Tampilkan postingan dengan label Curhatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatanku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Desember 2024

Healing Terbaik adalah Menulis

    Semenjak menjadi ibu, tentu banyak perubahan besar pada diri apalagi hidup di perantauan. Mengenai pandangan ke depan dan tetap berusaha menikmati yang terjadi saat ini. Mungkin bagi sebagian besar perempuan, ini hal yang biasa dilakukan oleh seorang ibu. Bahkan entah kapan seorang ibu bisa bertukar cerita pada dunia bahwa apa yang dia rasakan saat ini. 
    Zaman sekarang, sudah serba canggih dan serba viral. Jadi, sesuatu yang terjadi, memang harus benar-benar difilter atas apa saja yang harus diceritakan. Jangan semua orang tahu. Tapi, kalau menurutku balik lagi kepada niat dan semoga bermanfaat saja, sharing apa yang terjadi dan ceritakan untuk pembelajaran ke depannya. Bukannya kita tidak bersyukur dan tidak percaya kuasa Allah/ menyalahi takdir Allah, namun manusia pasti punya akal pikiran agar tidak terjerumus pada kondisi yang sama. Intinya ambil hikmahnya saja lah ya. 
    Menjadi ibu, terus sibuk akan rutinitas sehari-hari. Apalagi berprofesi kerja di rumah (IRT) Hihi. Dilengkapi anak yang masih membutuhkan perhatian (usia 5 tahun dan 1,5 tahun). Rumah rame sekali. Dan entah mengapa aku terpaku oleh dunia mereka. Dan dari sinilah aku harus mulai belajar TEGA. Tega bukan berarti mengabaikan, namun melatih mereka untuk tumbuh, tentunya berada dalam pengawasan. 
    Banyak yang hilang diri ini kalau dikatakan jujur ya, termasuk bersosialisasi dan belum menemukan manajemen waktu, ya masih melihat dan menyesuaikan kondisi mental dan fisik anak. Diri ini butuh menulis saja tidak ada waktu. Sampailah pada diriku yang sering marah-marah di rumah, karena tidak memiliki waktu untuk sendiri. Me time sambil nonton drakor juga Alhamdulillah banget (hehehe). Apalagi menemani tidur siang anak kedua yang masyaaAllah 1 jam aja udah syukuran banget. Memang lebih aktif saja anak yang kedua. 
    Inti dari semua, berusaha menjadi yang terbaik menurut versiku. Diusia ini, mulai bersosialisasi sewajarnya. Makin bersyukur, minta ampun pada Allah atas kesalahan yang sudah diperbuat, apalagi kepada anak dan suami ya. Yang harus dilawan adalah gengsi, gengsi meminta maaf. Healing sejenak jika capek. Daaaaaaannn teruslah berkarya, memotivasi diri sendiri dan orang lain. 
Ambil baiknya, buang yang buruknya yaaa.. Sekian dulu healing setitik. XD 
Terima kasih yaa Allah, atas kenikmatan menulis ketika anak-anak sedang tidur siang :') 

Senin, 09 Desember 2024

Welcome Back My Notes

 Assalamualaikum.. Bagaimana kabarmu, blog-ku? Aku harap mulai saat ini aku benar-benar ingin menata kembali apa tujuanku untuk menulis di sini. Salah satunya untuk berbagi kisah dan sharing saja. 

Terkejut sekali diriku, terakhir kalinya aku menulis di sini pada tahun 2018. Ke mana saja diriku sampai saat ini? Aku akan bercerita dari tahun 2018 - 2022 dulu ya. Waktu yang sangat panjang, beragam kisah hidup yang sudah aku lewati bersama suami. Selama 6 tahun ini aku 'ngapain aja sih?'.

- 2018 

Di waktu ini, aku ikut suami ke Papua, dan entah kenapa aku saat itu ingin pulang ke rumah (Tasik). Ternyata, rencana Allah Swt. sangat indah ya (sambil flash back masa itu). Di mana aku Alhamdulillah diberi kepercayaan oleh-Nya untuk menjaga malaikat kecil di perutku. Yang aku ingat, saat aku baru mengetahui bahwa aku sedang hamil itu ketika terlambat datang bulan, dan itu di waktu bulan Ramadhan. Masyaa Allah :') Setelah mengetahuinya, aku cek kandungan di klinik ISOS tempat suamiku bekerja, dan Alhamdulillah bukti itu benar. Kondisiku sedang hamil 4 minggu (makin ingin segera pulang cuti). Namun, kami direkomendasikan jangan dulu naik pesawat ketika hamil muda, 'riskan' katanya. Padahal kami sudah merencanakan akan pulang cuti sebelum lebaran Idul Fitri.

Entah apa yang meyakinkan aku untuk bersi keras ingin pulang, tapi Bismillah saat itu kami sedang mencari jalan terbaik. Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap pulang cuti dalam keadaan aku hamil 4 minggu, dan meminta surat keterangan dokter bahwa aku sedang mengandung dan punya pegangan kalau dimintai surat keterangan. Ok fix, Lahaulaa walaa quwwata illa Billah.. kami pun dengan hati-hati melakukan segala sesuatu ketika penerbangan sampai tiba di rumah dan jika terjadi sesuatu, insyaa Allah aku ikhlas (pikiranku kala itu). Alhamdulillaaah.. Saat pulang cuti janinku kuat untuk naik pesawat. Dulu, kupikir takut pendarahan, dll. Ternyata atas izin Allah Khansa-ku bertahan. 

-2019

Awal tahun, kumerasa deg-degan tak karuan mungkin ya.. mendengar kata 'melahirkan', di saat aku sedang hamil masa akhir, dan aku mencari tempat-tempat untuk melahirkan. Dan akhirnya ku melahirkan di RS Jasa Kartini Tasikmalaya. Ditemani abah, nin, wa tini yang selalu mendampingiku. Suami saat itu sedang di perjalanan menuju Tasik. Yangti, mertuaku hadir di saat yang tepat. Saat detik-detik terakhir Khansa memperlihatkan dirinya di dunia, yangti langsung masuk dan memberiku kecupan manis agar aku semangat untuk melahikan malaikat mungil ini. Ah, kisah ter so sweet bareng yangti. Dimulai saat ini, aku dan suami benar-benar belajar mengasuh, merawat, mencintai Khansa, anak pertama kami. 

-2020

Tahun 2020 ini, kumenjalani sebagaimana mestinya orang tua merawat anaknya dengan kasih sayang. Ya, memang sebelumnya kami diberi tantangan untuk membesarkan Khansa di saat LDM. Rasanya nano nano lah yaaa. Semua ada sisi positif dan negatifnya sih. Dan Qadarullah tahun 2020 ini, banyak cobaan di dunia ini, salah satunya ada Covid-19 yang mulai terjadi di Indonesia. Rencana Allah pasti yang terbaik. Tidak mungkin Allah menciptakan virus tersebut tanpa ada maksud. Tentara-tentara Allah itu, membuat kita lebih menafakuri atas kebesaran-Nya. Dan sayangnya, saya terlalu was-was akan hal itu karena takut terjadi apa-apa pada si kecil Khansa yang baru berapa bulan. Dan akhirnya, Bismillaah... semoga bisa menghadapi apapun yang terjadi di tahun 2020. 

