Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2026

Jatuh Cinta dengan-Nya Berkali-kali

 


Apa yang terjadi pada kehidupan ini, membuatku semakin takjub bahwa Allah Swt. memperlihatkan kuasa-Nya. Melalui kepahitan, luka masa lalu, dan kedamaian. Semua gejolak rasa singgah di waktu usia 30 tahun ini dan akan mengalami hal-hal yang Allah persiapkan. 

Sebetulnya, menarik sekali untuk bahas tentang psikologi manusia, bahwa potensi manusia memang besar dan beragam. Namun kita perlu mengenalnya, adanya ilmu psikologi ini hanya gambaran dan memperkuat maksud dari kitab Al Quran dan sunnah, bukan semata-mata ramalan yang tidak berdasar. Boleh mempelajari tapi tidak mengimani, seperti ilmu psikologi mengenai teori behavioristik, humanistik, dan semacamnya yang dari teori barat. Yang kita ambil adalah hikmahnya.

Banyak hal yang aku pelajari di perantauan ini khususnya tentang berteman atau bersosialisasi. Kita adalah makhluk sosial, tak akan terlewat dari prasangka manusia dan perhatian manusia. Melalui diamnya kita atau tingkah laku kita pasti bertemu hal-hal yang unik. Aku meyakini bahwa di manapun kita berpijak, lihatlah dari muhasabah diri dahulu dan memikirkan sebab akibat. Berpikir sebelum bertindak itu perlu, namun latihannya adalah waktu untuk berpikir. Ada yang berpikir secara mendalam atau hanya permukaan atau langsung action. Aku sangat menghargai orang yang langsung action karena memang jika bertemu dengan orang tersebut kita menjadi termotivasi. Begitupun sebaliknya, kita memiliki teman yang berpikir sebelum bertindak itu membawa kita untuk bermuhasabah diri. Orang akan saling tarik menarik dan saling menggantung. Memang secara mutlak kita harus menggantungkan diri dan berserah pada Allah Swt. itu yang utama. Makanya hikmah dari sholat 5 waktu itu kita perlu bertemu dengan-Nya, berbincang apa yang dirasakan dan harapan. Agar kita terhindar dari dosa dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Pada akhirnya Allah saja yang mengatur. Kita bagian untuk berusaha.

Ketika kita sedang bersedih, bayangkan Allah sedang mengusap air mata kita. Allah tidak akan tinggal diam dan semua waktu, ada dalam genggaman-Nya. Yakin saja. Betapa damainya merasakan dan meyakini kehadiran-Nya, apapun kejadian yang lalu dan sekarang, Allah sedang menguji dan mempersiapkan kejutan yang tak pernah kita sangka sebelumnya. Dan Allah sebaik-baik pemberi ketenangan. Tidak usah ragu dan pertolongan-Nya amat dekat jika kita terus mengingat Allah. Peluk aku Yaa Allah.. Tenangkan aku dengan cara-Mu.. Damaikan hatiku ketika kecemasan itu muncul Yaa Allah.. dan terima kasih atas rasa yang Engkau beri selama ini. Kekuatan dan keberpasrahan akan Qadha dan Qadar-Mu Yaa Allah. Bersyukur atas anugerah yang tiada habisnya kenikmatan berdua dengan-Mu, berpikir bahwa Engkaulah sebaik-baik pemberi balasan. Dan berdoa kepada Engkau adalah langkah terbaik sepanjang masa.

Berkali-kali aku jatuh dan sekaligus jatuh cinta lagi. Tidak terasa aku sudah sejauh ini melangkah. Jatuh bangun yang aku rasakan, semoga menjadi penyemangat untuk terus mencari-Mu dalam keadaan suka dan duka. Dalam kedamaian sejati. Selalu kuyakin dan kuucap bersyukur Alhamdulillaah ‘ala kullihaal. Jika aku salah, mohon luruskan Yaa Allah. Buat aku jatuh cinta pada-Mu berkali-kali betapa sangat indah kebesaran-Mu.


Selasa, 06 Januari 2026

Deep Talk bersama Suami

 


1. Selalu perbaiki cara komunikasi, selalu konfirmasi apakah pasangan sudah mendengar apa yang disampaikan. Jika ingin istirahat atau meminta tolong, komunikasikanlah. 

2. Menjadi diri sendiri sesuai dengan porsinya. Tidak takut akan kelemahan dan tidak terlalu bangga akan kelebihan. 

3. Tidak mengapa kita disalahpahami orang lain, toh itu di luar kendali kita. Justru saling menguatkan saja. Ubah respons kita menjadi terhubung dengan Sang Pencipta. 

4. Open minded. Mengenal berbagai macam karakter. Dari Sabang sampai Merauke, karakter bahasa, suku, kebiasaan semuanya berbeda. Lalu menerima perbedaan sampai tidak dimasukkan ke dalam hati.

5. Melatih empati dengan kadar yang sesuai. Kurang empati ya jangan sampai, tinggi empati juga kadang menyesakkan, sehingga mengorbankan diri sendiri juga menjadi madhorot. Jadi, secukupnya saja. Hargai perkembangan sekecil apapun.

6. Dzikir penenang jiwa. Terlepas ujian atau goncangan hati, solusinya ada di dalam Al Quran, tilawah dan tilawah. Jika belum sempat, maknai sesuatu yang di Istighfari (melihat anak sangat aktif sampai capek bathin) itu adalah sebuah amal berdzikir mengingat Allah. Lebih baik sambil berbaik sangka dan berdoa yang baik-baik. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illAllah sambil melihat hal-hal yang tidak enak. Yakin kalau kita diuji agar menaikkan derajat kita di sisi Allah.

7. Validasi perasaan, lalu mengakui kesalahan, mau berubah, setelah itu bangkit lagi. 

8. Pilih prioritas dahulu agar bisa fokus (apalagi kalau kita memiliki anxiety). 

9. Jalani saat ini dengan sadar dan mindfulness, yakin sesuatu yang terjadi itu atas izin-Nya, dan akan terlewati. 

10. Perbaiki niat. Sedikit atau banyaknya aktivitas, niatkan semoga berkah. Berkah dalam ke segala arah, bukannya kita banyakin kegiatan malah menjadi tidak karuan karena kelelahan, sehingga anak menjadi korban kemarahan kita. 

11. Sesuatu yang tak bisa diubah, biarkan Allah yang mengurusnya (tentunya dibarengi dengan ikhtiar).

12. Yakinlah rencana Allah lebih indah.

13. The power of Doa orang tua. Saling mengabari, menanyakan kabar (kalau jauh), dan minta doa.

14. Kelola emosi. Emosi bukan hanya emosi marah, kelola emosi sedih sehingga tidak terlalu dalam, senang juga jangan sampai terlalu dalam sehingga kita lupa akan kasih sayang-Nya.

15. Meyakini diri tidak sempurna, makanya butuh solusi dan masukan-masukan.


=> Menulis ini bukan berarti kita lebih baik dari pasangan atau orang lain, kami masih belajar ^_^


Jumat, 05 Desember 2025

Bertumbuh dalam Harmoni Kepercayaan

 


            Bertumbuh di sini dimaknai bertambahnya pendewasaan diri. Melihat diri ini masih berproses dan perjalanan masih panjang. Kata dewasa itu dapat dilihat melalui bagaimana kita bersikap dan berbuat tentang hidup ini, bagaimana kita menerima dan seperti apa respon kita apapun yang terjadi.

            Seperti halnya saat awal pindah dari Tasikmalaya ke tanah Papua pada tahun 2021 sampai saat ini karena ikut suami kerja. Terkadang saya mengalami culture shock, karena di sini terdapat beragam suku dan budaya, bahkan agama. Namun, lambat laun saya mulai mengenal karakter dan menghormati keberagaman itu. Jika membicarakan keberagaman, kita menjadi tahu dan menjadi open minded, bahkan membuka wawasan bahwa ternyata keberagaman itu indah. Di situlah mulai bertumbuh.

   Awal kisah memang perjuangan sekali merantau ke Papua. Mengandalkan Bismillaahirrahmaanirrahiim dan Laahaula walaa quwwata illa Billah, saya dan suami sepakat untuk hidup bersama di sini. Memang tak mudah, tapi saya yakin InsyaaAllah ada jalan dan semoga dipermudah bahkan dikuatkan oleh Allah. Memahami rasa Syukur yang mendalam itu berproses di sini. Allah memberikan ujian agar kita bisa bertumbuh. Entah itu melalui suka, duka, tantangan, dan airmata. Namun, yang harus diyakini adalah Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ada saja pertolongan Allah yang tanpa kita sadari dan akhirnya kita memikirkan “oh.. maksud Allah itu seperti ini, sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Yang tadinya merasa selalu cemas, Alhamdulillah perlahan bisa tenang menghadapi apapun. Yang penting bersama pasangan (hehe). Bersama merasakan pengalaman pahit manisnya hidup berkeluarga di perantauan tanpa adanya orang tua dan keluarga besar.

            Barulah kami merasakan apa itu harmoni “kepercayaan”. Akan ada esok hari tantangan demi tantangan yang dihadapi dan bergantung pada-Nya, percaya pada-Nya.

1.      * Kepercayaan bahwa ada Allah Swt. yang sudah mengatur semuanya.

Tinggal kita berikhtiar dan berdoa. Tentu Allah hadirkan orang-orang yang membersamai kita, dengan beragam karakter di dalamnya untuk kita percayai bahwa kita adalah manusia biasa. Yang ingin hidup tenang dan menikmati proses yang ada. Yang tadinya memikirkan penyesalan, sekarang mengubah mindset “oh, ini terjadi atas izin-Nya”. Berdoa adalah senjata paling ampuh. Doa jalur langit, dan yakin bahwa di mana ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Saya banyak mengalami miracle di perantauan ini. Bahwa saya adalah manusia biasa yang banyak dosa dan banyak mengeluh, tapi Allah selalu tolong dalam bentuk apapun. Kasih sayang-Nya tak pernah putus. Semakin yakin harus melibatkan Allah dalam segala urusan. Tuntun dan bimbing kami Ya Allah..

