09 Desember 2024

Welcome Back My Notes

 Assalamualaikum.. Bagaimana kabarmu, blog-ku? Aku harap mulai saat ini aku benar-benar ingin menata kembali apa tujuanku untuk menulis di sini. Salah satunya untuk berbagi kisah dan sharing saja. 

Terkejut sekali diriku, terakhir kalinya aku menulis di sini pada tahun 2018. Ke mana saja diriku sampai saat ini? Aku akan bercerita dari tahun 2018 - 2022 dulu ya. Waktu yang sangat panjang, beragam kisah hidup yang sudah aku lewati bersama suami. Selama 6 tahun ini aku 'ngapain aja sih?'.

- 2018 

Di waktu ini, aku ikut suami ke Papua, dan entah kenapa aku saat itu ingin pulang ke rumah (Tasik). Ternyata, rencana Allah Swt. sangat indah ya (sambil flash back masa itu). Di mana aku Alhamdulillah diberi kepercayaan oleh-Nya untuk menjaga malaikat kecil di perutku. Yang aku ingat, saat aku baru mengetahui bahwa aku sedang hamil itu ketika terlambat datang bulan, dan itu di waktu bulan Ramadhan. Masyaa Allah :') Setelah mengetahuinya, aku cek kandungan di klinik ISOS tempat suamiku bekerja, dan Alhamdulillah bukti itu benar. Kondisiku sedang hamil 4 minggu (makin ingin segera pulang cuti). Namun, kami direkomendasikan jangan dulu naik pesawat ketika hamil muda, 'riskan' katanya. Padahal kami sudah merencanakan akan pulang cuti sebelum lebaran Idul Fitri.

Entah apa yang meyakinkan aku untuk bersi keras ingin pulang, tapi Bismillah saat itu kami sedang mencari jalan terbaik. Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap pulang cuti dalam keadaan aku hamil 4 minggu, dan meminta surat keterangan dokter bahwa aku sedang mengandung dan punya pegangan kalau dimintai surat keterangan. Ok fix, Lahaulaa walaa quwwata illa Billah.. kami pun dengan hati-hati melakukan segala sesuatu ketika penerbangan sampai tiba di rumah dan jika terjadi sesuatu, insyaa Allah aku ikhlas (pikiranku kala itu). Alhamdulillaaah.. Saat pulang cuti janinku kuat untuk naik pesawat. Dulu, kupikir takut pendarahan, dll. Ternyata atas izin Allah Khansa-ku bertahan. 

-2019

Awal tahun, kumerasa deg-degan tak karuan mungkin ya.. mendengar kata 'melahirkan', di saat aku sedang hamil masa akhir, dan aku mencari tempat-tempat untuk melahirkan. Dan akhirnya ku melahirkan di RS Jasa Kartini Tasikmalaya. Ditemani abah, nin, wa tini yang selalu mendampingiku. Suami saat itu sedang di perjalanan menuju Tasik. Yangti, mertuaku hadir di saat yang tepat. Saat detik-detik terakhir Khansa memperlihatkan dirinya di dunia, yangti langsung masuk dan memberiku kecupan manis agar aku semangat untuk melahikan malaikat mungil ini. Ah, kisah ter so sweet bareng yangti. Dimulai saat ini, aku dan suami benar-benar belajar mengasuh, merawat, mencintai Khansa, anak pertama kami. 

-2020

Tahun 2020 ini, kumenjalani sebagaimana mestinya orang tua merawat anaknya dengan kasih sayang. Ya, memang sebelumnya kami diberi tantangan untuk membesarkan Khansa di saat LDM. Rasanya nano nano lah yaaa. Semua ada sisi positif dan negatifnya sih. Dan Qadarullah tahun 2020 ini, banyak cobaan di dunia ini, salah satunya ada Covid-19 yang mulai terjadi di Indonesia. Rencana Allah pasti yang terbaik. Tidak mungkin Allah menciptakan virus tersebut tanpa ada maksud. Tentara-tentara Allah itu, membuat kita lebih menafakuri atas kebesaran-Nya. Dan sayangnya, saya terlalu was-was akan hal itu karena takut terjadi apa-apa pada si kecil Khansa yang baru berapa bulan. Dan akhirnya, Bismillaah... semoga bisa menghadapi apapun yang terjadi di tahun 2020. 

