Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2026

Deep Talk bersama Suami

 


1. Selalu perbaiki cara komunikasi, selalu konfirmasi apakah pasangan sudah mendengar apa yang disampaikan. Jika ingin istirahat atau meminta tolong, komunikasikanlah. 

2. Menjadi diri sendiri sesuai dengan porsinya. Tidak takut akan kelemahan dan tidak terlalu bangga akan kelebihan. 

3. Tidak mengapa kita disalahpahami orang lain, toh itu di luar kendali kita. Justru saling menguatkan saja. Ubah respons kita menjadi terhubung dengan Sang Pencipta. 

4. Open minded. Mengenal berbagai macam karakter. Dari Sabang sampai Merauke, karakter bahasa, suku, kebiasaan semuanya berbeda. Lalu menerima perbedaan sampai tidak dimasukkan ke dalam hati.

5. Melatih empati dengan kadar yang sesuai. Kurang empati ya jangan sampai, tinggi empati juga kadang menyesakkan, sehingga mengorbankan diri sendiri juga menjadi madhorot. Jadi, secukupnya saja. Hargai perkembangan sekecil apapun.

6. Dzikir penenang jiwa. Terlepas ujian atau goncangan hati, solusinya ada di dalam Al Quran, tilawah dan tilawah. Jika belum sempat, maknai sesuatu yang di Istighfari (melihat anak sangat aktif sampai capek bathin) itu adalah sebuah amal berdzikir mengingat Allah. Lebih baik sambil berbaik sangka dan berdoa yang baik-baik. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illAllah sambil melihat hal-hal yang tidak enak. Yakin kalau kita diuji agar menaikkan derajat kita di sisi Allah.

7. Validasi perasaan, lalu mengakui kesalahan, mau berubah, setelah itu bangkit lagi. 

8. Pilih prioritas dahulu agar bisa fokus (apalagi kalau kita memiliki anxiety). 

9. Jalani saat ini dengan sadar dan mindfulness, yakin sesuatu yang terjadi itu atas izin-Nya, dan akan terlewati. 

10. Perbaiki niat. Sedikit atau banyaknya aktivitas, niatkan semoga berkah. Berkah dalam ke segala arah, bukannya kita banyakin kegiatan malah menjadi tidak karuan karena kelelahan, sehingga anak menjadi korban kemarahan kita. 

11. Sesuatu yang tak bisa diubah, biarkan Allah yang mengurusnya (tentunya dibarengi dengan ikhtiar).

12. Yakinlah rencana Allah lebih indah.

13. The power of Doa orang tua. Saling mengabari, menanyakan kabar (kalau jauh), dan minta doa.

14. Kelola emosi. Emosi bukan hanya emosi marah, kelola emosi sedih sehingga tidak terlalu dalam, senang juga jangan sampai terlalu dalam sehingga kita lupa akan kasih sayang-Nya.

15. Meyakini diri tidak sempurna, makanya butuh solusi dan masukan-masukan.


=> Menulis ini bukan berarti kita lebih baik dari pasangan atau orang lain, kami masih belajar ^_^


Jumat, 05 Desember 2025

Bertumbuh dalam Harmoni Kepercayaan

 


            Bertumbuh di sini dimaknai bertambahnya pendewasaan diri. Melihat diri ini masih berproses dan perjalanan masih panjang. Kata dewasa itu dapat dilihat melalui bagaimana kita bersikap dan berbuat tentang hidup ini, bagaimana kita menerima dan seperti apa respon kita apapun yang terjadi.

            Seperti halnya saat awal pindah dari Tasikmalaya ke tanah Papua pada tahun 2021 sampai saat ini karena ikut suami kerja. Terkadang saya mengalami culture shock, karena di sini terdapat beragam suku dan budaya, bahkan agama. Namun, lambat laun saya mulai mengenal karakter dan menghormati keberagaman itu. Jika membicarakan keberagaman, kita menjadi tahu dan menjadi open minded, bahkan membuka wawasan bahwa ternyata keberagaman itu indah. Di situlah mulai bertumbuh.

   Awal kisah memang perjuangan sekali merantau ke Papua. Mengandalkan Bismillaahirrahmaanirrahiim dan Laahaula walaa quwwata illa Billah, saya dan suami sepakat untuk hidup bersama di sini. Memang tak mudah, tapi saya yakin InsyaaAllah ada jalan dan semoga dipermudah bahkan dikuatkan oleh Allah. Memahami rasa Syukur yang mendalam itu berproses di sini. Allah memberikan ujian agar kita bisa bertumbuh. Entah itu melalui suka, duka, tantangan, dan airmata. Namun, yang harus diyakini adalah Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ada saja pertolongan Allah yang tanpa kita sadari dan akhirnya kita memikirkan “oh.. maksud Allah itu seperti ini, sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Yang tadinya merasa selalu cemas, Alhamdulillah perlahan bisa tenang menghadapi apapun. Yang penting bersama pasangan (hehe). Bersama merasakan pengalaman pahit manisnya hidup berkeluarga di perantauan tanpa adanya orang tua dan keluarga besar.