Hayati, nikmati, syukuri semua prosesnya, karena Allah hadirkan kisah untuk menumbuhkan kualitas diri. Allah hadirkan tantangan agar naik level dan menguji kita apakah kita akan bersabar atau tidak. Semakin dekat atau semakin menjauh dengan Allah. Itu semua pilihan. Dan Allah Maha Tahu segala isi hati.

2.      * Kepercayaan pada diri sendiri

Yakin terhadap diri sendiri bahwa kita mampu untuk menjalaninya, tanpa perlu pembuktian. Akan ada suatu keajaiban jika kita berusaha dan berserah pada-Nya. Hanya bisa memohon untuk “mampukan diri ini Yaa Allah” untuk menikmati proses, menghadapi kehidupan, dan takdir. Berusaha memaafkan luka masa lalu tanpa menyalahkan keadaan dan buka lembaran baru, serta keyakinan baru. Menyibukkan diri untuk terus menjadi lebih baik setiap harinya. Pasti Allah memberikan ujian agar kita memetik hikmahnya.

Firman Allah pun berkata dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 yaitu “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak akan memberikan beban atau ujian kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan kita. Bukti bahwa Allah menyayangi kita, maka kita pun harus percaya pada diri sendiri bahwa kita bisa melalui itu semua. Allah bersama kita.

Untuk tahun ini 2025, banyak momen yang di luar rencana, khususnya berdamai dengan diri sendiri. Atur saja semuanya Ya Allah. Alhamdulillah Allah siapkan rencana lainnya yang lebih indah ternyata :’) Wahai diri, terima kasih sudah survive di setiap episodenya. Sangat terharu dengan diri ini yang masih tak menyangka. Benarkah saya sudah melewati 4 tahun di perantauan?

Kita harus yakin, dibalik kesukaran ada kemudahan, dan harus yakin Allah ada bersama kita. Di saat saya harus bisa menyetir mobil dalam keadaan mendesak untuk antar-jemput anak-anak, karena di Papua ini tidak mengenal waktu hujan. Tiba-tiba saja. Itu semua saya harus kuat dan tahan banting di sini. Mengingat suami makin sibuk bekerja dan tempatnya semakin jauh. Di sisi lain, Alhamdulillah ternyata keyakinan untuk percaya diri ini dikuatkan dan digerakkan Allah. Tak lupa ada ridho suami juga di dalamnya, maka Allah juga permudah jalannya. Banyak saudara rantau yang membantu untuk melancarkan belajar mobil ini. Sungguh haru. Berkali-kali diri ini ditolong oleh-Nya. Nikmat apa lagi yang telah kudustakan? Tak menyangka ternyata Alhamdulillah saya bisa dan banyak keajaiban lainnya.

Jika saya berada di Tasik yang penuh dengan kenikmatan, keperluan apapun bisa cepat dan dekat, bisa meminta tolong kepada orang tua, makan gofood, dan lainnya. Itu semua dilakukan bukan karena manja, tapi karena kurang percaya diri bahwa setiap manusia bisa melakukan segala hal, meskipun ada kekurangannya. Di Papua sini harus segala diurus sendiri. Masak harus sendiri, kangen cemilan Sunda ya masak sendiri, namun di situlah Allah tumbuhkan kepercayaan diri ini.

Saya berusaha memiliki kendali dan batas agar tidak mudah stress. Salah satunya dengan mengurangi ekspektasi dan berharap kepada manusia. Alhamdulillahnya, di Papua adalah warga pendatang yang baik-baik, solidaritasnya tinggi dalam menolong hal apapun. Lagi-lagi Allah tolong dan hadirkan mereka untuk merajut kisah suka dukanya di perantauan. Setiap momennya akan selalu dikenang dan ambil hikmahnya, tapi kembali lagi Allah-lah sebaik-baik Penolong.

 

3.      * Percaya bahwa doa orang tua menembus langit.

The power of doa orang tua. Setiap hari tak lupa video call. Obrolannya macam-macam dan pasti terselip doa, apapun itu. Dalam tahajudnya, dalah dhuhanya, dalam puasanya, pasti meminta kebaikan-kebaikan anaknya dalam menjalani hidup. Dan itu semua saya rasakan di rantau ini. Meski ada tawa, tapi ada juga rasa kerinduan di dada yang tertumpah dalam sajadah mereka. Alhamdulillah sampai detik ini saya berusaha menikmati prosesnya hidup di perantauan. Salah satunya karena doa orang tua yang menembus langit menginginkan anaknya dalam keadaan sehat wal-afiat, meminta perlindungan-Nya, dan meminta kebaikan-kebaikan menghampiri kami.

Senin, 09 Desember 2024

Welcome Back My Notes

 Assalamualaikum.. Bagaimana kabarmu, blog-ku? Aku harap mulai saat ini aku benar-benar ingin menata kembali apa tujuanku untuk menulis di sini. Salah satunya untuk berbagi kisah dan sharing saja. 

Terkejut sekali diriku, terakhir kalinya aku menulis di sini pada tahun 2018. Ke mana saja diriku sampai saat ini? Aku akan bercerita dari tahun 2018 - 2022 dulu ya. Waktu yang sangat panjang, beragam kisah hidup yang sudah aku lewati bersama suami. Selama 6 tahun ini aku 'ngapain aja sih?'.

- 2018 

Di waktu ini, aku ikut suami ke Papua, dan entah kenapa aku saat itu ingin pulang ke rumah (Tasik). Ternyata, rencana Allah Swt. sangat indah ya (sambil flash back masa itu). Di mana aku Alhamdulillah diberi kepercayaan oleh-Nya untuk menjaga malaikat kecil di perutku. Yang aku ingat, saat aku baru mengetahui bahwa aku sedang hamil itu ketika terlambat datang bulan, dan itu di waktu bulan Ramadhan. Masyaa Allah :') Setelah mengetahuinya, aku cek kandungan di klinik ISOS tempat suamiku bekerja, dan Alhamdulillah bukti itu benar. Kondisiku sedang hamil 4 minggu (makin ingin segera pulang cuti). Namun, kami direkomendasikan jangan dulu naik pesawat ketika hamil muda, 'riskan' katanya. Padahal kami sudah merencanakan akan pulang cuti sebelum lebaran Idul Fitri.

Entah apa yang meyakinkan aku untuk bersi keras ingin pulang, tapi Bismillah saat itu kami sedang mencari jalan terbaik. Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap pulang cuti dalam keadaan aku hamil 4 minggu, dan meminta surat keterangan dokter bahwa aku sedang mengandung dan punya pegangan kalau dimintai surat keterangan. Ok fix, Lahaulaa walaa quwwata illa Billah.. kami pun dengan hati-hati melakukan segala sesuatu ketika penerbangan sampai tiba di rumah dan jika terjadi sesuatu, insyaa Allah aku ikhlas (pikiranku kala itu). Alhamdulillaaah.. Saat pulang cuti janinku kuat untuk naik pesawat. Dulu, kupikir takut pendarahan, dll. Ternyata atas izin Allah Khansa-ku bertahan. 

-2019

Awal tahun, kumerasa deg-degan tak karuan mungkin ya.. mendengar kata 'melahirkan', di saat aku sedang hamil masa akhir, dan aku mencari tempat-tempat untuk melahirkan. Dan akhirnya ku melahirkan di RS Jasa Kartini Tasikmalaya. Ditemani abah, nin, wa tini yang selalu mendampingiku. Suami saat itu sedang di perjalanan menuju Tasik. Yangti, mertuaku hadir di saat yang tepat. Saat detik-detik terakhir Khansa memperlihatkan dirinya di dunia, yangti langsung masuk dan memberiku kecupan manis agar aku semangat untuk melahikan malaikat mungil ini. Ah, kisah ter so sweet bareng yangti. Dimulai saat ini, aku dan suami benar-benar belajar mengasuh, merawat, mencintai Khansa, anak pertama kami. 

-2020

Tahun 2020 ini, kumenjalani sebagaimana mestinya orang tua merawat anaknya dengan kasih sayang. Ya, memang sebelumnya kami diberi tantangan untuk membesarkan Khansa di saat LDM. Rasanya nano nano lah yaaa. Semua ada sisi positif dan negatifnya sih. Dan Qadarullah tahun 2020 ini, banyak cobaan di dunia ini, salah satunya ada Covid-19 yang mulai terjadi di Indonesia. Rencana Allah pasti yang terbaik. Tidak mungkin Allah menciptakan virus tersebut tanpa ada maksud. Tentara-tentara Allah itu, membuat kita lebih menafakuri atas kebesaran-Nya. Dan sayangnya, saya terlalu was-was akan hal itu karena takut terjadi apa-apa pada si kecil Khansa yang baru berapa bulan. Dan akhirnya, Bismillaah... semoga bisa menghadapi apapun yang terjadi di tahun 2020. 

-2021

Ketika kupikir-pikir, sangat tak terasa waktu terus berlalu. Alhamdulillaah aku bisa melewati sedikit demi sedikit rintangan pada saat membesarkan Khansa. Belajar mengurus sendiri tanpa dibantu oleh wa Entin dan orang tua. Aku merasakan bahwa aku berhak memiliki reward (ini bukan maksud berbangga diri ya, tapi keyakinan agar aku lebih bersemangat lagi untuk mendidik Khansa berdasarkan kemampuanku. Dan mungkin ini terkesan lebay, tapi memang reward terhadap diri sendiri itu perlu). Entah itu reward nya makan-makan di mall, nonton di bioskop, dll. Sebetulnya yang sederhana-sederhana aja udah bikin aku bersemangat lagi. 

Makin hari semakin menyadari bahwa aku sepertinya kurang bisa mendidik Khansa sendiri (kalau LDM kan tidak ada kontak fisik antara ayah dan anak setiap hari). Sebenarnya orang bebas berpendapat sesuai dengan keyakinan dan kondisi masing-masing ya kan. Sebetulnya tak ada yang salah mendidik anak ketika LDM atau tidak selagi orang tuanya dapat berkomunikasi dan memiliki kesepakatan-kesepatakan untuk mendidik dengan jarak jauh. Tapi, yang aku rasakan aku belum bisa memenuhi itu. Komunikasi perbedaan waktu menjadi tantangan buatku, apalagi suami pulang cuti dalam 3 bulan sekali (meski ga terasa waktu 3 bulan itu).