-2021

Ketika kupikir-pikir, sangat tak terasa waktu terus berlalu. Alhamdulillaah aku bisa melewati sedikit demi sedikit rintangan pada saat membesarkan Khansa. Belajar mengurus sendiri tanpa dibantu oleh wa Entin dan orang tua. Aku merasakan bahwa aku berhak memiliki reward (ini bukan maksud berbangga diri ya, tapi keyakinan agar aku lebih bersemangat lagi untuk mendidik Khansa berdasarkan kemampuanku. Dan mungkin ini terkesan lebay, tapi memang reward terhadap diri sendiri itu perlu). Entah itu reward nya makan-makan di mall, nonton di bioskop, dll. Sebetulnya yang sederhana-sederhana aja udah bikin aku bersemangat lagi. 

Makin hari semakin menyadari bahwa aku sepertinya kurang bisa mendidik Khansa sendiri (kalau LDM kan tidak ada kontak fisik antara ayah dan anak setiap hari). Sebenarnya orang bebas berpendapat sesuai dengan keyakinan dan kondisi masing-masing ya kan. Sebetulnya tak ada yang salah mendidik anak ketika LDM atau tidak selagi orang tuanya dapat berkomunikasi dan memiliki kesepakatan-kesepatakan untuk mendidik dengan jarak jauh. Tapi, yang aku rasakan aku belum bisa memenuhi itu. Komunikasi perbedaan waktu menjadi tantangan buatku, apalagi suami pulang cuti dalam 3 bulan sekali (meski ga terasa waktu 3 bulan itu).

Aku terus memikirkan bagaimana jika aku ikut suami saja???? Apalagi ditambah keadaan saat itu tempat tinggal suami bersebelahan dan dipakai untuk karantina covid-19. Kupikir saatnya ini adalah waktu yang tepat untuk kembali bersama mendidik Khansa yang akan memasuki usia 3 tahun, dimana masa yang butuh perhatian juga dari ayahnya untuk lebih mengoptimalkan perkembangan Khansa. 

Qadarullah, kisah covid-19 yang aku takuti, terjadi padaku, Khansa, dan wa Entin. Begitulah kisahnya, sebetulnya panjang banget, tapi apapun yang terjadi, itu pasti kehendak-Nya, dan kami tak bisa lari dari itu. Alhamdulillahnya, meski begitu, kami baik-baik saja. :') Masya Allah.. 

Setelah itu, pertengahan 2021, barulah keluarga kecilku pindah ke Papua. 


- 2022

Banyak pelajaran yang aku ambil. Hidup bersama suami seru juga. Eh ternyata makin betah, tapi ya meski di sini hanya hutan, banyak teman kok, semuanya menginspirasi. Alhamdulillah 'ala kullihaal.


_bersambung_ 

Selasa, 01 Januari 2019

Perjuangan Pasangan LDM

 

Menjadi seorang istri itu ternyata tidaklah mudah. Bukan hanya dengan adanya pernikahan, kita menjadi lega, melainkan waspada terhadap tantangan yang akan datang di kemudian hari bersama pasangan kita. Kisahku menikah ketika berkuliah di semester 5 merupakan patut direnungkan. Pasti adanya godaan yang datang apalagi saat masih aktif berorganisasi. Syukurku setelah menikah, suami mengizinkan aku untuk melanjutkan organisasi di kampus. Aku dan suami ditakdirkan untuk LDM (long distance married), pada saat itu aku berkuliah di Bandung dan suami kerja di Kuala Kencana – Papua. Usiaku dan suami berbeda tiga tahun. Selama aku menikah diusia tergolong muda, yaitu 20 tahun, tapi tidak ada salahnya untuk terus belajar menjadi pribadi yang dewasa. Perjuangan menjadi pasangan LDM itu membuatku mengerti bahwa kebersamaan suami istri haruslah berkualitas. Bagaimana cara kita untuk menjalankan quality time bersama suami pada saat masa cuti, apalagi cuti yang diberikan yaitu tiga minggu, namun disyukuri sajalah. Tinggal kita mengatur strategi bahwa pertemuan yang singkat itu dijadikan bermakna bagiku dan suamiku.

Suamiku adalah seorang pria yang memiliki cara tersendiri untuk mengatur hidupnya dan terorganisir, serta aku harus taat mengikuti sistem yang dibuat suami untuk mengatur hidupnya, contohnya aku diajarkan oleh suamiku membuat: (1) proposal kebutuhan harian-bulanan (dikarenakan kami berhubungan jarak jauh, suami memintaku untuk membuat proposal agar kebutuhan terpantau dan terpenuhi). Isi dari proposal tersebut yaitu berupa kebutuhan harian seperti belanja bahan makanan untuk sehari-hari sampai alat mandipun dicatat, barulah ditotalkan estimasi harga dan pengeluaran yang ditulis olehku pada akhir bulan, lalu kami evaluasi. Awalnya berat untuk melakukan semua itu, namun ya inilah yang harus kulalui dan belajar untuk mengatur kebutuhan rumah tangga, dan Alhamdulillah terbiasa; (2) aku diajarkan untuk membuat schedule time selama suami cuti, dari kurang lebih tiga minggu cuti, aku dan suami berdiskusi dan menulis catatan untuk merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan pada masa cuti tersebut, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Untuk urusan kegiatan dadakan, kami menyesuaikan, karena kami hanya bisa merencanakan, namun Allah Swt. yang menentukan; (3) aku diajarkan membuat pos-posan, seperti pos emergency, pos bulanan suami-istri, pos investasi, pos infaq, dan lain-lain; (4) . ; dan 5) aku disarankan untuk menjadi full time mommy oleh suamiku.     

Selasa, 04 Oktober 2016

Semester Tujuh

Seharusnya aku sekarang mengerjakan tugas-tugas kuliah nih. Semester 7 sedang ditempuh, terakhir kuliah di kelas. Yaa hal itu akan segera berakhir dan tibalah persiapan skripsi. Ckckck.
Semakin menantang perkuliahan ini, semoga aku bisa bertahan sampai tuntas setuntas-tuntasnya. Waktu begitu cepat yah? Aku berkeluarga dari 26 September 2015, saat ini sudah memasuki Oktober 2016. Ya Rabb.. Berkahilah langkah hamba dan orang-orang di sekitar hamba..
Masa lalu jadikan pelajaran berharga bagi kita. Entah itu momen persahabatan, cinta, pembelajaran, dan lain-lain. Semoga lulus tepat waktu yah ^_^ Aamiin.


Ketika rindu itu datang, pada seorang lelaki yang sudah menikahiku. :’) 

Senin, 12 Oktober 2015

Teman Sejati


Ketika lisanku sukar untuk berucap, badan merinding, dan berlinangan air mata membasahi pipiku. Ada sesosok laki-laki yang telah duduk di depanku yang sedang menghadap waliku. Mengucapkan janji suci yang membuat dunia ini gemetar, di hadapan Allah..
Oh Tuhan.. benarkah ini adalah sebuah pernikahan? Seperti inikah? Aku tak percaya takdirku sampai pada akhirnya umur 20 tahun untuk berumah tangga. Kini diriku yang belum sepenuhnya dewasa, ingin belajar bagaimana cara menghadapi kehidupan rumah tangga yang rumit menjadi mudah apabila diselesaikan bersama.

Cukup sudah penantianku terhadap seseorang selama ini.  Ternyata dia-lah orangnya, yang akan membimbingku, menemaniku, dan memberiku kasih sayang sebagai seorang suami di kala suka dan duka. Cukup sampai di sini, di hati ini kuberlayar untuk mencari pasangan yang menerimaku apa adanya.