            Barulah kami merasakan apa itu harmoni “kepercayaan”. Akan ada esok hari tantangan demi tantangan yang dihadapi dan bergantung pada-Nya, percaya pada-Nya.

1.      * Kepercayaan bahwa ada Allah Swt. yang sudah mengatur semuanya.

Tinggal kita berikhtiar dan berdoa. Tentu Allah hadirkan orang-orang yang membersamai kita, dengan beragam karakter di dalamnya untuk kita percayai bahwa kita adalah manusia biasa. Yang ingin hidup tenang dan menikmati proses yang ada. Yang tadinya memikirkan penyesalan, sekarang mengubah mindset “oh, ini terjadi atas izin-Nya”. Berdoa adalah senjata paling ampuh. Doa jalur langit, dan yakin bahwa di mana ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Saya banyak mengalami miracle di perantauan ini. Bahwa saya adalah manusia biasa yang banyak dosa dan banyak mengeluh, tapi Allah selalu tolong dalam bentuk apapun. Kasih sayang-Nya tak pernah putus. Semakin yakin harus melibatkan Allah dalam segala urusan. Tuntun dan bimbing kami Ya Allah..

Hayati, nikmati, syukuri semua prosesnya, karena Allah hadirkan kisah untuk menumbuhkan kualitas diri. Allah hadirkan tantangan agar naik level dan menguji kita apakah kita akan bersabar atau tidak. Semakin dekat atau semakin menjauh dengan Allah. Itu semua pilihan. Dan Allah Maha Tahu segala isi hati.

2.      * Kepercayaan pada diri sendiri

Yakin terhadap diri sendiri bahwa kita mampu untuk menjalaninya, tanpa perlu pembuktian. Akan ada suatu keajaiban jika kita berusaha dan berserah pada-Nya. Hanya bisa memohon untuk “mampukan diri ini Yaa Allah” untuk menikmati proses, menghadapi kehidupan, dan takdir. Berusaha memaafkan luka masa lalu tanpa menyalahkan keadaan dan buka lembaran baru, serta keyakinan baru. Menyibukkan diri untuk terus menjadi lebih baik setiap harinya. Pasti Allah memberikan ujian agar kita memetik hikmahnya.

Firman Allah pun berkata dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 yaitu “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak akan memberikan beban atau ujian kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan kita. Bukti bahwa Allah menyayangi kita, maka kita pun harus percaya pada diri sendiri bahwa kita bisa melalui itu semua. Allah bersama kita.

Untuk tahun ini 2025, banyak momen yang di luar rencana, khususnya berdamai dengan diri sendiri. Atur saja semuanya Ya Allah. Alhamdulillah Allah siapkan rencana lainnya yang lebih indah ternyata :’) Wahai diri, terima kasih sudah survive di setiap episodenya. Sangat terharu dengan diri ini yang masih tak menyangka. Benarkah saya sudah melewati 4 tahun di perantauan?

Kita harus yakin, dibalik kesukaran ada kemudahan, dan harus yakin Allah ada bersama kita. Di saat saya harus bisa menyetir mobil dalam keadaan mendesak untuk antar-jemput anak-anak, karena di Papua ini tidak mengenal waktu hujan. Tiba-tiba saja. Itu semua saya harus kuat dan tahan banting di sini. Mengingat suami makin sibuk bekerja dan tempatnya semakin jauh. Di sisi lain, Alhamdulillah ternyata keyakinan untuk percaya diri ini dikuatkan dan digerakkan Allah. Tak lupa ada ridho suami juga di dalamnya, maka Allah juga permudah jalannya. Banyak saudara rantau yang membantu untuk melancarkan belajar mobil ini. Sungguh haru. Berkali-kali diri ini ditolong oleh-Nya. Nikmat apa lagi yang telah kudustakan? Tak menyangka ternyata Alhamdulillah saya bisa dan banyak keajaiban lainnya.

Jika saya berada di Tasik yang penuh dengan kenikmatan, keperluan apapun bisa cepat dan dekat, bisa meminta tolong kepada orang tua, makan gofood, dan lainnya. Itu semua dilakukan bukan karena manja, tapi karena kurang percaya diri bahwa setiap manusia bisa melakukan segala hal, meskipun ada kekurangannya. Di Papua sini harus segala diurus sendiri. Masak harus sendiri, kangen cemilan Sunda ya masak sendiri, namun di situlah Allah tumbuhkan kepercayaan diri ini.