-2021

Ketika kupikir-pikir, sangat tak terasa waktu terus berlalu. Alhamdulillaah aku bisa melewati sedikit demi sedikit rintangan pada saat membesarkan Khansa. Belajar mengurus sendiri tanpa dibantu oleh wa Entin dan orang tua. Aku merasakan bahwa aku berhak memiliki reward (ini bukan maksud berbangga diri ya, tapi keyakinan agar aku lebih bersemangat lagi untuk mendidik Khansa berdasarkan kemampuanku. Dan mungkin ini terkesan lebay, tapi memang reward terhadap diri sendiri itu perlu). Entah itu reward nya makan-makan di mall, nonton di bioskop, dll. Sebetulnya yang sederhana-sederhana aja udah bikin aku bersemangat lagi. 

Makin hari semakin menyadari bahwa aku sepertinya kurang bisa mendidik Khansa sendiri (kalau LDM kan tidak ada kontak fisik antara ayah dan anak setiap hari). Sebenarnya orang bebas berpendapat sesuai dengan keyakinan dan kondisi masing-masing ya kan. Sebetulnya tak ada yang salah mendidik anak ketika LDM atau tidak selagi orang tuanya dapat berkomunikasi dan memiliki kesepakatan-kesepatakan untuk mendidik dengan jarak jauh. Tapi, yang aku rasakan aku belum bisa memenuhi itu. Komunikasi perbedaan waktu menjadi tantangan buatku, apalagi suami pulang cuti dalam 3 bulan sekali (meski ga terasa waktu 3 bulan itu).

Aku terus memikirkan bagaimana jika aku ikut suami saja???? Apalagi ditambah keadaan saat itu tempat tinggal suami bersebelahan dan dipakai untuk karantina covid-19. Kupikir saatnya ini adalah waktu yang tepat untuk kembali bersama mendidik Khansa yang akan memasuki usia 3 tahun, dimana masa yang butuh perhatian juga dari ayahnya untuk lebih mengoptimalkan perkembangan Khansa. 

Qadarullah, kisah covid-19 yang aku takuti, terjadi padaku, Khansa, dan wa Entin. Begitulah kisahnya, sebetulnya panjang banget, tapi apapun yang terjadi, itu pasti kehendak-Nya, dan kami tak bisa lari dari itu. Alhamdulillahnya, meski begitu, kami baik-baik saja. :') Masya Allah.. 

Setelah itu, pertengahan 2021, barulah keluarga kecilku pindah ke Papua. 


- 2022

Banyak pelajaran yang aku ambil. Hidup bersama suami seru juga. Eh ternyata makin betah, tapi ya meski di sini hanya hutan, banyak teman kok, semuanya menginspirasi. Alhamdulillah 'ala kullihaal.


_bersambung_ 

Selasa, 01 Januari 2019

Perjuangan Pasangan LDM

 

Menjadi seorang istri itu ternyata tidaklah mudah. Bukan hanya dengan adanya pernikahan, kita menjadi lega, melainkan waspada terhadap tantangan yang akan datang di kemudian hari bersama pasangan kita. Kisahku menikah ketika berkuliah di semester 5 merupakan patut direnungkan. Pasti adanya godaan yang datang apalagi saat masih aktif berorganisasi. Syukurku setelah menikah, suami mengizinkan aku untuk melanjutkan organisasi di kampus. Aku dan suami ditakdirkan untuk LDM (long distance married), pada saat itu aku berkuliah di Bandung dan suami kerja di Kuala Kencana – Papua. Usiaku dan suami berbeda tiga tahun. Selama aku menikah diusia tergolong muda, yaitu 20 tahun, tapi tidak ada salahnya untuk terus belajar menjadi pribadi yang dewasa. Perjuangan menjadi pasangan LDM itu membuatku mengerti bahwa kebersamaan suami istri haruslah berkualitas. Bagaimana cara kita untuk menjalankan quality time bersama suami pada saat masa cuti, apalagi cuti yang diberikan yaitu tiga minggu, namun disyukuri sajalah. Tinggal kita mengatur strategi bahwa pertemuan yang singkat itu dijadikan bermakna bagiku dan suamiku.