Aku terus memikirkan bagaimana jika aku ikut suami saja???? Apalagi ditambah keadaan saat itu tempat tinggal suami bersebelahan dan dipakai untuk karantina covid-19. Kupikir saatnya ini adalah waktu yang tepat untuk kembali bersama mendidik Khansa yang akan memasuki usia 3 tahun, dimana masa yang butuh perhatian juga dari ayahnya untuk lebih mengoptimalkan perkembangan Khansa. 

Qadarullah, kisah covid-19 yang aku takuti, terjadi padaku, Khansa, dan wa Entin. Begitulah kisahnya, sebetulnya panjang banget, tapi apapun yang terjadi, itu pasti kehendak-Nya, dan kami tak bisa lari dari itu. Alhamdulillahnya, meski begitu, kami baik-baik saja. :') Masya Allah.. 

Setelah itu, pertengahan 2021, barulah keluarga kecilku pindah ke Papua. 


- 2022

Banyak pelajaran yang aku ambil. Hidup bersama suami seru juga. Eh ternyata makin betah, tapi ya meski di sini hanya hutan, banyak teman kok, semuanya menginspirasi. Alhamdulillah 'ala kullihaal.


_bersambung_ 

Selasa, 01 Januari 2019

Perjuangan Pasangan LDM

 

Menjadi seorang istri itu ternyata tidaklah mudah. Bukan hanya dengan adanya pernikahan, kita menjadi lega, melainkan waspada terhadap tantangan yang akan datang di kemudian hari bersama pasangan kita. Kisahku menikah ketika berkuliah di semester 5 merupakan patut direnungkan. Pasti adanya godaan yang datang apalagi saat masih aktif berorganisasi. Syukurku setelah menikah, suami mengizinkan aku untuk melanjutkan organisasi di kampus. Aku dan suami ditakdirkan untuk LDM (long distance married), pada saat itu aku berkuliah di Bandung dan suami kerja di Kuala Kencana – Papua. Usiaku dan suami berbeda tiga tahun. Selama aku menikah diusia tergolong muda, yaitu 20 tahun, tapi tidak ada salahnya untuk terus belajar menjadi pribadi yang dewasa. Perjuangan menjadi pasangan LDM itu membuatku mengerti bahwa kebersamaan suami istri haruslah berkualitas. Bagaimana cara kita untuk menjalankan quality time bersama suami pada saat masa cuti, apalagi cuti yang diberikan yaitu tiga minggu, namun disyukuri sajalah. Tinggal kita mengatur strategi bahwa pertemuan yang singkat itu dijadikan bermakna bagiku dan suamiku.

Suamiku adalah seorang pria yang memiliki cara tersendiri untuk mengatur hidupnya dan terorganisir, serta aku harus taat mengikuti sistem yang dibuat suami untuk mengatur hidupnya, contohnya aku diajarkan oleh suamiku membuat: (1) proposal kebutuhan harian-bulanan (dikarenakan kami berhubungan jarak jauh, suami memintaku untuk membuat proposal agar kebutuhan terpantau dan terpenuhi). Isi dari proposal tersebut yaitu berupa kebutuhan harian seperti belanja bahan makanan untuk sehari-hari sampai alat mandipun dicatat, barulah ditotalkan estimasi harga dan pengeluaran yang ditulis olehku pada akhir bulan, lalu kami evaluasi. Awalnya berat untuk melakukan semua itu, namun ya inilah yang harus kulalui dan belajar untuk mengatur kebutuhan rumah tangga, dan Alhamdulillah terbiasa; (2) aku diajarkan untuk membuat schedule time selama suami cuti, dari kurang lebih tiga minggu cuti, aku dan suami berdiskusi dan menulis catatan untuk merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan pada masa cuti tersebut, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Untuk urusan kegiatan dadakan, kami menyesuaikan, karena kami hanya bisa merencanakan, namun Allah Swt. yang menentukan; (3) aku diajarkan membuat pos-posan, seperti pos emergency, pos bulanan suami-istri, pos investasi, pos infaq, dan lain-lain; (4) . ; dan 5) aku disarankan untuk menjadi full time mommy oleh suamiku.     

Selasa, 08 Mei 2018

Tak Perlu Kau Unfriend


Kita semua mempunyai perasaan nyaman dengan orang lain, menyadari bahwa kita harus menikmatinya. Ada saatnya ketika kita memulai hidup yang baru, contohnya pada awal SMP-SMA-kuliah, pasti bertemu dengan orang yang berbeda-beda.

Orang yang kita anggap nyaman, nikmatilah di masa itu.. karena kita tak tahu, orang yang akan kita jumpai di masa depan itu mungkin berbeda.. Saya tidak membicarakan tentang pacaran, namun tentang sahabat yang berubah rasa menjadi ‘suka’. Memang terlalu sulit ketika kita sedang berada pada masa pubertas. Ini berarti pentingnya menghadapi tantangan namun kita tidak meninggalkan zona agama kita. Dimana kita mengharapkan seseorang menjadi pasangan hidup, maka banyak berdoalah.. Terkadang, orang yang tebar pesona akan kalah dengan orang yang pendiam dalam hal mengungkapkan perasaannya.

Hingga akhirnya, terkadang kita tak perlu menjauhkan diri apabila harapan itu pupus. Kita perlu berdoa agar meminta yang lebih baik dan berdoa agar orang yang kita harapkan itu bahagia dengan orang lain. Memang ikhlas tak mudah untuk dirasakan, namun kita memiliki akal sehat bahwa itu sudah kehendak Allah Swt. ada rasa ‘menerima’ apa yang terjadi walaupun pahit, itu dapat dikatakan ikhlas, tapi butuh berteman dengan proses, maka nikmatilah proses itu.

Ada rasa sakit hati, kecewa, marah, dan pada akhirnya unfriend-unfollow-hapus nomor telepon. Ya saya merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain ketika bermove-on dan pasti ada orang yang jika ingin melupakan atau mengikhlaskan seseorang itu perlu unfriend, hapus nomor, dan lain-lain. Menurut saya pribadi, untuk apa? Biarlah ia menjadi kenangan. Tak perlu kau unfriend-unfollow karena mereka pernah membuatmu bahagia. Ingatlah ketika mereka menemani kita saat orang lain menjauh.

Yang digarisbawahi adalah mengikhlaskan ‘rasa suka/cinta’ pada orang tersebut, tak perlu kau unfriend/unfollow mereka. Berhubungan baik dengan orang yang pernah kita sukai adalah kita mulai menerima apa yang terjadi kan? Silaturrahminya dapet, pahala ikhlasnya dapet, motivasi untuk menjadi lebih baiknya dapet. Bukankah begitu? ^_^

Minggu, 11 Maret 2018

Ternyata Menikah pada saat Kuliah itu ………….


Ada saatnya ketika kita selama kuliah dibanjiri dengan pertanyaan “abis kuliah mau kerja di mana? Abis kuliah langsung nikah ya?”. Terlintas, orang tua pasti ingin anaknya sukses dengan mencari-cari pekerjaan yang pantas untuk anaknya. Terkadang ada yang terlupakan, walaupun kita tak boleh berandai-andai, tapi kita harus bisa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terjadi pada hari esok agar kita tidak tiba-tiba mengambil langkah yang kurang tepat. Misalnya, ketika orang tua memikirkan cita-cita anaknya pada saat kuliah, apalagi anaknya perempuan gitu yah hehe. Zaman sekarang ada orang yang mengambil langkah pacaran dahulu, perkenalan lebih jauh dahulu, dan lain-lain. Saat ini pun banyak laki-laki yang melamar ketika si perempuannya “masih kuliah”. Orang tua harus tahu bagaimana cara untuk menyikapi kalau-kalau ada yang melamar/anaknya ingin menikah. Saya merasakan apa yang dirasakan orang tua saya ketika ada laki-laki yang melamar saya, pasti bingung, takut, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menikah pada saat usia anaknya masih terhitung muda untuk menikah. Saya merasakan ketakutan Mama seperti khawatir dengan menikah muda nanti berujung perceraian, tidak melanjutkan kuliah, atau memilih mengurus anak dahulu sebelum berkuliah (rezekinya punya anak), dan lainnya. Sayapun terkadang memikirkan seperti apa yang Mama pikirkan kok, tapi ya itu kembali lagi kepada kita yang merasakannya nanti. Yang digarisbawahi adalah melihat sosok laki-laki yang melamarnya. Sebelum menyetujui lamaran, pastikan apa yang ditakutkan itu diutarakan kepada si calon suami, seperti kesepakatan bahwa setelah menikah itu kuliah tetap berjalan atau kesepakatan lainnya. Kalau calon suami “meng-iyakan”, itulah insyaaAllah menjadi takdirmu. Paling utama adalah melihat akhlak dan tanggung jawab si calon suami. Yang akhlaknya baik, insyaaAllah hablumminallah dan hablumminannasnya baik.
Kembali lagi, apabila ada laki-laki yang melamarmu pada saat kuliah dan kita menyetujui lamaran itu, kita harus tahu konsekuensi-konsekuensi apa saja yang akan diperoleh, ya harus belajar dari sekarang bagaimana untuk menyikapi persoalan. Contohnya bila sudah menikah, kita (istri) berada di bawah naungan suami £acieee, jadi ke mana-mana atau mengerjakan sesuatu itu istri harus izin dahulu. Buatku, organisasi pada saat bersekolah (SMP-SMA-kuliah) itu sangat menyenangkan, kita bisa dengan mudah berinteraksi dengan teman-teman, bahkan yang berbeda angkatan dan jurusan, namun setelah menikah ya yang saya rasakan sih “perasaan sangat menyenangkan untuk organisasi” itu agak menurun karena ya banyak pertimbangan dan pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi jangan takut juga bila kita menikah, tingkat pertemanan dengan orang lain menurun. Teman yang baik akan menjaga dan menghargai kita.
Saya di sini ingin berbagi cerita tentang apa yang saya rasakan yaitu menikah ketika kuliah, tidak banyak sih, tapi intinya saja hehe. Saya menjalani pernikahan ini rasanya nano-nano lah yaaa. Haha. Siapa yang mau setelah menikah harus LDR (hubungan jarak jauh)? Tetapi yaaa tahun demi tahun, rintangan demi rintangan harus dijalani, dan sekarang Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah, sangat berterima kasih kepada suami, orang tua, keluarga besar, sahabat, dan semua pihak yang mendukung, menemani, dan membantu dalam menyelesaikan studi S-1 Bimbingan dan Konseling ini. Jarak 2,5 tahun LDR dengan suami itu terbayar dengan wisuda. 4,5 tahun perjuangan orang tua dalam doa yang selalu dipanjatkan agar anaknya sukses. Ketakutan-ketakutan orang tua dan saya rasakan dulu, Alhamdulillah sudah dilalui dan terbayar dengan lulusnya diriku dengan status sudah menikah :’). Sekarang, saya ikut suami ke Papua. Jadi ingat waktu dulu sering ngeluh, jauh beneeeeerrrr LDR dengan suami, Bandung-Papua. :’)
Kejadian-kejadian yang ditakutkan bisa saja terjadi, namun tergantung kita untuk menyikapi dan menjalani rintangan tersebut. Apakah kita menyerah? Atau berjuang dalam keterbatasan? (Keterbatasan di sini dimaksudkan LDR yang tidak bisa sepenuhnya bareng-bareng dengan suami, hehe). Ternyata menikah selama kuliah itu tidak menakutkan yang dibayangkan (menurutku). Jadikan proses itu sebagai pendewasaan bagi kita agar menjalaninya lebih sabar, tawakkal, tentunya selalu mengingat Allah, ada Allah setiap langkah kita. Tidak perlu takut, yakinkan pada diri dan serahkan semuanya pada Allah apapun yang terjadi.   
(Ketika kuliah, selalu ada rasa ingin dibantuin mengerjakan tugas kuliah, skripsi, dan lain-lain dengan suami dan pasti ingin selalu dekat dengan suami. Tapi, tantangannya, kita dituntut untuk mandiri. Bersiap-siap aja yaaa, kita dituntut lebih m-a-n-d-i-r-i. Terlebih kalau tantangannya LDR T.T)