Saya berusaha memiliki kendali dan batas agar tidak mudah stress. Salah satunya dengan mengurangi ekspektasi dan berharap kepada manusia. Alhamdulillahnya, di Papua adalah warga pendatang yang baik-baik, solidaritasnya tinggi dalam menolong hal apapun. Lagi-lagi Allah tolong dan hadirkan mereka untuk merajut kisah suka dukanya di perantauan. Setiap momennya akan selalu dikenang dan ambil hikmahnya, tapi kembali lagi Allah-lah sebaik-baik Penolong.

 

3.      * Percaya bahwa doa orang tua menembus langit.

The power of doa orang tua. Setiap hari tak lupa video call. Obrolannya macam-macam dan pasti terselip doa, apapun itu. Dalam tahajudnya, dalah dhuhanya, dalam puasanya, pasti meminta kebaikan-kebaikan anaknya dalam menjalani hidup. Dan itu semua saya rasakan di rantau ini. Meski ada tawa, tapi ada juga rasa kerinduan di dada yang tertumpah dalam sajadah mereka. Alhamdulillah sampai detik ini saya berusaha menikmati prosesnya hidup di perantauan. Salah satunya karena doa orang tua yang menembus langit menginginkan anaknya dalam keadaan sehat wal-afiat, meminta perlindungan-Nya, dan meminta kebaikan-kebaikan menghampiri kami.

Selasa, 01 Januari 2019

Perjuangan Pasangan LDM

 

Menjadi seorang istri itu ternyata tidaklah mudah. Bukan hanya dengan adanya pernikahan, kita menjadi lega, melainkan waspada terhadap tantangan yang akan datang di kemudian hari bersama pasangan kita. Kisahku menikah ketika berkuliah di semester 5 merupakan patut direnungkan. Pasti adanya godaan yang datang apalagi saat masih aktif berorganisasi. Syukurku setelah menikah, suami mengizinkan aku untuk melanjutkan organisasi di kampus. Aku dan suami ditakdirkan untuk LDM (long distance married), pada saat itu aku berkuliah di Bandung dan suami kerja di Kuala Kencana – Papua. Usiaku dan suami berbeda tiga tahun. Selama aku menikah diusia tergolong muda, yaitu 20 tahun, tapi tidak ada salahnya untuk terus belajar menjadi pribadi yang dewasa. Perjuangan menjadi pasangan LDM itu membuatku mengerti bahwa kebersamaan suami istri haruslah berkualitas. Bagaimana cara kita untuk menjalankan quality time bersama suami pada saat masa cuti, apalagi cuti yang diberikan yaitu tiga minggu, namun disyukuri sajalah. Tinggal kita mengatur strategi bahwa pertemuan yang singkat itu dijadikan bermakna bagiku dan suamiku.

Suamiku adalah seorang pria yang memiliki cara tersendiri untuk mengatur hidupnya dan terorganisir, serta aku harus taat mengikuti sistem yang dibuat suami untuk mengatur hidupnya, contohnya aku diajarkan oleh suamiku membuat: (1) proposal kebutuhan harian-bulanan (dikarenakan kami berhubungan jarak jauh, suami memintaku untuk membuat proposal agar kebutuhan terpantau dan terpenuhi). Isi dari proposal tersebut yaitu berupa kebutuhan harian seperti belanja bahan makanan untuk sehari-hari sampai alat mandipun dicatat, barulah ditotalkan estimasi harga dan pengeluaran yang ditulis olehku pada akhir bulan, lalu kami evaluasi. Awalnya berat untuk melakukan semua itu, namun ya inilah yang harus kulalui dan belajar untuk mengatur kebutuhan rumah tangga, dan Alhamdulillah terbiasa; (2) aku diajarkan untuk membuat schedule time selama suami cuti, dari kurang lebih tiga minggu cuti, aku dan suami berdiskusi dan menulis catatan untuk merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan pada masa cuti tersebut, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Untuk urusan kegiatan dadakan, kami menyesuaikan, karena kami hanya bisa merencanakan, namun Allah Swt. yang menentukan; (3) aku diajarkan membuat pos-posan, seperti pos emergency, pos bulanan suami-istri, pos investasi, pos infaq, dan lain-lain; (4) . ; dan 5) aku disarankan untuk menjadi full time mommy oleh suamiku.     

Minggu, 11 Maret 2018

Ternyata Menikah pada saat Kuliah itu ………….