Bismillah… Inilah takdirku, inilah pilihanku, inilah orangnya…. Tak disangka, kau bilang bahwa kau datang tepat pada waktunya. Ya, aku baru saja merasakan seperti ini sekarang. Telah banyak peristiwa yang tak terduga, yang benar-benar semakin kubersyukur pada-Mu Yaa Rabb.. :’)

Indahnya pacaran setelah menikah… tenang rasanya.. Pun aku dan dia sedang diuji kesetiaan dan kepercayaan.. Dia sedang bekerja untuk masa depan kami nanti. Ya, Kami ditakdirkan berpisah untuk sementara. Dia sedang fokus bekerja, aku pun sedang fokus kuliah. Kami seperti sedang berjalan masing-masing, namun kedekatan kami selalu di hati dan pikiran ini.


Perjuanganku untuk menjaga hati, memang tidak ada ujungnya. Godaan selalu ada, tetapi aku yakin, dengan niat tekad yang kuat, akan mengalahkan godaan itu. Teruslah perbaiki diri walaupun tak ada yang salah. Prinsipku, maafkanlah diri sendiri dan orang lain, itu membuat kita semakin tenang menjalani hidup ini. 

Jumat, 26 Juni 2015

Indahnya menjemput Ridho Orang Tua dengan Cinta..

Tahun ini, 2015.. Banyak sekali kejadian yang menarik dan berkesan bagi Saya. Kehidupan ini mengajari Saya untuk selalu bermuhasabah. Dari bulan Januari lalu, ketika Saya pulang ke rumah yang ada di Tasikmalaya, Saya dilamar oleh seorang laki-laki, tetapi Saya belum memutuskan lamarannya diterima atau tidak. Saya meminta waktu untuk memikirkannya. Saya tidak menyangka bahwa laki-laki itu membawa orang tua sekaligus untuk menanyakan kesiapan Saya untuk menikah. Lisan tak berucap, hati bergetar. Selalu bertanya-tanya, apakah ini benar? Secepat itukah? Apakah ini sebagian dari Rencana Allah?
Sebelumnya Saya sudah kenal dengan laki-laki itu pada lima tahun yang lalu, ketika  awal masuk SMA. Saya hidup dengan keluarga yang memprioritaskan agama dari pada yang lain, terutama Bapak Saya. Dengan ketegasan orang tua dan cara mendidiknya yang berperilaku demokratis, Bapak dengan ketegasannya namun diselimuti oleh kelembutannya, Mama dengan kekhawatiran (jika terjadi apa-apa) dan kasih sayangnya, membuat Saya sangat bersyukur memiliki keluarga utuh seperti ini.  Saya mempunyai prinsip pacaran setelah menikah, hal itu dibangun sejak Saya masih kelas 2 SMA. Saya berkomitmen untuk tidak pacaran terlebih dahulu, dan menginginkan langsung dilamar serta mempunyai target menikah diusia 22 tahun. Namun, Allah mempunyai rencana indah yang tak terduga. Saat ini Saya berumur 20 tahun dan orang yang melamar Saya adalah 23 tahun, serta sudah memiliki pekerjaan. Sangat tidak menyangka bahwa secepat inikah Saya menikah?  
         Orang tua Saya saat itu benar-benar bingung dan terkejut, baru saja tahun lalu kakak perempuan Saya menikah, kok tahun ini Saya dilamar? Apalagi Saya anak kedua dari dua bersaudara (bungsu). Terdapat pro dan kontra terhadap apa yang terjadi. Bapak Saya menganjurkan menikah diusia muda jika memang sudah mampu untuk menikah dan tidak ada masalah  jika putrinya menikah di saat kuliah. Namun, Mama Saya ketika itu belum setuju  jika Saya menikah di saat kuliah, karena Mama memaparkan kekhawatiran-kekhawatirannya kepada Saya, terutama khawatir jika Saya terganggu kuliahnya. Akhirnya kami sekeluarga berdiskusi tentang hal ini dan mencari jalan keluar yang terbaik. Saya menjelaskan seperti apa sosok laki-laki itu sepengetahuan Saya. Yang Saya ketahui, laki-laki itu berkepribadian baik, bertanggung jawab, dan Saya kagum terhadap dirinya yang shaleh. Lalu Saya merasa ada keunikan pada diri laki-laki itu yang membuat Saya semakin kagum, ketika dirinya mengatakan, “Saya menyukai Shofi, izinkan Saya untuk menikahi Shofi, dan Saya sudah beristikharah”. Bapak bercerita kepada Saya pada saat laki-laki itu datang sebelum lamaran. Bapak baru mengenalinya, sejak saat laki-laki itu menemui orang tua Saya tanpa sepengetahuan Saya. Pada akhirnya, Saya beserta orang tua terus melakukan istikharah, mencari ilham, mencari solusi, dan lain-lain.
Sejujurnya, baru kali ini Saya menemukan laki-laki yang seperti ini., mengungkapkan perasaan “suka” kepada Bapak Saya sendiri. Saya anggap laki-laki itu sangat gentle. Saya tidak mengira bahwa dirinya benar-benar serius dengan Saya. Laki-laki tersebut mempunyai prinsip yang sama dengan Saya, yaitu pacaran setelah menikah. Saya yakin, dirinya dapat menjaga diri, mempunyai konsep diri yang jelas, dan sangat hebat bahwa dirinya sudah meyakinkan orang tua Saya untuk menikah di tahun ini. Saya juga mengetahui bahwa sukarnya menghadap kepada orang tua perempuan pada zaman sekarang, apalagi Saya masih kuliah, tetapi tidak untuk laki-laki itu. Saya merasakan ada banyak jalan untuk menempuh ikatan yang suci itu. Setelah keluarga kami meminta waktu untuk memutuskannya, tiba-tiba Mama luluh atas kedatangan seorang laki-laki itu dengan niat baiknya, dan Saya pun merasa terdapat keyakinan bahwa Saya akan menikah dengannya, akan dibimbing olehnya, dan akan menjadi teman sejatinya di saat suka dan duka.  
Teringat apa yang telah dikatakan oleh dosen mata kuliah Dasar-dasar BK Keluarga (Ibu Dr. Hj. Euis Farida, M.Pd.) bahwa menikah itu lebih baik bukan didasarkan ‘nikahin aja, daripada zina’, padahal menikah itu untuk memelihara, menyempurnakan, dan pengabdian. Bukan ada ‘daripada’nya. Menikah itu tergantung dari kesiapan dan kematangan mental dan fisik untuk membangun keluarga, dan faktor ekonomi pun berpengaruh untuk kelangsungan hidup keluarga. Dalam hadits, seseorang bertanya kepada Hasan al-Bashri: “Saya memiliki seorang putri yang telah menginjak usia nikah, sudah banyak orang yang melamarnya, kepada siapakah saya harus menikahkannya?”. Hasan menjawab: “Nikahkanlah dia dengan seorang yang takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, sebab kalau dia mencintainya maka dia akan memuliakannya dan apabila dia marah maka dia tidak akan menzholiminya”.
Hadits tersebut berpandangan bahwa jika ada yang melamar, dan orang yang melamarnya itu berkepribadian baik dan shaleh, maka terimalah, sebelum menyesal di kemudian hari. Orang baik akan selalu membuat orang yang di sekitarnya bahagia, insyaAllah.
Setelah kami mendiskusikan jauh-jauh hari mengenai hal ini dengan keluarga besar, insyaAllah kami melaksanakan akad dan resepsi pernikahan setelah keponakan Saya menikah di bulan Juli tahun ini. Alhamdulillah kami mendapat jalan keluarnya dan itu adalah kami menerima lamaran tersebut. Tiga minggu kemudian, kami sekeluarga berniat untuk bersilaturrahmi dan memberikan keputusan atas lamaran itu. Bukannya Saya yang menginginkan menikah cepat, tetapi Allah yang menggerakkan hati Saya untuk menyempurnakan setengah agama sekaligus berusaha menjadi lebih baik untuk tabungan orang tua dan pastinya membahagiakan mereka kelak. Memang kita tak dapat mengelak ketentuan-Nya. Akhirnya, detik-detik lamaran itu terselesaikan. Barulah dirinya memberikan cincin emas putih yang bercorak love kepada Saya.
Saya terkejut ketika Mama menjadi semangat mengurus persiapan pernikahan untuk bulan-bulan yang akan datang. Sebelumnya, Mama merasa khawatir dan belum setuju untuk menikahkan Saya, tetapi setelah dilalui akhirnya Mama ridho, dan akan memiliki 4 orang anak. Hikmahnya, orang tua Saya menjadi ridho dan menerima calon menantunya karena sifat baik yang dimiliki oleh laki-laki tersebut. InsyaAllah jika berjodoh, akan sampai pada pelaminan, jika tidak, mungkin Allah mempersiapkan seseorang yang terbaik untuk Saya. Jodoh itu kalau sudah merasa pas di hati, lanjutkanlah ke jenjang yang lebih serius. Jadilah orang yang selektif dalam memilih. Apalagi teman hidup yang selalu mendampingi kita.
Kisah yang mengharukan juga, Alhamdulillah Saya mendapat beasiswa dari Pemprov. Jawa Barat pada tahun ini, padahal Saya mengajukan data-data beasiswa ketika tahun lalu ke Pemprov. Jawa Barat. Saya kira, Saya tidak mendapat beasiswa tersebut, namun di sela-sela hari yang penuh dengan kebimbangan, Allah menghadirkan kuasa-Nya yang tak terkira. Saya yakin ini adalah bagian dari rencana Allah dan pertanda Saya harus banyak bersyukur. Orang tua pun menangis haru dan syukuran ketika mendengar Saya mendapat beasiswa.  
Saya merasakan bahwa orang tua Saya memiliki sifat demokratis. Sebagaimana dijelaskan oleh Rif’an (2013, hlm. 66) bahwa tipe orang tua bisa bermacam-macam. Pertama, ada orang tua yang punya karakter demokratis. Ini seringkali berasal dari kalangan berpendidikan. Untuk menghadapi orang tua seperti ini perlu adanya dialog dengan logika yang baik. Ceritakan bagaimana kondisi saat ini di mana perilaku seks di kalangan anak muda yang sudah sangat memprihatinkan. Ceritakan kisah-kisah pernikahan yang sukses dilakukan oleh beberapa orang besar yang ternyata tidak menghalangi mereka untuk meraih prestasi yang tinggi. Kedua, tipe orang tua yang agamanya cukup baik. Untuk menghadapi orang tua dengan karakter ini, insyaAllah akan lebih mudah, karena mereka menyadari bahwa menikah adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Islam. Ketiga, tipe orang tua yang teguh dengan pendapat pribadinya dan senantiasa menganggap anaknya sebagai anak kecil yang belum mampu berpikir logis. Mereka sulit percaya bahwa anaknya bisa menjangkau pemikiran yang baik untuk masa depannya. Untuk menghadapi orang tua seperti ini, ajaklah orang-orang yang selama ini disegani oleh orang tua untuk menjelaskan tentang keinginan menikah, misalnya tokoh masyarakat, kakek, nenek, dan orang yang disegani oleh orang tua. Ceritakan tentang manfaat nikah di usia muda dan bahaya-bahaya yang bisa ditimbulkan akibat menunda pernikahan”. Inilah ungkapan dari penulis yang pro terhadap menikah di usia muda dan memberikan tips-tips untuk menghadapi orang tua ketika berkeinginan untuk menikah.     