                                      

Selasa, 07 November 2017

Penguatan Pendidikan Karakter


Dalam rangka Dies Natalis UPI yang ke-63 di Bandung (20/10) sangat ramai. Kehadiran peserta mencapai 2000 orang karena pendaftaran yang gratis, mendapatkan sertifikat, dan snack. Tetapi, bukan hanya itu yang kami inginkan. Niat kami ingin mencari ilmu dari adanya seminar tersebut. Untuk sertifikat dan snack gratis mah bonus lah yaaa. Hehe. Dihadiri oleh Dr. (HC) Popong Otje D. yang sering disapa Ceu Popong, Prof. Uman Suherman, M.Pd. selaku guru besar Bimbingan dan Konseling UPI, dan Dr. Bambang W. selaku wakil ketua KPK.
Menurut T. Ramli (2003) dalam Fathurrohman, dkk. (2013, hlm. 15), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum ialah nilai-nilai sosial tertentu yang banyak dipengaruhi oleh karakter masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yaitu pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari karakter Bangsa Indonesia sendiri., dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Jadi dapat dipahami bahwa pendidikan karakter itu bermakna sama dengan pendidikan moral atau nilai (bukan dalam arti nilai=angka).
Nilai yang berada pada pendidikan karakter dapat diuraikan yaitu menurut Fathurrohman, dkk. (2013, hlm. 19) sebagai berikut: (1) religius; (2) jujur; (3) toleransi; (4) disiplin; (5) kerja keras); (6) kreatif; (7) mandiri; (8) demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10) semangat kebangsaan; (11) cinta tanah air; (12) menghargai prestasi; (13) bersahabat; (14) cinta damai; (15) gemar membaca; (16) peduli lingkungan; (17) peduli sosial; dan (18) tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang akan mencirikan bahwa kita adalah manusia yang berkarakter dan tentu pada saat lahir, manusia masih dalam kondisi suci, kemudian pendidikan karakter dimulai dari keluarga. Ya keluarga. Keluarga akan membawa anak itu menjadi manusia seperti apa (maksudnya bukan berubah jadi power ranger ya, hehe). Ceu Popong menjelaskan bahwa “karakter dibangun dari mulai keluarga. Masa golden age akan menentukan dia akan menjadi sarjana atau tidak, paling penting adalah indung!” (semangatnya Ceu Popong). Ibu- ibu harus tahu mengenai masa golden age anak, yaitu dimulai sejak 0 – 5 tahun dalam menerapkan nilai-nilai karakter anak yang sudah dijelaskan. Sebelum mengajarkan kepada anak, orang tua dahulu yang menerapkan nilai karakter pada diri sendiri dan pada akhirnya diterapkan kepada anak-anaknya.
Jika berbicara tentang pendidikan, seseorang belajar tidak bisa dengan instant, teu bisa ujug-ujug kata bahasa Sunda mah, dan pasti ada proses yang sambung menyambung, yaitu dari perolehan ilmu pendidikan, pengalaman, dan reaksi orang tersebut. Di sekolah, yang memulai menerapkan pendidikan karakter adalah guru. “Sok atuh dari mulai diri sendiri, jadi guru yang baik. Guru nomor hiji (satu), khususnya dalam pendidikan formal” ujar Ceu Popong. Penguatan dan pengembangan karakter memerlukan pengajar/pelatih, dan pembimbing harus melebihi kemampuan siswa. Prof Uman menjelaskan tidak ada Presiden tanpa guru, tidak ada siapapun yang sukses itu tanpa guru. Ya, selain di lingkungan keluarga, sekolah merupakan hal yang sangat penting juga untuk mengembangkan karakter siswa, yaitu guru. Tanpa guru, kita tidak bisa apa-apa, dan dimaksudkan belum memiliki arah tujuan yang jelas.
“Makna pendidikan adalah memanusiakan manusia dengan cara-cara manusiawi dan normatif” Ujar Prof. Uman. Yang perlu diketahui, mendidik manusia kudu cageur, bageur, pinter, jeung singer. Pesan dari Prof. Uman adalah jangan menjadi guru yang ditakuti oleh siswa, tetapi dihormati oleh siswa. Jangan merasa lelah dan jadilah guru yang dikenang oleh siswanya (kata-kata tersebut sangat menyentuh bagiku). Mendisiplinkan siswa bukan dengan cara menakut-nakuti siswa, namun beri pengajaran yang baik dan keteladan dari gurunya. 
Agar bangsa ini maju, harus berdisiplin dalam segala hal, mulai dari diri sendiri, detik ini, hari ini, dan masa yang akan datang.  Ceu Popong menyebutkan ada resep membentuk karakter bangsa: (1) kerja keras; (2) membaca; (3) kerja ikhlas; dan (4) kerja tuntas. In shaa Allah bangsa ini menjadi bangsa memiliki karakter baik sebagai warga negara yang baik.

Sumber:

Fathurrohman, Pupuh, dkk. (2013). Pengembangan pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama. 

Selasa, 17 Mei 2016

SUKSES, KARIR, KELUARGA

            Sukses berarti tercapainya sesuatu yang kita kerjakan. Dinamakan sukses bukan hanya diartikan sebagai kaya, cerdas, dan lainnya. Kesuksesan kita berawal dari tercapainya pekerjaan yang kita cintai. Sukses dalam karir pun bermacam-macam, ada yang menganggap sukses jika jabatannya meningkat, maupun hal yang terkecil sekalipun seperti seseorang telah mengerjakan tugas dengan baik mengenai mata pelajaran/mata kuliah yang dia senangi.  Mengenai karir, tentu kita sering membahas ini di perkuliahan, bahkan perbincangan  orang lain. Karir itu kehidupan yang pasti. Menurutku, ibu yang hanya mengurus rumah tangga sudah dikatakan karir, karena seorang ibu mengurus semuanya tentang rumah tangganya. Berawal dari membina anak, memasak, menaati suami (suami adalah bos bagi istri, hehe), mengurus rumah agar dapat terawat dengan baik. Dalam membina anak pun kita harus selalu update, karena zaman sekarang itu perkembangan teknologi atau ilmu semacamnya sangat cepat. Jadi, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dirasakan sendiri oleh kita dan kita membantu anak untuk mencapai tugas perkembangannya. Jika kita diam atau terlalu sibuk, maka kita tertinggal. Ya, ini adalah pandanganku terhadap sukses dalam karir.
            dr. Lula Kamal, M. Sc. mengatakan “kejarlah apa yang membuat kamu bahagia” ketika kuliah umum Bimbingan dan Konseling di BPU kemarin (17/5). Membahas karir memang tak ada habisnya, Saya menuliskan ini diperuntukkan para istri atau perempuan yang sedang mengejar karir. Karir sangat boleh bagi perempuan, namun kembali lagi pada pandangan masing-masing. Yang terpenting, karir tidak membuat keluarga terbaring dalam kesunyian, maksudnya tidak peduli terhadap keluarga, yang diingat hanyalah kerjaan sampai lupa bahwa ada waktunya refreshing bersama keluarga. Jangan sampai keluarga menyesuaikan dengan pekerjaan, tetapi pekerjaan harus menyesuaikan dengan keluarga (Pribadi, 2016).
            Cintailah pekerjaanmu, maka kau akan bahagia. Biarpun penuh dengan tantangan dan air mata, maka kau akan merasakan hasilnya di kemudian hari, karena hasil takkan mengkhianati proses. Masa depan adalah hal yang akan kita hadapi. Jika kita mempunyai hobi, maka cintailah hobimu, secara kontinu, dan jangan berhenti. Jikalau hobimu menulis, maka cintailah tulisanmu, menulislah secara kontinu, tulislah hal-hal yang menyenangkan atau pun duka, yang mengandung hikmah di dalamnya. Kau cintai dengan hati.
            Keluarga adalah nomor satu (Kamal, 2016). Saya pun setuju dengan pendapat beliau. Karena keluarga adalah tempat kita berteduh. Jika kita lelah dengan pekerjaan, maka ingatlah ada keluarga yang menanti untuk menghiburmu. Walaupun ketika sukses dalam karir pun kita akan bahagia dan mengabari kepada keluarga dengan bangga, kepada keluargalah kita mengekspresikan apa yang kita rasakan. Semua ini, atas izin Allah. Allah yang telah melahirkan rasa sedih, rasa senang, rasa bangga, rasa syukur, dan sebagainya. Atas izin Allah pula kita masih berdiri diri bumi ini, dapat melihat postingan ini, dan dapat menghirup udara segar setiap hari. Sadarkah dirimu?