Ada saatnya ketika kita selama kuliah dibanjiri dengan pertanyaan “abis kuliah mau kerja di mana? Abis kuliah langsung nikah ya?”. Terlintas, orang tua pasti ingin anaknya sukses dengan mencari-cari pekerjaan yang pantas untuk anaknya. Terkadang ada yang terlupakan, walaupun kita tak boleh berandai-andai, tapi kita harus bisa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terjadi pada hari esok agar kita tidak tiba-tiba mengambil langkah yang kurang tepat. Misalnya, ketika orang tua memikirkan cita-cita anaknya pada saat kuliah, apalagi anaknya perempuan gitu yah hehe. Zaman sekarang ada orang yang mengambil langkah pacaran dahulu, perkenalan lebih jauh dahulu, dan lain-lain. Saat ini pun banyak laki-laki yang melamar ketika si perempuannya “masih kuliah”. Orang tua harus tahu bagaimana cara untuk menyikapi kalau-kalau ada yang melamar/anaknya ingin menikah. Saya merasakan apa yang dirasakan orang tua saya ketika ada laki-laki yang melamar saya, pasti bingung, takut, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menikah pada saat usia anaknya masih terhitung muda untuk menikah. Saya merasakan ketakutan Mama seperti khawatir dengan menikah muda nanti berujung perceraian, tidak melanjutkan kuliah, atau memilih mengurus anak dahulu sebelum berkuliah (rezekinya punya anak), dan lainnya. Sayapun terkadang memikirkan seperti apa yang Mama pikirkan kok, tapi ya itu kembali lagi kepada kita yang merasakannya nanti. Yang digarisbawahi adalah melihat sosok laki-laki yang melamarnya. Sebelum menyetujui lamaran, pastikan apa yang ditakutkan itu diutarakan kepada si calon suami, seperti kesepakatan bahwa setelah menikah itu kuliah tetap berjalan atau kesepakatan lainnya. Kalau calon suami “meng-iyakan”, itulah insyaaAllah menjadi takdirmu. Paling utama adalah melihat akhlak dan tanggung jawab si calon suami. Yang akhlaknya baik, insyaaAllah hablumminallah dan hablumminannasnya baik.
Kembali lagi, apabila ada laki-laki yang melamarmu pada saat kuliah dan kita menyetujui lamaran itu, kita harus tahu konsekuensi-konsekuensi apa saja yang akan diperoleh, ya harus belajar dari sekarang bagaimana untuk menyikapi persoalan. Contohnya bila sudah menikah, kita (istri) berada di bawah naungan suami £acieee, jadi ke mana-mana atau mengerjakan sesuatu itu istri harus izin dahulu. Buatku, organisasi pada saat bersekolah (SMP-SMA-kuliah) itu sangat menyenangkan, kita bisa dengan mudah berinteraksi dengan teman-teman, bahkan yang berbeda angkatan dan jurusan, namun setelah menikah ya yang saya rasakan sih “perasaan sangat menyenangkan untuk organisasi” itu agak menurun karena ya banyak pertimbangan dan pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi jangan takut juga bila kita menikah, tingkat pertemanan dengan orang lain menurun. Teman yang baik akan menjaga dan menghargai kita.
Saya di sini ingin berbagi cerita tentang apa yang saya rasakan yaitu menikah ketika kuliah, tidak banyak sih, tapi intinya saja hehe. Saya menjalani pernikahan ini rasanya nano-nano lah yaaa. Haha. Siapa yang mau setelah menikah harus LDR (hubungan jarak jauh)? Tetapi yaaa tahun demi tahun, rintangan demi rintangan harus dijalani, dan sekarang Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah, sangat berterima kasih kepada suami, orang tua, keluarga besar, sahabat, dan semua pihak yang mendukung, menemani, dan membantu dalam menyelesaikan studi S-1 Bimbingan dan Konseling ini. Jarak 2,5 tahun LDR dengan suami itu terbayar dengan wisuda. 4,5 tahun perjuangan orang tua dalam doa yang selalu dipanjatkan agar anaknya sukses. Ketakutan-ketakutan orang tua dan saya rasakan dulu, Alhamdulillah sudah dilalui dan terbayar dengan lulusnya diriku dengan status sudah menikah :’). Sekarang, saya ikut suami ke Papua. Jadi ingat waktu dulu sering ngeluh, jauh beneeeeerrrr LDR dengan suami, Bandung-Papua. :’)
Kejadian-kejadian yang ditakutkan bisa saja terjadi, namun tergantung kita untuk menyikapi dan menjalani rintangan tersebut. Apakah kita menyerah? Atau berjuang dalam keterbatasan? (Keterbatasan di sini dimaksudkan LDR yang tidak bisa sepenuhnya bareng-bareng dengan suami, hehe). Ternyata menikah selama kuliah itu tidak menakutkan yang dibayangkan (menurutku). Jadikan proses itu sebagai pendewasaan bagi kita agar menjalaninya lebih sabar, tawakkal, tentunya selalu mengingat Allah, ada Allah setiap langkah kita. Tidak perlu takut, yakinkan pada diri dan serahkan semuanya pada Allah apapun yang terjadi.   
(Ketika kuliah, selalu ada rasa ingin dibantuin mengerjakan tugas kuliah, skripsi, dan lain-lain dengan suami dan pasti ingin selalu dekat dengan suami. Tapi, tantangannya, kita dituntut untuk mandiri. Bersiap-siap aja yaaa, kita dituntut lebih m-a-n-d-i-r-i. Terlebih kalau tantangannya LDR T.T)