Referensi :
Hadits Hasan al-Bashri.

Rif’an, Ahmad Rifa’i. (2013). Nikah Muda, Siapa Takut?. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 

Deskripsi Diri berdasarkan Teori Psikoanalisis

Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara (bungsu), Bapak dan Ibu Saya bekerja sebagai PNS. Kami tinggal di Tasikmalaya. Terkadang ketika Saya masih kecil, Saya dititipkan kepada santri-santri yang bersekolah di Yayasan berdekatan dengan rumah Saya, orang tua berangkat kerja. Entah apa yang Saya rasakan dulu, sejak umur 3 tahun pun Saya sudah memakai kerudung. Walaupun tidak menutup seluruhnya karena masih kecil. Hingga beberapa tahun kemudian, semasa TK, Saya terbiasa berkerudung. Kami sekeluarga sempat pindah ke Indramayu yang memang agak jauh dari kota. Sewaktu SD di Indramayu, siswa yang berkerudung itu hanya Saya di kelas, sampai-sampai ketika kelas 4, Saya sempat membuka kerudung ketika bersekolah karena gerah dan masih labil. Ketika orang tua tahu bahwa Saya melepaskan kerudung, Saya dinasehati. “Wanita harus menutup aurat” ujar Ibu. Saya dulu belum tahu betul tentang larangan, kewajiban, dan lain-lain sebagai wanita. Semasa kecil, Saya selalu diajarkan tentang keagamaan dan bersosialisasi dengan tetangga. Selama Saya SD, yang terkenang sampai sekarang itu adalah Saya belajar hidup sederhana layaknya seperti orang lain di sana, meskipun banyak orang-orang petani, pada dasarnya mereka kaya, mempunyai banyak sawah, namun masih banyak juga teman-teman bahkan tetangga yang memerlukan bantuan (superiority), Saya kagum kepada mereka yang tetap tersenyum dan menikmati masa hidupnya. Terkadang saya diajak ke sawah dan sungai oleh teman. Memang sangat berbeda keadaan di perkampungan dan perkotaan. Awalnya ketika pindah ke Indramayu, Saya tidak betah dan selalu ingin pindah ke Tasik lagi. Namun, karena ini adalah tuntutan pekerjaan orang tua, Saya mengikuti saja. Saya melanjutkan sekolah menengah di Tasik, Saya sejak SMP tinggal bersama nenek dan kakak perempuan Saya.
            Awal SMP, perjalanan ketika kelas 7, bisa dihitung Saya pindah sekolah dua kali. Pertama Saya di pesantren Amanah Tasikmalaya, Saya memiliki perilaku yang kurang bagus, tidak masuk sekolah beberapa hari dan sering sakit, mungkin belum terbiasa jauh dengan orang tua Saya sehingga Saya ingin pulang dan bertemu dengan orang tua. Lalu saya pindah ke SMPN 11 Tasikmalaya, bahkan di sana Saya hanya bersekolah dua minggu saja, karena tidak betah juga. Dan yang terakhir Saya bersekolah di SMP Al Muttaqin Tasikmalaya, saat itu Saya harus mengejar ketertinggalan belajar selama kelas 7. Alhamdulillah masih bisa terbantu, Saya ingat ketika dibimbing oleh ibu Lia yang tidak lelah mengajari Saya selama di luar jam kelas hanya untuk memberikan ajaran yang sudah tertinggal. Pada saat beberapa bulan kemudian, Saya merasakan tidak betah lagi, fullday school yang pulangnya sore terus, Saya agak sulit untuk beradaptasi sehingga membutuhkan waktu yang lama. Kelas 8 Saya berkomunikasi dengan Bapak Saya melalui telepon, bahwa Saya tidak betah berada di lingkungan seperti ini. Ternyata, mungkin Bapakku merasa terpukul atau sedih atas apa yang Saya lakukan selama ini, sehingga Bapak membuat pesan kurang lebih seperti ini, “Bapak sudah lelah dan tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk anakku”. Saat itu Saya menangis dengan kencang. Dilema antara tidak betah dan ingin mempertahankan diri untuk bersekolah di sini, orang tua saya sudah berusaha menyekolahkan Saya, menginginkan Saya cerdas, namun apa yang Saya lakukan selama ini? Terkesan hanya membuang uang orang tua saja. Dulu Saya ingin bersekolah di SMP Negeri, tapi Saya ditakdirkan di sekolah swasta. Saya ingat, waktu itu di SMP Saya akan ada acara ESQ 165, Saya tertarik ingin mengikuti kegiatan tersebut dan pada akhirnya Saya diizinkan oleh orang tua. Setelah Saya mengikuti Training ESQ 165 (bukan promosi), Saya merasa banyak sekali dosa yang telah kuperbuat, terutama ketidak konsistenan belajar Saya. Pola pikir Saya terbuka bahwa islam itu indah. Saya melakukan training selama dua hari. Dan hasilnya Alhamdulillah.. Saya berkeinginan berubah menjadi lebih baik. Akhirnya Saya pun sadar, Saya tidak boleh seperti ini terus. Saya harus bangkit. Dorongan-dorongan seperti itu Saya yakini bahwa Saya akan betah bersekolah di sini sampai tamat SMP. Ketika Saya menyadari satu hal, Saya menjadi menyadari banyak hal pada masa SMP. Saya ingat ketika masa SD dulu, teman-teman SD sangat ramah dan sering mengajak ke alam bebas, di Indramayu juga Saya belajar bagaimana menghargai orang lain, sopan santun, saling membantu dan berbagi, dan lain-lain. Pikiran-pikiran itu Saya terapkan pada saat SMP di sini, bedanya di perkotaan itu biasanya anak sekolah kebanyakan bergaul dengan yang kaya, kurang bersosialisasi dengan tetangganya, dan terkesan manja. Namun memang tidak semua orang seperti itu. Saya ketika SMP sudah dapat berhemat, uang jajan masih terkumpul, tetapi jika belanja dengan orang tua Saya, Saya mengambil banyak keinginan (tidak memakai uang sendiri, curangnya). Tidak terasa sudah menjelang UN SMP, Saya mempunyai kepuasan tersendiri bahwa Saya berhasil beradaptasi di sekolah ini, Saya betah, Saya senang berada di lingkungan islami ini. Banyak pembelajaran-pembelajaran yang tak terduga membuatku sadar. Entah itu id dan ego Saya yang membuatku ingin pulang atau bertemu dengan orang tua Saya sehingga sekolah terbengkalai, namun karena super ego yang membuat Saya sadar bahwa Saya harus dapat beradaptasi agar Saya mempunyai pribadi sehat, Saya merasa lebih baik daripada sebelumnya.