            Ketika kumenuliskan kata demi kata di sini, saya menjadi sadar bahwa kita jangan terlalu mencintai dunia ini, karena dunia ini fana. Akhiratlah yang akan kekal abadi di dalamnya dan “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya” (Hadits Riwayat Al-Hakim). Kita boleh mencintai apa yang ada di dunia ini, tapi tak lupa dengan akhirat. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya dan menjadikan kita orang yang selalu bersyukur atas apa yang Allah beri. Aamiin.. 

Jumat, 04 Maret 2016

Menilai Diri

Aku mendapatkan percakapan santai namun sangat berarti. Percakapan ini aku dapatkan dari sebuah grup di WA:
Seorang guru yang alim ditanya tentang dua keadaan manusia, yaitu (1) manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh, dan selalu merasa suci. (2) manusia yang sangat jarang ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut, dan cinta dengan sesama. Lalu sang guru menjawab: “Keduanya baik”, (meneruskan) boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yang sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yang buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yang baik lahir dan bathinnya. Yang kedua bisa jadi sebab kebaikan hatinya, Allah akan menurunkan petunjuk lalu ia menjadi ahli ibadah yang juga memiliki kebaikan lahir dan bathin. Kemudian orang tersebut bertanya lagi, “Lalu siapa yang tidak baik kalau begitu?”. Sang Guru Sufi menjawab: “Yang tidak baik adalah KITA, orang ketiga yang selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri.

Dari percakapan tersebut, aku merasakan bahwa betapa tidak tahu diri ini, sangat bisa untuk mengomentari keadaan orang lain (tidak apa-apa jika mengkritik yang membangun), namun kita lalai dari menilai diri kita sendiri. Semoga kita selalu memahami diri sendiri, berintropeksi diri akan-sedang-sudah melaksanakan sesuatu, dan terus berdoa semoga Allah selalu mengiringi langkah kita di manapun dan kapanpun. Aamiin.  
(Sumber: Kawan Imut)

Kamis, 03 Maret 2016

Kau itu UNIQ :)

Assalamualaikum, Hallo pembaca setia :’)


Maafkan sudah lama aku tak bercakap di sini. Namun, ada satu hal yang menggugahku untuk terus memperjuangkan tingkat kemampuanku dalam menulis. Ya, ingin berbagi cerita saja ketika aku melakukan ‘teaching point’ pada mata kuliah Bimbingan Kelompok. Di sana aku tak tahu mengapa aku tiba-tiba menangis ketika melihat video yang aku tayangkan sendiri. Terbayang olehku pada muhasabah diriku. Entah mengapa aku menjadi berpikir bahwa (mohon maaf) penyandang disabillitas yang notabene mempunyai kekurangan fisik atau mental, namun mereka mempunyai daya juang yang tinggi, bahkan melebihi kita orang normal. Maha Benarnya Allah, Allah memang tidak membeda-bedakan manusia, yang Allah perhatikan adalah hati manusia. Seharusnya kita merasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Melihat diriku yang sering mengeluh, namun pasti Allah sedang menguji diriku sesuai dengan kemampuanku. Begitu juga dirimu.. J Yuk, kita saling mengintropeksi diri. Sama-sama berjuang, tentunya dengan segala kemampuan yang ada dan realistis. Semangat kawan, kau itu uniq! J

Senin, 07 Desember 2015

LDR

Akhir-akhir ini aku sedang sibuk dengan tugas mata kuliah dan organisasi. Belum terlirik akan menulis pada blog ini. Namun ya, secara tidak langsung, apapun kondisinya, aku harus menulis ini di sini. Ya, tak terasa olehku bahwa aku sudah mengarungi rumah tangga selama hampir dua bulan. Kutahu, kurasakan seperti inilah keadaan sesudah menikah. LDR pun sudah di depan mata, tak terbayangkan olehku jika aku memang sedang LDR dengan suamiku. Segala rasa yang aku lontarkan padanya, mau tidak mau, suamiku harus mengetahuinya.
Biarkan dia sedang mencari nafkah. Dalam perjuangannya, kuiringi doa untuknya. Bersamanya kuakan bertahan sekuat mungkin. Aku pun di sini berjuang untuk masa depan juga. Ya Allah, Bolehkah aku mencurahkan kebahagiaanku di sini? Nikmat-Mu tak terhitung Yaa Rabb.. Kau mempertemukan aku dengannya, syukurku pada-Mu.. Suami yang begitu taat pada orang tuanya dan orang tuaku, serta sayang pada saudaraku, semakin tumbuh cintaku padanya.
Yaa Rabb.. Tumbuhkanlah rasa cinta dan kasih sayang pada kami dengan ridho-Mu..


<3 Jaisyalmatin Pribadi

Senin, 12 Oktober 2015

Teman Sejati


Ketika lisanku sukar untuk berucap, badan merinding, dan berlinangan air mata membasahi pipiku. Ada sesosok laki-laki yang telah duduk di depanku yang sedang menghadap waliku. Mengucapkan janji suci yang membuat dunia ini gemetar, di hadapan Allah..
Oh Tuhan.. benarkah ini adalah sebuah pernikahan? Seperti inikah? Aku tak percaya takdirku sampai pada akhirnya umur 20 tahun untuk berumah tangga. Kini diriku yang belum sepenuhnya dewasa, ingin belajar bagaimana cara menghadapi kehidupan rumah tangga yang rumit menjadi mudah apabila diselesaikan bersama.

Cukup sudah penantianku terhadap seseorang selama ini.  Ternyata dia-lah orangnya, yang akan membimbingku, menemaniku, dan memberiku kasih sayang sebagai seorang suami di kala suka dan duka. Cukup sampai di sini, di hati ini kuberlayar untuk mencari pasangan yang menerimaku apa adanya.

Bismillah… Inilah takdirku, inilah pilihanku, inilah orangnya…. Tak disangka, kau bilang bahwa kau datang tepat pada waktunya. Ya, aku baru saja merasakan seperti ini sekarang. Telah banyak peristiwa yang tak terduga, yang benar-benar semakin kubersyukur pada-Mu Yaa Rabb.. :’)

Indahnya pacaran setelah menikah… tenang rasanya.. Pun aku dan dia sedang diuji kesetiaan dan kepercayaan.. Dia sedang bekerja untuk masa depan kami nanti. Ya, Kami ditakdirkan berpisah untuk sementara. Dia sedang fokus bekerja, aku pun sedang fokus kuliah. Kami seperti sedang berjalan masing-masing, namun kedekatan kami selalu di hati dan pikiran ini.


Perjuanganku untuk menjaga hati, memang tidak ada ujungnya. Godaan selalu ada, tetapi aku yakin, dengan niat tekad yang kuat, akan mengalahkan godaan itu. Teruslah perbaiki diri walaupun tak ada yang salah. Prinsipku, maafkanlah diri sendiri dan orang lain, itu membuat kita semakin tenang menjalani hidup ini. 

Jumat, 26 Juni 2015

Indahnya menjemput Ridho Orang Tua dengan Cinta..