Suamiku adalah seorang pria yang memiliki cara tersendiri untuk mengatur hidupnya dan terorganisir, serta aku harus taat mengikuti sistem yang dibuat suami untuk mengatur hidupnya, contohnya aku diajarkan oleh suamiku membuat: (1) proposal kebutuhan harian-bulanan (dikarenakan kami berhubungan jarak jauh, suami memintaku untuk membuat proposal agar kebutuhan terpantau dan terpenuhi). Isi dari proposal tersebut yaitu berupa kebutuhan harian seperti belanja bahan makanan untuk sehari-hari sampai alat mandipun dicatat, barulah ditotalkan estimasi harga dan pengeluaran yang ditulis olehku pada akhir bulan, lalu kami evaluasi. Awalnya berat untuk melakukan semua itu, namun ya inilah yang harus kulalui dan belajar untuk mengatur kebutuhan rumah tangga, dan Alhamdulillah terbiasa; (2) aku diajarkan untuk membuat schedule time selama suami cuti, dari kurang lebih tiga minggu cuti, aku dan suami berdiskusi dan menulis catatan untuk merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan pada masa cuti tersebut, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Untuk urusan kegiatan dadakan, kami menyesuaikan, karena kami hanya bisa merencanakan, namun Allah Swt. yang menentukan; (3) aku diajarkan membuat pos-posan, seperti pos emergency, pos bulanan suami-istri, pos investasi, pos infaq, dan lain-lain; (4) . ; dan 5) aku disarankan untuk menjadi full time mommy oleh suamiku.     

Selasa, 08 Mei 2018

Tak Perlu Kau Unfriend


Kita semua mempunyai perasaan nyaman dengan orang lain, menyadari bahwa kita harus menikmatinya. Ada saatnya ketika kita memulai hidup yang baru, contohnya pada awal SMP-SMA-kuliah, pasti bertemu dengan orang yang berbeda-beda.

Orang yang kita anggap nyaman, nikmatilah di masa itu.. karena kita tak tahu, orang yang akan kita jumpai di masa depan itu mungkin berbeda.. Saya tidak membicarakan tentang pacaran, namun tentang sahabat yang berubah rasa menjadi ‘suka’. Memang terlalu sulit ketika kita sedang berada pada masa pubertas. Ini berarti pentingnya menghadapi tantangan namun kita tidak meninggalkan zona agama kita. Dimana kita mengharapkan seseorang menjadi pasangan hidup, maka banyak berdoalah.. Terkadang, orang yang tebar pesona akan kalah dengan orang yang pendiam dalam hal mengungkapkan perasaannya.

Hingga akhirnya, terkadang kita tak perlu menjauhkan diri apabila harapan itu pupus. Kita perlu berdoa agar meminta yang lebih baik dan berdoa agar orang yang kita harapkan itu bahagia dengan orang lain. Memang ikhlas tak mudah untuk dirasakan, namun kita memiliki akal sehat bahwa itu sudah kehendak Allah Swt. ada rasa ‘menerima’ apa yang terjadi walaupun pahit, itu dapat dikatakan ikhlas, tapi butuh berteman dengan proses, maka nikmatilah proses itu.

Ada rasa sakit hati, kecewa, marah, dan pada akhirnya unfriend-unfollow-hapus nomor telepon. Ya saya merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain ketika bermove-on dan pasti ada orang yang jika ingin melupakan atau mengikhlaskan seseorang itu perlu unfriend, hapus nomor, dan lain-lain. Menurut saya pribadi, untuk apa? Biarlah ia menjadi kenangan. Tak perlu kau unfriend-unfollow karena mereka pernah membuatmu bahagia. Ingatlah ketika mereka menemani kita saat orang lain menjauh.

Yang digarisbawahi adalah mengikhlaskan ‘rasa suka/cinta’ pada orang tersebut, tak perlu kau unfriend/unfollow mereka. Berhubungan baik dengan orang yang pernah kita sukai adalah kita mulai menerima apa yang terjadi kan? Silaturrahminya dapet, pahala ikhlasnya dapet, motivasi untuk menjadi lebih baiknya dapet. Bukankah begitu? ^_^

Minggu, 11 Maret 2018

Ternyata Menikah pada saat Kuliah itu ………….