            Terpikir bahwa Saya ingin melanjutkan SMA di Al Muttaqin lagi. Saya sudah terlanjur betah bersekolah di SMA ini, walaupun tetap fullday school dan berdekatan dengan SMP Saya (SMP-SMA Al Muttaqin lokasinya berhadap-hadapan). Alhamdulillah, Saya masuk SMA ini tanpa tes tulis, Saya sangat bersyukur pula sahabat Saya juga mengalami hal yang sama. Guru-guru di SMA pun sangat ramah dan dapat dijadikan teman. Pada saat itu Saya dekat dengan guru-guru. Berjalannya waktu, Saya sudah terbiasa dekat dan berinteraksi dengan teman, guru, bibi-bibi yang ada di dapur, petugas TU, pramubakti, dan satpam pun Saya kenal. Ketika pulang sekolah, sore hari, Saya sempatkan main ke sawah di belakang sekolah, sangat sejuk. Melihat keindahan alam, mengingatkanku pada Penciptanya. Sejak SMA, Saya mengikuti beberapa organisasi. Sampai-sampai Saya pernah dijuluki “organisator” oleh wali kelas Saya. Karena Saya ingin menambah pengetahuan dan pengalaman Saya di luar sekolah, Saya mengikuti organisasi IPOSISTAS (Ikatan Pelajar Osis Tasikmalaya) dan IPMT (Ikatan Pelajar Muslim Tasikmalaya”. Yang Saya pahami pada diri Saya, Saya tipe orang yang ringan kerja namun kurang dalam public speaking, karena malu. Saya menyadari bahwa Saya bukan tipe pemimpin, tetapi Saya adalah tipe yang kerja sesuai intruksi. Saya belajar tentang diri Saya bukan hanya di sekolah dan rumah saja, namun pada saat berorganisasi juga Saya sedikit mengenal tentang kinerja Saya. Saya bersyukur, orang tua pindah kembali ke Tasik ketika Saya SMA. Di sini, untuk dapat wawasan yang luas tentang islam itu bukan hanya didapatkan melalui keluarga dan mentoring keagamaan sekolah saja, tetapi juga dari hukum alam, kejadian-kejadian yang dapat kita ambil hikmahnya. Karena Allah memberikan jalan bukan hanya pada satu jalur, tetapi banyak jalan menuju cahaya-Nya, tergantung orangnya yang mau berpikir atau tidak.
            SMA adalah masa yang indah dari masa sebelumnya. Di mana kedewasaan itu muncul, sudah saatnya berpikir ke depan, mempunyai motivasi belajar yang tinggi, dan inilah yang Saya alami ketika SMA itu. Saya memiliki hobi membaca, menulis, dan memasak. Memang banyak rintangannya, namun tidak ada kemungkinan kita mengalami keterpurukan yang berarti. Saya pernah gagal dalam membuat tulisan, Saya pernah tak mampu baca hingga tamat, Saya pun pernah gagal hingga gosong dalam memasak. Saya bertipe Melankolis-Sanguinis, banyak sekali yang mendefinisikan bahwa Melankolis-Sanguinis itu lembut, pemaaf, perfeksionis, perasa, penyabar, kurang tegas, dan lain-lain. Ya Saya merasakan kriteria tersebut ada dalam diri Saya, namun ambil baiknya dan buanglah yang buruknya. Lalu Saya berpikir bahwa Saya ingin sekali membuat orang tua Saya bangga dan bersyukur atas hadirnya Saya di dunia ini. Karena Saya senang menulis, Saya memulai dunia baru, yaitu dunia “Blog”. Saya mempunyai blog (shofigibraltar.blogspot.com), di situ Saya menulis apa saja. Dari mulai pengalaman pribadi, muhasabah, dan lain-lain. Karena Saya mempunyai kelemahan bahwa Saya belum bisa berbicara di depan orang banyak, namun Saya optimalkan sebisa Saya untuk berprestasi di bidang kepenulisan atau sastra. Saya ditawarkan mengikuti lomba Blog se-Priangan Timur di Universitas Siliwangi, pesertanya satu grup itu dua orang. Pada saat lomba Blog yang Alhamdulillah-nya Saya dan kakak kelas Saya yang bernama Teh Abil menjuarai peringkat ke-2. Grup ketiga besar harus presentasi di depan media. Saya pun nervous ketika dilihat orang banyak, Saya benar-benar gugup dan agak blank saat itu. Karena Saya terbiasa dengan menulis, apa yang dikatakan atau ungkapkan, Saya lebih baik menulis daripada mengatakannya secara langsung, Alhamdulillah waktu-waktu itu sudah terlewati. Di sini Saya mempunyai ego kreatif yang ada di dalam teori Erikson.
            Lambat laun Saya menyukai dunia psikologi. Dulu Saya memahaminya ilmu jiwa, Saya sangat suka. Berinteraksi dengan guru BK Saya yang bernama Pak Iwan Irawan yang lulusan dari BK UPI. Dari itulah Saya dibimbing mengenai motivasi belajar, gaya belajar, dan lain-lain. Saya jika belajar itu tidak betah kalau diam atau duduk terlalu lama. Kebiasaan Saya ketika belajar sering menggerak-gerakkan pulpen, dan tangan Saya tidak bisa diam. Saya lebih suka melepas diri ketika penat, lari ke alam bebas, karena Saya sangat suka kehangatan dunia, keindahan dunia, kedamaian dunia. Teringat pada Penciptanya, bahwa kita adalah makhluk yang kecil, apalah kita dibanding dengan gunung-gunung? Apalah arti kita dibanding luasnya lautan? Pikiranku pun terbuka kembali, saat Saya membaca buku “Deep Thinking” oleh Harun Yahya. Saya terinspirasi oleh beliau. Indahnya jika kita merenungi apa-apa yang sedang berjalan di bumi ini, dari hal yang terkecil sekalipun. Saya ingin menjadi penulis seperti beliau. Tetapi Saya ingin fokus ke sastra. Saya mendefinisikan bahwa sastra adalah ungkapan tertulis seseorang yang mempunyai makna terdalam dan unik. Saya menggeluti sastra semasa SMA. Saya sering diejek oleh teman Saya, bahwa perkataan dan tulisan Saya tidak dimengerti oleh orang lain. Anggapan Saya adalah sastra itu unik, mempunyai ciri khas nya sendiri, yang hanya dimengerti oleh pembuatnya, itu saja. Seperti yang sering ditanyakan adalah kata ‘ndak’ (tidak), ‘kek’ (seperti), dan ‘pengin’ (ingin) itu adalah bahasa sastra. Ketika Saya diejek, Saya turut diam saja, Saya kurang tegas, ketika marah pun Saya menangis, kadang Saya tak mengerti mengenai diri Saya. Teman-teman bilang bahwa Saya orangnya sangat lembut sehingga mudah untuk menangis, dan Saya memang tak ingin menambah masalah dan Saya fokus pada satu itu, yang penting Saya dapat berkreasi seutuhnya, mengekspresikannya melalui tulisan. Di sini juga Saya mempunyai ego kreatif yang ada di dalam teori Erikson.
            Tibalah masa SNMPTN, ini adalah pilihan yang membuatku bimbang, dan Saya harus memutuskan dengan yakin atas pilihan Saya. Saya mengisi PDSS dan mendaftar ketika SNMPTN dibuka, Saya memutuskan untuk memilih hanya satu pilihan universitas. Walaupun terdapat tiga kolom untuk memenuhi pilihan kedua dan ketiga, namun Saya bingung yang kedua harus memilih apa, tadinya Saya ingin memasukkan Pend. Bhs. Indonesia sebagai yang kedua, namun Saya cemas, takut keterimanya di pilihan kedua yang masih setengah yakin, pada akhirnya Saya yakin pada BK – UPI saja. Saya bertekad dan tawakkal setelah Saya memilih hanya BK dalam kolom itu. Beberapa hari kemudian, Alhamdulillah Saya diterima di BK – UPI ini. Ini salah satu pertanda bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya, dan Saya ingin menjadi lebih baik ke depannya.  