Tahun ini, 2015.. Banyak sekali kejadian yang menarik dan berkesan bagi Saya. Kehidupan ini mengajari Saya untuk selalu bermuhasabah. Dari bulan Januari lalu, ketika Saya pulang ke rumah yang ada di Tasikmalaya, Saya dilamar oleh seorang laki-laki, tetapi Saya belum memutuskan lamarannya diterima atau tidak. Saya meminta waktu untuk memikirkannya. Saya tidak menyangka bahwa laki-laki itu membawa orang tua sekaligus untuk menanyakan kesiapan Saya untuk menikah. Lisan tak berucap, hati bergetar. Selalu bertanya-tanya, apakah ini benar? Secepat itukah? Apakah ini sebagian dari Rencana Allah?
Sebelumnya Saya sudah kenal dengan laki-laki itu pada lima tahun yang lalu, ketika  awal masuk SMA. Saya hidup dengan keluarga yang memprioritaskan agama dari pada yang lain, terutama Bapak Saya. Dengan ketegasan orang tua dan cara mendidiknya yang berperilaku demokratis, Bapak dengan ketegasannya namun diselimuti oleh kelembutannya, Mama dengan kekhawatiran (jika terjadi apa-apa) dan kasih sayangnya, membuat Saya sangat bersyukur memiliki keluarga utuh seperti ini.  Saya mempunyai prinsip pacaran setelah menikah, hal itu dibangun sejak Saya masih kelas 2 SMA. Saya berkomitmen untuk tidak pacaran terlebih dahulu, dan menginginkan langsung dilamar serta mempunyai target menikah diusia 22 tahun. Namun, Allah mempunyai rencana indah yang tak terduga. Saat ini Saya berumur 20 tahun dan orang yang melamar Saya adalah 23 tahun, serta sudah memiliki pekerjaan. Sangat tidak menyangka bahwa secepat inikah Saya menikah?  
         Orang tua Saya saat itu benar-benar bingung dan terkejut, baru saja tahun lalu kakak perempuan Saya menikah, kok tahun ini Saya dilamar? Apalagi Saya anak kedua dari dua bersaudara (bungsu). Terdapat pro dan kontra terhadap apa yang terjadi. Bapak Saya menganjurkan menikah diusia muda jika memang sudah mampu untuk menikah dan tidak ada masalah  jika putrinya menikah di saat kuliah. Namun, Mama Saya ketika itu belum setuju  jika Saya menikah di saat kuliah, karena Mama memaparkan kekhawatiran-kekhawatirannya kepada Saya, terutama khawatir jika Saya terganggu kuliahnya. Akhirnya kami sekeluarga berdiskusi tentang hal ini dan mencari jalan keluar yang terbaik. Saya menjelaskan seperti apa sosok laki-laki itu sepengetahuan Saya. Yang Saya ketahui, laki-laki itu berkepribadian baik, bertanggung jawab, dan Saya kagum terhadap dirinya yang shaleh. Lalu Saya merasa ada keunikan pada diri laki-laki itu yang membuat Saya semakin kagum, ketika dirinya mengatakan, “Saya menyukai Shofi, izinkan Saya untuk menikahi Shofi, dan Saya sudah beristikharah”. Bapak bercerita kepada Saya pada saat laki-laki itu datang sebelum lamaran. Bapak baru mengenalinya, sejak saat laki-laki itu menemui orang tua Saya tanpa sepengetahuan Saya. Pada akhirnya, Saya beserta orang tua terus melakukan istikharah, mencari ilham, mencari solusi, dan lain-lain.
Sejujurnya, baru kali ini Saya menemukan laki-laki yang seperti ini., mengungkapkan perasaan “suka” kepada Bapak Saya sendiri. Saya anggap laki-laki itu sangat gentle. Saya tidak mengira bahwa dirinya benar-benar serius dengan Saya. Laki-laki tersebut mempunyai prinsip yang sama dengan Saya, yaitu pacaran setelah menikah. Saya yakin, dirinya dapat menjaga diri, mempunyai konsep diri yang jelas, dan sangat hebat bahwa dirinya sudah meyakinkan orang tua Saya untuk menikah di tahun ini. Saya juga mengetahui bahwa sukarnya menghadap kepada orang tua perempuan pada zaman sekarang, apalagi Saya masih kuliah, tetapi tidak untuk laki-laki itu. Saya merasakan ada banyak jalan untuk menempuh ikatan yang suci itu. Setelah keluarga kami meminta waktu untuk memutuskannya, tiba-tiba Mama luluh atas kedatangan seorang laki-laki itu dengan niat baiknya, dan Saya pun merasa terdapat keyakinan bahwa Saya akan menikah dengannya, akan dibimbing olehnya, dan akan menjadi teman sejatinya di saat suka dan duka.  
Teringat apa yang telah dikatakan oleh dosen mata kuliah Dasar-dasar BK Keluarga (Ibu Dr. Hj. Euis Farida, M.Pd.) bahwa menikah itu lebih baik bukan didasarkan ‘nikahin aja, daripada zina’, padahal menikah itu untuk memelihara, menyempurnakan, dan pengabdian. Bukan ada ‘daripada’nya. Menikah itu tergantung dari kesiapan dan kematangan mental dan fisik untuk membangun keluarga, dan faktor ekonomi pun berpengaruh untuk kelangsungan hidup keluarga. Dalam hadits, seseorang bertanya kepada Hasan al-Bashri: “Saya memiliki seorang putri yang telah menginjak usia nikah, sudah banyak orang yang melamarnya, kepada siapakah saya harus menikahkannya?”. Hasan menjawab: “Nikahkanlah dia dengan seorang yang takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, sebab kalau dia mencintainya maka dia akan memuliakannya dan apabila dia marah maka dia tidak akan menzholiminya”.
Hadits tersebut berpandangan bahwa jika ada yang melamar, dan orang yang melamarnya itu berkepribadian baik dan shaleh, maka terimalah, sebelum menyesal di kemudian hari. Orang baik akan selalu membuat orang yang di sekitarnya bahagia, insyaAllah.
Setelah kami mendiskusikan jauh-jauh hari mengenai hal ini dengan keluarga besar, insyaAllah kami melaksanakan akad dan resepsi pernikahan setelah keponakan Saya menikah di bulan Juli tahun ini. Alhamdulillah kami mendapat jalan keluarnya dan itu adalah kami menerima lamaran tersebut. Tiga minggu kemudian, kami sekeluarga berniat untuk bersilaturrahmi dan memberikan keputusan atas lamaran itu. Bukannya Saya yang menginginkan menikah cepat, tetapi Allah yang menggerakkan hati Saya untuk menyempurnakan setengah agama sekaligus berusaha menjadi lebih baik untuk tabungan orang tua dan pastinya membahagiakan mereka kelak. Memang kita tak dapat mengelak ketentuan-Nya. Akhirnya, detik-detik lamaran itu terselesaikan. Barulah dirinya memberikan cincin emas putih yang bercorak love kepada Saya.
Saya terkejut ketika Mama menjadi semangat mengurus persiapan pernikahan untuk bulan-bulan yang akan datang. Sebelumnya, Mama merasa khawatir dan belum setuju untuk menikahkan Saya, tetapi setelah dilalui akhirnya Mama ridho, dan akan memiliki 4 orang anak. Hikmahnya, orang tua Saya menjadi ridho dan menerima calon menantunya karena sifat baik yang dimiliki oleh laki-laki tersebut. InsyaAllah jika berjodoh, akan sampai pada pelaminan, jika tidak, mungkin Allah mempersiapkan seseorang yang terbaik untuk Saya. Jodoh itu kalau sudah merasa pas di hati, lanjutkanlah ke jenjang yang lebih serius. Jadilah orang yang selektif dalam memilih. Apalagi teman hidup yang selalu mendampingi kita.
Kisah yang mengharukan juga, Alhamdulillah Saya mendapat beasiswa dari Pemprov. Jawa Barat pada tahun ini, padahal Saya mengajukan data-data beasiswa ketika tahun lalu ke Pemprov. Jawa Barat. Saya kira, Saya tidak mendapat beasiswa tersebut, namun di sela-sela hari yang penuh dengan kebimbangan, Allah menghadirkan kuasa-Nya yang tak terkira. Saya yakin ini adalah bagian dari rencana Allah dan pertanda Saya harus banyak bersyukur. Orang tua pun menangis haru dan syukuran ketika mendengar Saya mendapat beasiswa.  
Saya merasakan bahwa orang tua Saya memiliki sifat demokratis. Sebagaimana dijelaskan oleh Rif’an (2013, hlm. 66) bahwa tipe orang tua bisa bermacam-macam. Pertama, ada orang tua yang punya karakter demokratis. Ini seringkali berasal dari kalangan berpendidikan. Untuk menghadapi orang tua seperti ini perlu adanya dialog dengan logika yang baik. Ceritakan bagaimana kondisi saat ini di mana perilaku seks di kalangan anak muda yang sudah sangat memprihatinkan. Ceritakan kisah-kisah pernikahan yang sukses dilakukan oleh beberapa orang besar yang ternyata tidak menghalangi mereka untuk meraih prestasi yang tinggi. Kedua, tipe orang tua yang agamanya cukup baik. Untuk menghadapi orang tua dengan karakter ini, insyaAllah akan lebih mudah, karena mereka menyadari bahwa menikah adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Islam. Ketiga, tipe orang tua yang teguh dengan pendapat pribadinya dan senantiasa menganggap anaknya sebagai anak kecil yang belum mampu berpikir logis. Mereka sulit percaya bahwa anaknya bisa menjangkau pemikiran yang baik untuk masa depannya. Untuk menghadapi orang tua seperti ini, ajaklah orang-orang yang selama ini disegani oleh orang tua untuk menjelaskan tentang keinginan menikah, misalnya tokoh masyarakat, kakek, nenek, dan orang yang disegani oleh orang tua. Ceritakan tentang manfaat nikah di usia muda dan bahaya-bahaya yang bisa ditimbulkan akibat menunda pernikahan”. Inilah ungkapan dari penulis yang pro terhadap menikah di usia muda dan memberikan tips-tips untuk menghadapi orang tua ketika berkeinginan untuk menikah.     

Referensi :
Hadits Hasan al-Bashri.

Rif’an, Ahmad Rifa’i. (2013). Nikah Muda, Siapa Takut?. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 