                                      

Selasa, 17 Mei 2016

SUKSES, KARIR, KELUARGA

            Sukses berarti tercapainya sesuatu yang kita kerjakan. Dinamakan sukses bukan hanya diartikan sebagai kaya, cerdas, dan lainnya. Kesuksesan kita berawal dari tercapainya pekerjaan yang kita cintai. Sukses dalam karir pun bermacam-macam, ada yang menganggap sukses jika jabatannya meningkat, maupun hal yang terkecil sekalipun seperti seseorang telah mengerjakan tugas dengan baik mengenai mata pelajaran/mata kuliah yang dia senangi.  Mengenai karir, tentu kita sering membahas ini di perkuliahan, bahkan perbincangan  orang lain. Karir itu kehidupan yang pasti. Menurutku, ibu yang hanya mengurus rumah tangga sudah dikatakan karir, karena seorang ibu mengurus semuanya tentang rumah tangganya. Berawal dari membina anak, memasak, menaati suami (suami adalah bos bagi istri, hehe), mengurus rumah agar dapat terawat dengan baik. Dalam membina anak pun kita harus selalu update, karena zaman sekarang itu perkembangan teknologi atau ilmu semacamnya sangat cepat. Jadi, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dirasakan sendiri oleh kita dan kita membantu anak untuk mencapai tugas perkembangannya. Jika kita diam atau terlalu sibuk, maka kita tertinggal. Ya, ini adalah pandanganku terhadap sukses dalam karir.
            dr. Lula Kamal, M. Sc. mengatakan “kejarlah apa yang membuat kamu bahagia” ketika kuliah umum Bimbingan dan Konseling di BPU kemarin (17/5). Membahas karir memang tak ada habisnya, Saya menuliskan ini diperuntukkan para istri atau perempuan yang sedang mengejar karir. Karir sangat boleh bagi perempuan, namun kembali lagi pada pandangan masing-masing. Yang terpenting, karir tidak membuat keluarga terbaring dalam kesunyian, maksudnya tidak peduli terhadap keluarga, yang diingat hanyalah kerjaan sampai lupa bahwa ada waktunya refreshing bersama keluarga. Jangan sampai keluarga menyesuaikan dengan pekerjaan, tetapi pekerjaan harus menyesuaikan dengan keluarga (Pribadi, 2016).
            Cintailah pekerjaanmu, maka kau akan bahagia. Biarpun penuh dengan tantangan dan air mata, maka kau akan merasakan hasilnya di kemudian hari, karena hasil takkan mengkhianati proses. Masa depan adalah hal yang akan kita hadapi. Jika kita mempunyai hobi, maka cintailah hobimu, secara kontinu, dan jangan berhenti. Jikalau hobimu menulis, maka cintailah tulisanmu, menulislah secara kontinu, tulislah hal-hal yang menyenangkan atau pun duka, yang mengandung hikmah di dalamnya. Kau cintai dengan hati.
            Keluarga adalah nomor satu (Kamal, 2016). Saya pun setuju dengan pendapat beliau. Karena keluarga adalah tempat kita berteduh. Jika kita lelah dengan pekerjaan, maka ingatlah ada keluarga yang menanti untuk menghiburmu. Walaupun ketika sukses dalam karir pun kita akan bahagia dan mengabari kepada keluarga dengan bangga, kepada keluargalah kita mengekspresikan apa yang kita rasakan. Semua ini, atas izin Allah. Allah yang telah melahirkan rasa sedih, rasa senang, rasa bangga, rasa syukur, dan sebagainya. Atas izin Allah pula kita masih berdiri diri bumi ini, dapat melihat postingan ini, dan dapat menghirup udara segar setiap hari. Sadarkah dirimu?

            Ketika kumenuliskan kata demi kata di sini, saya menjadi sadar bahwa kita jangan terlalu mencintai dunia ini, karena dunia ini fana. Akhiratlah yang akan kekal abadi di dalamnya dan “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya” (Hadits Riwayat Al-Hakim). Kita boleh mencintai apa yang ada di dunia ini, tapi tak lupa dengan akhirat. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya dan menjadikan kita orang yang selalu bersyukur atas apa yang Allah beri. Aamiin.. 