Ada saatnya ketika kita selama kuliah dibanjiri dengan pertanyaan “abis kuliah mau kerja di mana? Abis kuliah langsung nikah ya?”. Terlintas, orang tua pasti ingin anaknya sukses dengan mencari-cari pekerjaan yang pantas untuk anaknya. Terkadang ada yang terlupakan, walaupun kita tak boleh berandai-andai, tapi kita harus bisa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terjadi pada hari esok agar kita tidak tiba-tiba mengambil langkah yang kurang tepat. Misalnya, ketika orang tua memikirkan cita-cita anaknya pada saat kuliah, apalagi anaknya perempuan gitu yah hehe. Zaman sekarang ada orang yang mengambil langkah pacaran dahulu, perkenalan lebih jauh dahulu, dan lain-lain. Saat ini pun banyak laki-laki yang melamar ketika si perempuannya “masih kuliah”. Orang tua harus tahu bagaimana cara untuk menyikapi kalau-kalau ada yang melamar/anaknya ingin menikah. Saya merasakan apa yang dirasakan orang tua saya ketika ada laki-laki yang melamar saya, pasti bingung, takut, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menikah pada saat usia anaknya masih terhitung muda untuk menikah. Saya merasakan ketakutan Mama seperti khawatir dengan menikah muda nanti berujung perceraian, tidak melanjutkan kuliah, atau memilih mengurus anak dahulu sebelum berkuliah (rezekinya punya anak), dan lainnya. Sayapun terkadang memikirkan seperti apa yang Mama pikirkan kok, tapi ya itu kembali lagi kepada kita yang merasakannya nanti. Yang digarisbawahi adalah melihat sosok laki-laki yang melamarnya. Sebelum menyetujui lamaran, pastikan apa yang ditakutkan itu diutarakan kepada si calon suami, seperti kesepakatan bahwa setelah menikah itu kuliah tetap berjalan atau kesepakatan lainnya. Kalau calon suami “meng-iyakan”, itulah insyaaAllah menjadi takdirmu. Paling utama adalah melihat akhlak dan tanggung jawab si calon suami. Yang akhlaknya baik, insyaaAllah hablumminallah dan hablumminannasnya baik.
Kembali lagi, apabila ada laki-laki yang melamarmu pada saat kuliah dan kita menyetujui lamaran itu, kita harus tahu konsekuensi-konsekuensi apa saja yang akan diperoleh, ya harus belajar dari sekarang bagaimana untuk menyikapi persoalan. Contohnya bila sudah menikah, kita (istri) berada di bawah naungan suami £acieee, jadi ke mana-mana atau mengerjakan sesuatu itu istri harus izin dahulu. Buatku, organisasi pada saat bersekolah (SMP-SMA-kuliah) itu sangat menyenangkan, kita bisa dengan mudah berinteraksi dengan teman-teman, bahkan yang berbeda angkatan dan jurusan, namun setelah menikah ya yang saya rasakan sih “perasaan sangat menyenangkan untuk organisasi” itu agak menurun karena ya banyak pertimbangan dan pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi jangan takut juga bila kita menikah, tingkat pertemanan dengan orang lain menurun. Teman yang baik akan menjaga dan menghargai kita.
Saya di sini ingin berbagi cerita tentang apa yang saya rasakan yaitu menikah ketika kuliah, tidak banyak sih, tapi intinya saja hehe. Saya menjalani pernikahan ini rasanya nano-nano lah yaaa. Haha. Siapa yang mau setelah menikah harus LDR (hubungan jarak jauh)? Tetapi yaaa tahun demi tahun, rintangan demi rintangan harus dijalani, dan sekarang Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah, sangat berterima kasih kepada suami, orang tua, keluarga besar, sahabat, dan semua pihak yang mendukung, menemani, dan membantu dalam menyelesaikan studi S-1 Bimbingan dan Konseling ini. Jarak 2,5 tahun LDR dengan suami itu terbayar dengan wisuda. 4,5 tahun perjuangan orang tua dalam doa yang selalu dipanjatkan agar anaknya sukses. Ketakutan-ketakutan orang tua dan saya rasakan dulu, Alhamdulillah sudah dilalui dan terbayar dengan lulusnya diriku dengan status sudah menikah :’). Sekarang, saya ikut suami ke Papua. Jadi ingat waktu dulu sering ngeluh, jauh beneeeeerrrr LDR dengan suami, Bandung-Papua. :’)
Kejadian-kejadian yang ditakutkan bisa saja terjadi, namun tergantung kita untuk menyikapi dan menjalani rintangan tersebut. Apakah kita menyerah? Atau berjuang dalam keterbatasan? (Keterbatasan di sini dimaksudkan LDR yang tidak bisa sepenuhnya bareng-bareng dengan suami, hehe). Ternyata menikah selama kuliah itu tidak menakutkan yang dibayangkan (menurutku). Jadikan proses itu sebagai pendewasaan bagi kita agar menjalaninya lebih sabar, tawakkal, tentunya selalu mengingat Allah, ada Allah setiap langkah kita. Tidak perlu takut, yakinkan pada diri dan serahkan semuanya pada Allah apapun yang terjadi.   
(Ketika kuliah, selalu ada rasa ingin dibantuin mengerjakan tugas kuliah, skripsi, dan lain-lain dengan suami dan pasti ingin selalu dekat dengan suami. Tapi, tantangannya, kita dituntut untuk mandiri. Bersiap-siap aja yaaa, kita dituntut lebih m-a-n-d-i-r-i. Terlebih kalau tantangannya LDR T.T)