Deskripsi Diri berdasarkan Teori Psikoanalisis

Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara (bungsu), Bapak dan Ibu Saya bekerja sebagai PNS. Kami tinggal di Tasikmalaya. Terkadang ketika Saya masih kecil, Saya dititipkan kepada santri-santri yang bersekolah di Yayasan berdekatan dengan rumah Saya, orang tua berangkat kerja. Entah apa yang Saya rasakan dulu, sejak umur 3 tahun pun Saya sudah memakai kerudung. Walaupun tidak menutup seluruhnya karena masih kecil. Hingga beberapa tahun kemudian, semasa TK, Saya terbiasa berkerudung. Kami sekeluarga sempat pindah ke Indramayu yang memang agak jauh dari kota. Sewaktu SD di Indramayu, siswa yang berkerudung itu hanya Saya di kelas, sampai-sampai ketika kelas 4, Saya sempat membuka kerudung ketika bersekolah karena gerah dan masih labil. Ketika orang tua tahu bahwa Saya melepaskan kerudung, Saya dinasehati. “Wanita harus menutup aurat” ujar Ibu. Saya dulu belum tahu betul tentang larangan, kewajiban, dan lain-lain sebagai wanita. Semasa kecil, Saya selalu diajarkan tentang keagamaan dan bersosialisasi dengan tetangga. Selama Saya SD, yang terkenang sampai sekarang itu adalah Saya belajar hidup sederhana layaknya seperti orang lain di sana, meskipun banyak orang-orang petani, pada dasarnya mereka kaya, mempunyai banyak sawah, namun masih banyak juga teman-teman bahkan tetangga yang memerlukan bantuan (superiority), Saya kagum kepada mereka yang tetap tersenyum dan menikmati masa hidupnya. Terkadang saya diajak ke sawah dan sungai oleh teman. Memang sangat berbeda keadaan di perkampungan dan perkotaan. Awalnya ketika pindah ke Indramayu, Saya tidak betah dan selalu ingin pindah ke Tasik lagi. Namun, karena ini adalah tuntutan pekerjaan orang tua, Saya mengikuti saja. Saya melanjutkan sekolah menengah di Tasik, Saya sejak SMP tinggal bersama nenek dan kakak perempuan Saya.
            Awal SMP, perjalanan ketika kelas 7, bisa dihitung Saya pindah sekolah dua kali. Pertama Saya di pesantren Amanah Tasikmalaya, Saya memiliki perilaku yang kurang bagus, tidak masuk sekolah beberapa hari dan sering sakit, mungkin belum terbiasa jauh dengan orang tua Saya sehingga Saya ingin pulang dan bertemu dengan orang tua. Lalu saya pindah ke SMPN 11 Tasikmalaya, bahkan di sana Saya hanya bersekolah dua minggu saja, karena tidak betah juga. Dan yang terakhir Saya bersekolah di SMP Al Muttaqin Tasikmalaya, saat itu Saya harus mengejar ketertinggalan belajar selama kelas 7. Alhamdulillah masih bisa terbantu, Saya ingat ketika dibimbing oleh ibu Lia yang tidak lelah mengajari Saya selama di luar jam kelas hanya untuk memberikan ajaran yang sudah tertinggal. Pada saat beberapa bulan kemudian, Saya merasakan tidak betah lagi, fullday school yang pulangnya sore terus, Saya agak sulit untuk beradaptasi sehingga membutuhkan waktu yang lama. Kelas 8 Saya berkomunikasi dengan Bapak Saya melalui telepon, bahwa Saya tidak betah berada di lingkungan seperti ini. Ternyata, mungkin Bapakku merasa terpukul atau sedih atas apa yang Saya lakukan selama ini, sehingga Bapak membuat pesan kurang lebih seperti ini, “Bapak sudah lelah dan tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk anakku”. Saat itu Saya menangis dengan kencang. Dilema antara tidak betah dan ingin mempertahankan diri untuk bersekolah di sini, orang tua saya sudah berusaha menyekolahkan Saya, menginginkan Saya cerdas, namun apa yang Saya lakukan selama ini? Terkesan hanya membuang uang orang tua saja. Dulu Saya ingin bersekolah di SMP Negeri, tapi Saya ditakdirkan di sekolah swasta. Saya ingat, waktu itu di SMP Saya akan ada acara ESQ 165, Saya tertarik ingin mengikuti kegiatan tersebut dan pada akhirnya Saya diizinkan oleh orang tua. Setelah Saya mengikuti Training ESQ 165 (bukan promosi), Saya merasa banyak sekali dosa yang telah kuperbuat, terutama ketidak konsistenan belajar Saya. Pola pikir Saya terbuka bahwa islam itu indah. Saya melakukan training selama dua hari. Dan hasilnya Alhamdulillah.. Saya berkeinginan berubah menjadi lebih baik. Akhirnya Saya pun sadar, Saya tidak boleh seperti ini terus. Saya harus bangkit. Dorongan-dorongan seperti itu Saya yakini bahwa Saya akan betah bersekolah di sini sampai tamat SMP. Ketika Saya menyadari satu hal, Saya menjadi menyadari banyak hal pada masa SMP. Saya ingat ketika masa SD dulu, teman-teman SD sangat ramah dan sering mengajak ke alam bebas, di Indramayu juga Saya belajar bagaimana menghargai orang lain, sopan santun, saling membantu dan berbagi, dan lain-lain. Pikiran-pikiran itu Saya terapkan pada saat SMP di sini, bedanya di perkotaan itu biasanya anak sekolah kebanyakan bergaul dengan yang kaya, kurang bersosialisasi dengan tetangganya, dan terkesan manja. Namun memang tidak semua orang seperti itu. Saya ketika SMP sudah dapat berhemat, uang jajan masih terkumpul, tetapi jika belanja dengan orang tua Saya, Saya mengambil banyak keinginan (tidak memakai uang sendiri, curangnya). Tidak terasa sudah menjelang UN SMP, Saya mempunyai kepuasan tersendiri bahwa Saya berhasil beradaptasi di sekolah ini, Saya betah, Saya senang berada di lingkungan islami ini. Banyak pembelajaran-pembelajaran yang tak terduga membuatku sadar. Entah itu id dan ego Saya yang membuatku ingin pulang atau bertemu dengan orang tua Saya sehingga sekolah terbengkalai, namun karena super ego yang membuat Saya sadar bahwa Saya harus dapat beradaptasi agar Saya mempunyai pribadi sehat, Saya merasa lebih baik daripada sebelumnya.
            Terpikir bahwa Saya ingin melanjutkan SMA di Al Muttaqin lagi. Saya sudah terlanjur betah bersekolah di SMA ini, walaupun tetap fullday school dan berdekatan dengan SMP Saya (SMP-SMA Al Muttaqin lokasinya berhadap-hadapan). Alhamdulillah, Saya masuk SMA ini tanpa tes tulis, Saya sangat bersyukur pula sahabat Saya juga mengalami hal yang sama. Guru-guru di SMA pun sangat ramah dan dapat dijadikan teman. Pada saat itu Saya dekat dengan guru-guru. Berjalannya waktu, Saya sudah terbiasa dekat dan berinteraksi dengan teman, guru, bibi-bibi yang ada di dapur, petugas TU, pramubakti, dan satpam pun Saya kenal. Ketika pulang sekolah, sore hari, Saya sempatkan main ke sawah di belakang sekolah, sangat sejuk. Melihat keindahan alam, mengingatkanku pada Penciptanya. Sejak SMA, Saya mengikuti beberapa organisasi. Sampai-sampai Saya pernah dijuluki “organisator” oleh wali kelas Saya. Karena Saya ingin menambah pengetahuan dan pengalaman Saya di luar sekolah, Saya mengikuti organisasi IPOSISTAS (Ikatan Pelajar Osis Tasikmalaya) dan IPMT (Ikatan Pelajar Muslim Tasikmalaya”. Yang Saya pahami pada diri Saya, Saya tipe orang yang ringan kerja namun kurang dalam public speaking, karena malu. Saya menyadari bahwa Saya bukan tipe pemimpin, tetapi Saya adalah tipe yang kerja sesuai intruksi. Saya belajar tentang diri Saya bukan hanya di sekolah dan rumah saja, namun pada saat berorganisasi juga Saya sedikit mengenal tentang kinerja Saya. Saya bersyukur, orang tua pindah kembali ke Tasik ketika Saya SMA. Di sini, untuk dapat wawasan yang luas tentang islam itu bukan hanya didapatkan melalui keluarga dan mentoring keagamaan sekolah saja, tetapi juga dari hukum alam, kejadian-kejadian yang dapat kita ambil hikmahnya. Karena Allah memberikan jalan bukan hanya pada satu jalur, tetapi banyak jalan menuju cahaya-Nya, tergantung orangnya yang mau berpikir atau tidak.
            SMA adalah masa yang indah dari masa sebelumnya. Di mana kedewasaan itu muncul, sudah saatnya berpikir ke depan, mempunyai motivasi belajar yang tinggi, dan inilah yang Saya alami ketika SMA itu. Saya memiliki hobi membaca, menulis, dan memasak. Memang banyak rintangannya, namun tidak ada kemungkinan kita mengalami keterpurukan yang berarti. Saya pernah gagal dalam membuat tulisan, Saya pernah tak mampu baca hingga tamat, Saya pun pernah gagal hingga gosong dalam memasak. Saya bertipe Melankolis-Sanguinis, banyak sekali yang mendefinisikan bahwa Melankolis-Sanguinis itu lembut, pemaaf, perfeksionis, perasa, penyabar, kurang tegas, dan lain-lain. Ya Saya merasakan kriteria tersebut ada dalam diri Saya, namun ambil baiknya dan buanglah yang buruknya. Lalu Saya berpikir bahwa Saya ingin sekali membuat orang tua Saya bangga dan bersyukur atas hadirnya Saya di dunia ini. Karena Saya senang menulis, Saya memulai dunia baru, yaitu dunia “Blog”. Saya mempunyai blog (shofigibraltar.blogspot.com), di situ Saya menulis apa saja. Dari mulai pengalaman pribadi, muhasabah, dan lain-lain. Karena Saya mempunyai kelemahan bahwa Saya belum bisa berbicara di depan orang banyak, namun Saya optimalkan sebisa Saya untuk berprestasi di bidang kepenulisan atau sastra. Saya ditawarkan mengikuti lomba Blog se-Priangan Timur di Universitas Siliwangi, pesertanya satu grup itu dua orang. Pada saat lomba Blog yang Alhamdulillah-nya Saya dan kakak kelas Saya yang bernama Teh Abil menjuarai peringkat ke-2. Grup ketiga besar harus presentasi di depan media. Saya pun nervous ketika dilihat orang banyak, Saya benar-benar gugup dan agak blank saat itu. Karena Saya terbiasa dengan menulis, apa yang dikatakan atau ungkapkan, Saya lebih baik menulis daripada mengatakannya secara langsung, Alhamdulillah waktu-waktu itu sudah terlewati. Di sini Saya mempunyai ego kreatif yang ada di dalam teori Erikson.