Senin, 07 Desember 2015

LDR

Akhir-akhir ini aku sedang sibuk dengan tugas mata kuliah dan organisasi. Belum terlirik akan menulis pada blog ini. Namun ya, secara tidak langsung, apapun kondisinya, aku harus menulis ini di sini. Ya, tak terasa olehku bahwa aku sudah mengarungi rumah tangga selama hampir dua bulan. Kutahu, kurasakan seperti inilah keadaan sesudah menikah. LDR pun sudah di depan mata, tak terbayangkan olehku jika aku memang sedang LDR dengan suamiku. Segala rasa yang aku lontarkan padanya, mau tidak mau, suamiku harus mengetahuinya.
Biarkan dia sedang mencari nafkah. Dalam perjuangannya, kuiringi doa untuknya. Bersamanya kuakan bertahan sekuat mungkin. Aku pun di sini berjuang untuk masa depan juga. Ya Allah, Bolehkah aku mencurahkan kebahagiaanku di sini? Nikmat-Mu tak terhitung Yaa Rabb.. Kau mempertemukan aku dengannya, syukurku pada-Mu.. Suami yang begitu taat pada orang tuanya dan orang tuaku, serta sayang pada saudaraku, semakin tumbuh cintaku padanya.
Yaa Rabb.. Tumbuhkanlah rasa cinta dan kasih sayang pada kami dengan ridho-Mu..


<3 Jaisyalmatin Pribadi

Senin, 12 Oktober 2015

Teman Sejati


Ketika lisanku sukar untuk berucap, badan merinding, dan berlinangan air mata membasahi pipiku. Ada sesosok laki-laki yang telah duduk di depanku yang sedang menghadap waliku. Mengucapkan janji suci yang membuat dunia ini gemetar, di hadapan Allah..
Oh Tuhan.. benarkah ini adalah sebuah pernikahan? Seperti inikah? Aku tak percaya takdirku sampai pada akhirnya umur 20 tahun untuk berumah tangga. Kini diriku yang belum sepenuhnya dewasa, ingin belajar bagaimana cara menghadapi kehidupan rumah tangga yang rumit menjadi mudah apabila diselesaikan bersama.

Cukup sudah penantianku terhadap seseorang selama ini.  Ternyata dia-lah orangnya, yang akan membimbingku, menemaniku, dan memberiku kasih sayang sebagai seorang suami di kala suka dan duka. Cukup sampai di sini, di hati ini kuberlayar untuk mencari pasangan yang menerimaku apa adanya.

Bismillah… Inilah takdirku, inilah pilihanku, inilah orangnya…. Tak disangka, kau bilang bahwa kau datang tepat pada waktunya. Ya, aku baru saja merasakan seperti ini sekarang. Telah banyak peristiwa yang tak terduga, yang benar-benar semakin kubersyukur pada-Mu Yaa Rabb.. :’)

Indahnya pacaran setelah menikah… tenang rasanya.. Pun aku dan dia sedang diuji kesetiaan dan kepercayaan.. Dia sedang bekerja untuk masa depan kami nanti. Ya, Kami ditakdirkan berpisah untuk sementara. Dia sedang fokus bekerja, aku pun sedang fokus kuliah. Kami seperti sedang berjalan masing-masing, namun kedekatan kami selalu di hati dan pikiran ini.


Perjuanganku untuk menjaga hati, memang tidak ada ujungnya. Godaan selalu ada, tetapi aku yakin, dengan niat tekad yang kuat, akan mengalahkan godaan itu. Teruslah perbaiki diri walaupun tak ada yang salah. Prinsipku, maafkanlah diri sendiri dan orang lain, itu membuat kita semakin tenang menjalani hidup ini. 

Jumat, 26 Juni 2015

Indahnya menjemput Ridho Orang Tua dengan Cinta..