            Masa kuliah memang sangat berbeda. Di sini Saya belajar arti hidup sebenarnya. Bahwa kita adalah makhluk sosial dan saling membutuhkan. Di sini juga Saya belajar untuk lebih memberanikan diri tampil optimal di depan, budaya PPB pada perkuliahan adalah presentasi, adanya presentasi agar kita lebih terbiasa berbicara di depan umum dan menumbuhkan rasa percaya diri. Di sisi lain terkadang diamnya Saya adalah berpikir dan merenung. Merenungkan apa saja yang Saya lihat dan rasakan. Ya Saya pernah dibilang oleh teman jangan melamun, jangan diam saja, dan lain-lain (introvert). Mungkin Saya juga butuh masa adaptasi dengan lingkungan, sedikit demi sedikit Saya berinteraksi dengan yang lain. Menurut Erikson, sikap compulsiveness yaitu sikap yang dibawa oleh rasa malu dan ragu berlebih. Saya memang mempunyai sifat itu, selalu ingin sempurna, namun Saya juga harus realistis, mengerjakan sesuai kemampuan Saya  sendiri, dan Saya sadar betul bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Orang yang hebat adalah orang yang mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Saya mulai mengerti bahwa manusia itu unik dengan segala kepribadiannya dan beragam. Ada yang pendiam, hiperaktif, dan biasa-biasa saja. Saya berhati-hati dalam memilih sahabat. Apapun yang Saya lakukan, yang membuat Saya lambat (ujar salah satu teman) adalah kehati-hatian Saya. Saya mengetahui kemampuan Saya sampai di mana, mungkin Saya adalah orang yang sangat berhati-hati, hingga berjalan, makan, dan apapun Saya tetap berhati-hati. Peristiwa ini berkaitan dengan Determinisme Psikis dan Motivasi tak Sadar, teori Psikoanalisis Freud.
Saya berkebiasaan berpikir sebelum bertindak dan taat pada peraturan. Ini yang sering Saya alami. Pemikiran-pemikiran tersebut menjadi lebih berkembang seiring berjalannya waktu. Untuk memulai sesuatu, Saya merencanakan sebaik-baiknya, Saya memikirkan harus bagaimana dahulu, bagaimana cara mengkomunikasikannya sehingga tidak salah langkah dan bagaimana ke depannya, bermanfaat atau tidak, efektif atau tidak, dan lain-lain. Mungkin menurut orang lain, cara Saya seperti ini adalah buang waktu dan terlalu perfeksionis, namun Saya memang orang yang mempersiapkan sesuatu dari awal, merencanakan sesuatu dari awal, jika ada peraturan tertentu sebisa mungkin  Saya turuti sesuai kesanggupan, namun kelemahan Saya, ketika rencana Saya tidak terlaksana, terkadang Saya agak sukar untuk memperbaiki atau mencari plan B. Dan Saya selalu mengusahakan menyelesaikan masalah atau sesuatu sampai ke akar. Saya mempunyai pemikiran bahwa lebih baik mendengarkan daripada berbicara, mendengarkan ketika orang lain ingin curhat, sampai dia selesai berbicara, Saya berusaha untuk memahami apa yang dia katakan dan rasakan, bahkan pikirkan. Di organisasi HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) PPB, setiap ada evaluasi acara, pasti ada agenda katarsis. Di sana kita meluapkan emosi yang pernah dialami, maupun pada peristiwa traumatik yang seolah-olah teringat atau terungkit kembali. Satu persatu pengurus diluangkan untuk katarsis. Di awal kepengurusan, Saya merasa bingung apa arti katarsis itu, lalu dijelaskanlah oleh salah satu pengurus yang sudah berpengalaman di HMJ. Ketika itu, Saya memulai katarsis, dan setelah itu Saya merasa lega atas apa yang Saya luapkan, dan memang katarsis itu jika luapkan segala emosi, akan merasa tenang.
            Masa inilah Saya dekat dengan seorang pria. Dia baik, penuh perhatian, shaleh. Saya tertarik padanya. Namun Saya mempunyai prinsip bahwa Saya tidak ingin pacaran. Saya mempertahankan diri untuk ingin pacaran setelah menikah, pemikiran Saya hanya menikah dan akan mempersembahkan pada orang yang  tepat. Masa kuliah, perasaan pun berbeda. Saya memulai merasakan ingin dijaga, ingin diperhatikan oleh seseorang. Ya dulunya Saya memang pernah jatuh cinta, namun Saya ingin bangun cinta, pada cinta yang sejati, yang hakiki. Terakhir Saya akan membahas tentang cinta. Walaupun Psikoanalisis merujuk pada seksualitas, Saya menyadari betul bahwa ini adalah manusiawi, yang perlu diperhatikan adalah menyalurkannya. Menuju jalan yang benar atau yang tidak benar, yang haq atau bathil. Saya memegang pada prinsip Islam. Rasa suka memang fitrah, semua orang berhak merasakannya. Januari lalu, Saya mempunyai peristiwa traumatik, bagaimana caranya, bertanya-tanya mengapa seperti ini? Secepat inikah?, orang yang Saya sukai itu tiba-tiba mendatangi orang tua Saya di Tasikmalaya. Dia benar-benar ingin serius dengan Saya dengan cara mengatakannya kepada orang tua Saya. Ini adalah pembelajaran Saya untuk memikirkan dengan matang apakah Saya nanti akan menerima dirinya? Jika iya, bisa jadi pria tersebut menikahi Saya ketika Saya masih kuliah. Saya pun memutuskan untuk bertanya-tanya, berkonsultasi kepada orang yang sudah menikah pada saat kuliah, dan khususnya istikharah serta selalu memperbaiki diri untuk masa depan yang lebih baik. (Hal ini berkenaan dengan Pembentukan Reaksi yang penggantian sikap dan tingkah laku dengan sikap dan tingkah laku yang berlawanan).
            Walaupun Saya bertubuh mungil, tetapi Saya tidak lepas bersyukur pada-Nya. Memberikan takdir yang luar biasa dan semoga dengan pengalaman ini Saya menjadi lebih dewasa dalam menjalani kehidupan. Saya tahu bahwa mengatur kehidupan rumah tangga tidaklah mudah, namun Saya ingin mencoba dan membayangkan seakan-akan Saya sudah berkeluarga dan mempunyai persoalan yang harus dihadapi, nanti Saya harus bertindak apa dan bagaimana jalan keluarnya. Bahkan berkeluarga yaitu menyatukan dua karakter yang berbeda. Jadi Saya harus memikirkan dan menghadapi perbedaan karakter tersebut agar menjadi satu visi dan misi, sehingga terbentuklah keluarga yang senantiasa selalu bersyukur dan tidak lupa untuk terus memperbaiki diri. Saya adalah orang yang dapat dikatakan mudah menyerah, namun kejadian-kejadian ini menjadikan Saya sebuah motivasi agar Saya dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Inilah peristiwa yang berkaitan dengan Dinamika Kepribadian pada Instink hidup dan adanya kecemasan di dalamnya.