            Lambat laun Saya menyukai dunia psikologi. Dulu Saya memahaminya ilmu jiwa, Saya sangat suka. Berinteraksi dengan guru BK Saya yang bernama Pak Iwan Irawan yang lulusan dari BK UPI. Dari itulah Saya dibimbing mengenai motivasi belajar, gaya belajar, dan lain-lain. Saya jika belajar itu tidak betah kalau diam atau duduk terlalu lama. Kebiasaan Saya ketika belajar sering menggerak-gerakkan pulpen, dan tangan Saya tidak bisa diam. Saya lebih suka melepas diri ketika penat, lari ke alam bebas, karena Saya sangat suka kehangatan dunia, keindahan dunia, kedamaian dunia. Teringat pada Penciptanya, bahwa kita adalah makhluk yang kecil, apalah kita dibanding dengan gunung-gunung? Apalah arti kita dibanding luasnya lautan? Pikiranku pun terbuka kembali, saat Saya membaca buku “Deep Thinking” oleh Harun Yahya. Saya terinspirasi oleh beliau. Indahnya jika kita merenungi apa-apa yang sedang berjalan di bumi ini, dari hal yang terkecil sekalipun. Saya ingin menjadi penulis seperti beliau. Tetapi Saya ingin fokus ke sastra. Saya mendefinisikan bahwa sastra adalah ungkapan tertulis seseorang yang mempunyai makna terdalam dan unik. Saya menggeluti sastra semasa SMA. Saya sering diejek oleh teman Saya, bahwa perkataan dan tulisan Saya tidak dimengerti oleh orang lain. Anggapan Saya adalah sastra itu unik, mempunyai ciri khas nya sendiri, yang hanya dimengerti oleh pembuatnya, itu saja. Seperti yang sering ditanyakan adalah kata ‘ndak’ (tidak), ‘kek’ (seperti), dan ‘pengin’ (ingin) itu adalah bahasa sastra. Ketika Saya diejek, Saya turut diam saja, Saya kurang tegas, ketika marah pun Saya menangis, kadang Saya tak mengerti mengenai diri Saya. Teman-teman bilang bahwa Saya orangnya sangat lembut sehingga mudah untuk menangis, dan Saya memang tak ingin menambah masalah dan Saya fokus pada satu itu, yang penting Saya dapat berkreasi seutuhnya, mengekspresikannya melalui tulisan. Di sini juga Saya mempunyai ego kreatif yang ada di dalam teori Erikson.
            Tibalah masa SNMPTN, ini adalah pilihan yang membuatku bimbang, dan Saya harus memutuskan dengan yakin atas pilihan Saya. Saya mengisi PDSS dan mendaftar ketika SNMPTN dibuka, Saya memutuskan untuk memilih hanya satu pilihan universitas. Walaupun terdapat tiga kolom untuk memenuhi pilihan kedua dan ketiga, namun Saya bingung yang kedua harus memilih apa, tadinya Saya ingin memasukkan Pend. Bhs. Indonesia sebagai yang kedua, namun Saya cemas, takut keterimanya di pilihan kedua yang masih setengah yakin, pada akhirnya Saya yakin pada BK – UPI saja. Saya bertekad dan tawakkal setelah Saya memilih hanya BK dalam kolom itu. Beberapa hari kemudian, Alhamdulillah Saya diterima di BK – UPI ini. Ini salah satu pertanda bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya, dan Saya ingin menjadi lebih baik ke depannya.  
            Masa kuliah memang sangat berbeda. Di sini Saya belajar arti hidup sebenarnya. Bahwa kita adalah makhluk sosial dan saling membutuhkan. Di sini juga Saya belajar untuk lebih memberanikan diri tampil optimal di depan, budaya PPB pada perkuliahan adalah presentasi, adanya presentasi agar kita lebih terbiasa berbicara di depan umum dan menumbuhkan rasa percaya diri. Di sisi lain terkadang diamnya Saya adalah berpikir dan merenung. Merenungkan apa saja yang Saya lihat dan rasakan. Ya Saya pernah dibilang oleh teman jangan melamun, jangan diam saja, dan lain-lain (introvert). Mungkin Saya juga butuh masa adaptasi dengan lingkungan, sedikit demi sedikit Saya berinteraksi dengan yang lain. Menurut Erikson, sikap compulsiveness yaitu sikap yang dibawa oleh rasa malu dan ragu berlebih. Saya memang mempunyai sifat itu, selalu ingin sempurna, namun Saya juga harus realistis, mengerjakan sesuai kemampuan Saya  sendiri, dan Saya sadar betul bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Orang yang hebat adalah orang yang mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Saya mulai mengerti bahwa manusia itu unik dengan segala kepribadiannya dan beragam. Ada yang pendiam, hiperaktif, dan biasa-biasa saja. Saya berhati-hati dalam memilih sahabat. Apapun yang Saya lakukan, yang membuat Saya lambat (ujar salah satu teman) adalah kehati-hatian Saya. Saya mengetahui kemampuan Saya sampai di mana, mungkin Saya adalah orang yang sangat berhati-hati, hingga berjalan, makan, dan apapun Saya tetap berhati-hati. Peristiwa ini berkaitan dengan Determinisme Psikis dan Motivasi tak Sadar, teori Psikoanalisis Freud.
Saya berkebiasaan berpikir sebelum bertindak dan taat pada peraturan. Ini yang sering Saya alami. Pemikiran-pemikiran tersebut menjadi lebih berkembang seiring berjalannya waktu. Untuk memulai sesuatu, Saya merencanakan sebaik-baiknya, Saya memikirkan harus bagaimana dahulu, bagaimana cara mengkomunikasikannya sehingga tidak salah langkah dan bagaimana ke depannya, bermanfaat atau tidak, efektif atau tidak, dan lain-lain. Mungkin menurut orang lain, cara Saya seperti ini adalah buang waktu dan terlalu perfeksionis, namun Saya memang orang yang mempersiapkan sesuatu dari awal, merencanakan sesuatu dari awal, jika ada peraturan tertentu sebisa mungkin  Saya turuti sesuai kesanggupan, namun kelemahan Saya, ketika rencana Saya tidak terlaksana, terkadang Saya agak sukar untuk memperbaiki atau mencari plan B. Dan Saya selalu mengusahakan menyelesaikan masalah atau sesuatu sampai ke akar. Saya mempunyai pemikiran bahwa lebih baik mendengarkan daripada berbicara, mendengarkan ketika orang lain ingin curhat, sampai dia selesai berbicara, Saya berusaha untuk memahami apa yang dia katakan dan rasakan, bahkan pikirkan. Di organisasi HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) PPB, setiap ada evaluasi acara, pasti ada agenda katarsis. Di sana kita meluapkan emosi yang pernah dialami, maupun pada peristiwa traumatik yang seolah-olah teringat atau terungkit kembali. Satu persatu pengurus diluangkan untuk katarsis. Di awal kepengurusan, Saya merasa bingung apa arti katarsis itu, lalu dijelaskanlah oleh salah satu pengurus yang sudah berpengalaman di HMJ. Ketika itu, Saya memulai katarsis, dan setelah itu Saya merasa lega atas apa yang Saya luapkan, dan memang katarsis itu jika luapkan segala emosi, akan merasa tenang.
            Masa inilah Saya dekat dengan seorang pria. Dia baik, penuh perhatian, shaleh. Saya tertarik padanya. Namun Saya mempunyai prinsip bahwa Saya tidak ingin pacaran. Saya mempertahankan diri untuk ingin pacaran setelah menikah, pemikiran Saya hanya menikah dan akan mempersembahkan pada orang yang  tepat. Masa kuliah, perasaan pun berbeda. Saya memulai merasakan ingin dijaga, ingin diperhatikan oleh seseorang. Ya dulunya Saya memang pernah jatuh cinta, namun Saya ingin bangun cinta, pada cinta yang sejati, yang hakiki. Terakhir Saya akan membahas tentang cinta. Walaupun Psikoanalisis merujuk pada seksualitas, Saya menyadari betul bahwa ini adalah manusiawi, yang perlu diperhatikan adalah menyalurkannya. Menuju jalan yang benar atau yang tidak benar, yang haq atau bathil. Saya memegang pada prinsip Islam. Rasa suka memang fitrah, semua orang berhak merasakannya. Januari lalu, Saya mempunyai peristiwa traumatik, bagaimana caranya, bertanya-tanya mengapa seperti ini? Secepat inikah?, orang yang Saya sukai itu tiba-tiba mendatangi orang tua Saya di Tasikmalaya. Dia benar-benar ingin serius dengan Saya dengan cara mengatakannya kepada orang tua Saya. Ini adalah pembelajaran Saya untuk memikirkan dengan matang apakah Saya nanti akan menerima dirinya? Jika iya, bisa jadi pria tersebut menikahi Saya ketika Saya masih kuliah. Saya pun memutuskan untuk bertanya-tanya, berkonsultasi kepada orang yang sudah menikah pada saat kuliah, dan khususnya istikharah serta selalu memperbaiki diri untuk masa depan yang lebih baik. (Hal ini berkenaan dengan Pembentukan Reaksi yang penggantian sikap dan tingkah laku dengan sikap dan tingkah laku yang berlawanan).
            Walaupun Saya bertubuh mungil, tetapi Saya tidak lepas bersyukur pada-Nya. Memberikan takdir yang luar biasa dan semoga dengan pengalaman ini Saya menjadi lebih dewasa dalam menjalani kehidupan. Saya tahu bahwa mengatur kehidupan rumah tangga tidaklah mudah, namun Saya ingin mencoba dan membayangkan seakan-akan Saya sudah berkeluarga dan mempunyai persoalan yang harus dihadapi, nanti Saya harus bertindak apa dan bagaimana jalan keluarnya. Bahkan berkeluarga yaitu menyatukan dua karakter yang berbeda. Jadi Saya harus memikirkan dan menghadapi perbedaan karakter tersebut agar menjadi satu visi dan misi, sehingga terbentuklah keluarga yang senantiasa selalu bersyukur dan tidak lupa untuk terus memperbaiki diri. Saya adalah orang yang dapat dikatakan mudah menyerah, namun kejadian-kejadian ini menjadikan Saya sebuah motivasi agar Saya dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Inilah peristiwa yang berkaitan dengan Dinamika Kepribadian pada Instink hidup dan adanya kecemasan di dalamnya.

            Dalam instink mati pun demikian, Saya selama ingat ingin menikah, ada dorongan-dorongan ingin menikah karena usia Saya tidak tahu sampai kapan, karena diri ini adalah makhluk yang berdosa tetapi menginginkan masuk Syurga-Nya, jadi Saya optimalkan ingin menikah sedini mungkin. Mempersiapkan kematian dengan menyempurnakan setengah agama, berbakti pada orang tua dan pasangan, serta memperbaiki diri pada intinya.