Tahun ini, 2015.. Banyak sekali kejadian yang menarik dan berkesan bagi Saya. Kehidupan ini mengajari Saya untuk selalu bermuhasabah. Dari bulan Januari lalu, ketika Saya pulang ke rumah yang ada di Tasikmalaya, Saya dilamar oleh seorang laki-laki, tetapi Saya belum memutuskan lamarannya diterima atau tidak. Saya meminta waktu untuk memikirkannya. Saya tidak menyangka bahwa laki-laki itu membawa orang tua sekaligus untuk menanyakan kesiapan Saya untuk menikah. Lisan tak berucap, hati bergetar. Selalu bertanya-tanya, apakah ini benar? Secepat itukah? Apakah ini sebagian dari Rencana Allah?
Sebelumnya Saya sudah kenal dengan laki-laki itu pada lima tahun yang lalu, ketika  awal masuk SMA. Saya hidup dengan keluarga yang memprioritaskan agama dari pada yang lain, terutama Bapak Saya. Dengan ketegasan orang tua dan cara mendidiknya yang berperilaku demokratis, Bapak dengan ketegasannya namun diselimuti oleh kelembutannya, Mama dengan kekhawatiran (jika terjadi apa-apa) dan kasih sayangnya, membuat Saya sangat bersyukur memiliki keluarga utuh seperti ini.  Saya mempunyai prinsip pacaran setelah menikah, hal itu dibangun sejak Saya masih kelas 2 SMA. Saya berkomitmen untuk tidak pacaran terlebih dahulu, dan menginginkan langsung dilamar serta mempunyai target menikah diusia 22 tahun. Namun, Allah mempunyai rencana indah yang tak terduga. Saat ini Saya berumur 20 tahun dan orang yang melamar Saya adalah 23 tahun, serta sudah memiliki pekerjaan. Sangat tidak menyangka bahwa secepat inikah Saya menikah?  
         Orang tua Saya saat itu benar-benar bingung dan terkejut, baru saja tahun lalu kakak perempuan Saya menikah, kok tahun ini Saya dilamar? Apalagi Saya anak kedua dari dua bersaudara (bungsu). Terdapat pro dan kontra terhadap apa yang terjadi. Bapak Saya menganjurkan menikah diusia muda jika memang sudah mampu untuk menikah dan tidak ada masalah  jika putrinya menikah di saat kuliah. Namun, Mama Saya ketika itu belum setuju  jika Saya menikah di saat kuliah, karena Mama memaparkan kekhawatiran-kekhawatirannya kepada Saya, terutama khawatir jika Saya terganggu kuliahnya. Akhirnya kami sekeluarga berdiskusi tentang hal ini dan mencari jalan keluar yang terbaik. Saya menjelaskan seperti apa sosok laki-laki itu sepengetahuan Saya. Yang Saya ketahui, laki-laki itu berkepribadian baik, bertanggung jawab, dan Saya kagum terhadap dirinya yang shaleh. Lalu Saya merasa ada keunikan pada diri laki-laki itu yang membuat Saya semakin kagum, ketika dirinya mengatakan, “Saya menyukai Shofi, izinkan Saya untuk menikahi Shofi, dan Saya sudah beristikharah”. Bapak bercerita kepada Saya pada saat laki-laki itu datang sebelum lamaran. Bapak baru mengenalinya, sejak saat laki-laki itu menemui orang tua Saya tanpa sepengetahuan Saya. Pada akhirnya, Saya beserta orang tua terus melakukan istikharah, mencari ilham, mencari solusi, dan lain-lain.
Sejujurnya, baru kali ini Saya menemukan laki-laki yang seperti ini., mengungkapkan perasaan “suka” kepada Bapak Saya sendiri. Saya anggap laki-laki itu sangat gentle. Saya tidak mengira bahwa dirinya benar-benar serius dengan Saya. Laki-laki tersebut mempunyai prinsip yang sama dengan Saya, yaitu pacaran setelah menikah. Saya yakin, dirinya dapat menjaga diri, mempunyai konsep diri yang jelas, dan sangat hebat bahwa dirinya sudah meyakinkan orang tua Saya untuk menikah di tahun ini. Saya juga mengetahui bahwa sukarnya menghadap kepada orang tua perempuan pada zaman sekarang, apalagi Saya masih kuliah, tetapi tidak untuk laki-laki itu. Saya merasakan ada banyak jalan untuk menempuh ikatan yang suci itu. Setelah keluarga kami meminta waktu untuk memutuskannya, tiba-tiba Mama luluh atas kedatangan seorang laki-laki itu dengan niat baiknya, dan Saya pun merasa terdapat keyakinan bahwa Saya akan menikah dengannya, akan dibimbing olehnya, dan akan menjadi teman sejatinya di saat suka dan duka.  
Teringat apa yang telah dikatakan oleh dosen mata kuliah Dasar-dasar BK Keluarga (Ibu Dr. Hj. Euis Farida, M.Pd.) bahwa menikah itu lebih baik bukan didasarkan ‘nikahin aja, daripada zina’, padahal menikah itu untuk memelihara, menyempurnakan, dan pengabdian. Bukan ada ‘daripada’nya. Menikah itu tergantung dari kesiapan dan kematangan mental dan fisik untuk membangun keluarga, dan faktor ekonomi pun berpengaruh untuk kelangsungan hidup keluarga. Dalam hadits, seseorang bertanya kepada Hasan al-Bashri: “Saya memiliki seorang putri yang telah menginjak usia nikah, sudah banyak orang yang melamarnya, kepada siapakah saya harus menikahkannya?”. Hasan menjawab: “Nikahkanlah dia dengan seorang yang takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, sebab kalau dia mencintainya maka dia akan memuliakannya dan apabila dia marah maka dia tidak akan menzholiminya”.