            Dalam instink mati pun demikian, Saya selama ingat ingin menikah, ada dorongan-dorongan ingin menikah karena usia Saya tidak tahu sampai kapan, karena diri ini adalah makhluk yang berdosa tetapi menginginkan masuk Syurga-Nya, jadi Saya optimalkan ingin menikah sedini mungkin. Mempersiapkan kematian dengan menyempurnakan setengah agama, berbakti pada orang tua dan pasangan, serta memperbaiki diri pada intinya.  

Minggu, 03 Mei 2015

3 Mei 2015

Aku merindukan setiap tulisan yang aku buat di blog ini, banyak hal-hal yang indah, mengejutkan hati, bahkan khawatir, apapun yang aku rasakan saat itu bercampur aduk. Entah bagaimana cara untuk berbagi pada dunia, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Terkesan lebay, namun ini memang pure terjadi. Hingga pada akhirnya, penantianku dalam doa berlangsung denagn cepat. Ya Allah, apakah ini benar? Secepat itukah? Aku pun masih belum percaya apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini. Peristiwa yang membuatku penuh haru, bahagia atas kebahagiaan orang lain. Di sisi lain juga aku merasa tak percaya bahwa aku masih terbilang memulai masa perkembangan emosional yang stabil.
Tanggal 22 Februari lalu, tepatnya ketika liburan kuliah mingguan, tak kusangka bahwa dirinya membawa orang tua sekaligus untuk menanyakan kesiapanku untuk menikah. Lisan tak berucap, hati bergetar. Selalu bertanya-tanya, apakah ini benar? Secepat itukah? Apakah ini sebagian Rencana Allah? Bahwa memang rencana manusia hanya sebuah rencana dan Allah yang mempunyai ketentuan atas segala kehidupan manusia. Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan.
Bukannya aku yang menginginkan menikah cepat, tetapi Allah yang menggerakkan hatiku untuk menyempurnakan akhlak sekaligus berusaha menjadi lebih baik untuk tabungan orang tuaku dan pastinya membahagiakan mereka. Tak ada yang salah dan memang kita tak dapat mengelak lagi ketentuan-Nya, detik-detik lamaran itu terselesaikan. Barulah dirinya memberikanku cincin emas putih yang bercorak love, sangat lucu, dan aku suka.
Mamaku terkadang semangat mengurus urusan untuk bulan-bulan yang akan datang nanti. InsyaAllah jika berjodoh, akan sampai pada pelaminan, jika tidak, mungkin Allah mempersiapkan seseorang yang terbaik :’). Jodoh tuh ya begitu, kalo udah pas di hati, lanjutkanlah ke jenjang yang lebih serius. Jadilah orang yang selektif dalam memilih. Apalagi teman hidup yang selalu mendampingi kita.
Sekali lagi aku masih tak percaya, aku pun merasa belum dewasa pada genap usia 20 tahun ini. Alhamdulillah Allah masih memberikanku kesempatan untuk hidup menjadi lebih baik. Namun, jika sudah ada yang mau menerima kekurangan dan kelebihanku, kusyukuri.. Semoga selalu istiqomah dan yuuu, rajin menulis. Dari awal senang bercerita, lalu mengekspresikannya, dan menyimpulkan apa yang sudah terjadi. Banyak sekali hikmah yang kita dapat jika kita memikirkannya, karena dunia ini tak ada yang kebetulan, melainkan rencana-rencana yang jika Allah menakdirkan “Kun Fayakun!” maka jadilah..