Hadits tersebut berpandangan bahwa jika ada yang melamar, dan orang yang melamarnya itu berkepribadian baik dan shaleh, maka terimalah, sebelum menyesal di kemudian hari. Orang baik akan selalu membuat orang yang di sekitarnya bahagia, insyaAllah.
Setelah kami mendiskusikan jauh-jauh hari mengenai hal ini dengan keluarga besar, insyaAllah kami melaksanakan akad dan resepsi pernikahan setelah keponakan Saya menikah di bulan Juli tahun ini. Alhamdulillah kami mendapat jalan keluarnya dan itu adalah kami menerima lamaran tersebut. Tiga minggu kemudian, kami sekeluarga berniat untuk bersilaturrahmi dan memberikan keputusan atas lamaran itu. Bukannya Saya yang menginginkan menikah cepat, tetapi Allah yang menggerakkan hati Saya untuk menyempurnakan setengah agama sekaligus berusaha menjadi lebih baik untuk tabungan orang tua dan pastinya membahagiakan mereka kelak. Memang kita tak dapat mengelak ketentuan-Nya. Akhirnya, detik-detik lamaran itu terselesaikan. Barulah dirinya memberikan cincin emas putih yang bercorak love kepada Saya.
Saya terkejut ketika Mama menjadi semangat mengurus persiapan pernikahan untuk bulan-bulan yang akan datang. Sebelumnya, Mama merasa khawatir dan belum setuju untuk menikahkan Saya, tetapi setelah dilalui akhirnya Mama ridho, dan akan memiliki 4 orang anak. Hikmahnya, orang tua Saya menjadi ridho dan menerima calon menantunya karena sifat baik yang dimiliki oleh laki-laki tersebut. InsyaAllah jika berjodoh, akan sampai pada pelaminan, jika tidak, mungkin Allah mempersiapkan seseorang yang terbaik untuk Saya. Jodoh itu kalau sudah merasa pas di hati, lanjutkanlah ke jenjang yang lebih serius. Jadilah orang yang selektif dalam memilih. Apalagi teman hidup yang selalu mendampingi kita.
Kisah yang mengharukan juga, Alhamdulillah Saya mendapat beasiswa dari Pemprov. Jawa Barat pada tahun ini, padahal Saya mengajukan data-data beasiswa ketika tahun lalu ke Pemprov. Jawa Barat. Saya kira, Saya tidak mendapat beasiswa tersebut, namun di sela-sela hari yang penuh dengan kebimbangan, Allah menghadirkan kuasa-Nya yang tak terkira. Saya yakin ini adalah bagian dari rencana Allah dan pertanda Saya harus banyak bersyukur. Orang tua pun menangis haru dan syukuran ketika mendengar Saya mendapat beasiswa.  
Saya merasakan bahwa orang tua Saya memiliki sifat demokratis. Sebagaimana dijelaskan oleh Rif’an (2013, hlm. 66) bahwa tipe orang tua bisa bermacam-macam. Pertama, ada orang tua yang punya karakter demokratis. Ini seringkali berasal dari kalangan berpendidikan. Untuk menghadapi orang tua seperti ini perlu adanya dialog dengan logika yang baik. Ceritakan bagaimana kondisi saat ini di mana perilaku seks di kalangan anak muda yang sudah sangat memprihatinkan. Ceritakan kisah-kisah pernikahan yang sukses dilakukan oleh beberapa orang besar yang ternyata tidak menghalangi mereka untuk meraih prestasi yang tinggi. Kedua, tipe orang tua yang agamanya cukup baik. Untuk menghadapi orang tua dengan karakter ini, insyaAllah akan lebih mudah, karena mereka menyadari bahwa menikah adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Islam. Ketiga, tipe orang tua yang teguh dengan pendapat pribadinya dan senantiasa menganggap anaknya sebagai anak kecil yang belum mampu berpikir logis. Mereka sulit percaya bahwa anaknya bisa menjangkau pemikiran yang baik untuk masa depannya. Untuk menghadapi orang tua seperti ini, ajaklah orang-orang yang selama ini disegani oleh orang tua untuk menjelaskan tentang keinginan menikah, misalnya tokoh masyarakat, kakek, nenek, dan orang yang disegani oleh orang tua. Ceritakan tentang manfaat nikah di usia muda dan bahaya-bahaya yang bisa ditimbulkan akibat menunda pernikahan”. Inilah ungkapan dari penulis yang pro terhadap menikah di usia muda dan memberikan tips-tips untuk menghadapi orang tua ketika berkeinginan untuk menikah.     

Referensi :
Hadits Hasan al-Bashri.

Rif’an, Ahmad Rifa’i. (2013). Nikah Muda, Siapa Takut?. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 

Selasa, 03 Maret 2015

Catatan Kecil

Jika engkau ditakdirkan untukku, 
Akan kujadikan engkau pangeran di setiap perjalanan kehidupanku.. 
Menjadikan yang terakhir untukku,
Sampai senja itu menelan waktuku.. 


Bandung, 3 Maret 2015

Senin, 19 Januari 2015

Hikmah hari ini :)

Seseorang bertanya kepada Hasan al-Bashri: “Saya memiliki seorang putri yang telah menginjak usia nikah, sudah banyak orang yang melamarnya, kepada siapakah saya harus menikahkannya?”
Hasan menjawab: “Nikahkanlah dia dengan seorang yang takut kepada Alloh dan bertaqwa kepada-Nya, sebab kalau dia mencintainya maka dia akan memuliakannya dan apabila dia marah maka dia tidak akan menzholiminya”.