Terima kasih kepada Allah, yang memberi nafas kehidupan sehingga aku masih diberi kesehatan sampai sekarang. Orang tuaku dan teteh yang selalu memberikan kasih sayang yang luar biasa. Sahabat-sahabatku hera, dika, rina, intan, nisa, apri, dkk. yang selalu membuatku ceria, dan terima kasih juga kadonya yang lucu nan unik, serta yuke selaku partner kerjaku memberikan kado yang indah. Teruntuk ka jaisy yang selalu memnerima kekurangan dan kelebihanku, serta penyemangatku, yang memberikan kado special katanya, kadonya yang aku butuhkan juga :P. hehe. Terima kasih semuanyaaa.. Aku bersyukur memiliki kalian :’)


Selasa, 03 Maret 2015

Catatan Kecil

Jika engkau ditakdirkan untukku, 
Akan kujadikan engkau pangeran di setiap perjalanan kehidupanku.. 
Menjadikan yang terakhir untukku,
Sampai senja itu menelan waktuku.. 


Bandung, 3 Maret 2015

Rabu, 25 Februari 2015

Mama dan Bapakku Tersayang

Mama dan Bapakku tersayang.. perkenankan Shofi untuk menyempurnakan setengah agama yang suci ini, betapa banyaknya pahala jika dijalankan.. Perkenankan Shofi untuk belajar berbakti pada laki-laki yang telah melamarku dengan berani, mempunyai niat yang kuat, dan teguh pendirian, serta shaleh.. Shofi jadi ingat, pesan dari dosen dan kajian yang lain, bahwa jika kita dilamar oleh lelaki shaleh, maka terimalah sebelum kita menyesal. Aku belajar bagaimana cara menaati keduanya, khususnya Mama dan Bapak yang senantiasa mendidikku hingga seperti ini, memberikan aku kesempatan untuk mengenal dunia dan akhirat lebih jauh, membina tanpa lelah, memenuhi kebutuhanku setiap waktunya. Terima kasih atas segala yang diberikan padaku..

Mama dan Bapak hebat! Tidak sia-sia membimbing teh Shifa dan aku, sampai kita seperti ini, agar mengenal Allah lebih dekat, agar kami selamat dunia dan akhirat.. Maafkan anak-anak mama dan bapak ini yah.. Dulu, aku adalah anak yang kurang bersyukur, sampai-sampai waktu untuk satu semester sekolah kelas 1 SMP pun hamper tertunda, namun keajaiban Allah datang, Dia memberikanku hidayah melalui Bapak, aku yang telah mengecewakan Mama dan Bapak.. Setelah aku sadar, akan kuingat selalu kata-kata itu, sebagai penyemangatku dalam mencari ilmu kapanpun dan di manapun. Membawa prestasi bagi Mama dan Bapak, membuktikan bahwa aku tidak akan mengecewakan Mama dan Bapak. Bismillah, semoga Allah memberikan rahmat dan hidayah kepada kita. Aamiin.. 

Kamis, 29 Januari 2015

Ketika Ujian Hidup Melanda..

Ketika ujian hidup melanda, tersenyumlah.. Ini sebuah tantangan baru yang tak pernah terlupakan.. Semakin kita kuat, semakin banyak tantangan yang diberikan untuk meningkatkan kadar kekuatan ruhiah kita.  Mungkin bisa jadi kita saat ini mengeluh, tapi ingatlah bahwa Allah memberikan ujian ini berdasarkan daya kita, kemampuan kita. Tak ada kesengsaraan dalam hidup. Apa yang akan, sedang, dan telah terjadi pasti Allah hadirkan agar kita selalu ingat pada-Nya, di kala susah maupun senang. 


Baru lah kita menyadari ketika berakhirnya ujian atau sesuatu yang telah kita jalani, peringatan yang sekian banyaknya yang kita temui, tak ada yang lebih baik melainkan kita ambil hikmah dari segala ujian hidup di dunia ini. Semangat untuk mendobrak keluhan, mohonlah agar kita diberikan jalan terbaik dan perlindungan oleh-Nya.

Rabu, 28 Januari 2015

Ajari Aku....

Ajari aku untuk dapat bertahan menepas terjangan angin yang begitu keras..
Ajari aku untuk dapat meyakinkan dunia bahwa kusanggup berdiri tegak
Ajari aku memiliki hati lembut, pengasih, penyayang di setiap nafas kehidupan
Ajari aku untuk selalu ingat denting suara hati yang merdu
Ajari aku untuk selalu kembali pada Pemilik jiwa ini
Ajari aku untuk memakai pakaian santun, lembut dalam berucap
Ajari aku untuk merasakan bahagia ketika hati tak bahagia
Ajari aku untuk menjadi motivator diriku dan orang lain
Ajari aku untuk merasakan indahnya dunia
Ajari aku untuk selalu mengingat waktu yang takkan terulang
Ajari aku untuk kuat menahan segala emosi
Ajari aku untuk peka terhadap apa yang aku alamai saat ini
Ajari aku untuk dapat mengejar apa yang aku butuh dan inginkan
Ajari aku untuk selalu bersyukur apapun kondisinya
Ajari aku untuk memilih pasangan yang terbaik diantara yang baik

Rabu, 10 Desember 2014

Jangan Biarkan Kesejahteraan Kami Pergi..

Saya adalah rakyat Indonesia yang masih pelajar. Bagi Saya, Indonesia adalah negara yang hebat. Yang kaya akan sumber daya alamnya. Saya mencintai negeri ini dan tak ingin ada beban dalam kesejahteraan masyarakat ini. Di mulai dari negeri ini yang subur dan makmur. Tapi entah mengapa tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari dan waktu demi waktu kesejahteraan itu kian terkikis. Masih banyak masyarakat yang membutuhkan kesejahteraan dalam hidup walaupun kesedihan selalu ada pada diri mereka.
            Pernahkah kita sedikit merenungkan betapa sangat banyaknya penduduk Indonesia ini? Rakyat yang mempunyai ribuan kata bahkan jutaan kata yang belum tersampaikan keluh kesah mereka tentang apa yang mereka rasakan saat ini. Rakyat yang menginginkan kesejahteraan dan berperan aktif untuk mengekspresikan keluhan mereka yang paling dalam. Menginginkan negeri ini maju dan makmur. Mereka bisa melihat apa yang mereka lakukan sehari-hari dan mereka sangat merasakan apa yang sedang terjadi pada negeri ini. Terdapat air mata suka dan duka. Saya, layaknya rakyat biasa yang ingin mengapresiasikan pendapat kata demi kata dari suara hati kecil Saya mengenai Dewan Perwakilan Daerah. Melihat negeri ini semakin berkurang sumber daya alamnya. Terasa sakit memang, dikala kebanjiran itu datang, merusak suasana menjadi duka dan jalan raya pun kadang sering rusak disebabkan oleh banjir. Seharusnya kita banyak menanam pohon yang banyak untuk bisa menyerap air itu agar tidak terkena banjir, sumber daya alam diperkuat lagi agar tidak semakin hancur alam ini dengan musibah yang disebabkan oleh ulah manusia. Dan faktanya, sawah dan kebun semakin habis oleh bangunan-bangunan yang sangat megah itu. Penyakit yang ditimbulkan oleh hewan-hewan liar walaupun kecil itu sama saja mereka juga makhluk hidup. Mereka ingin bertahan hidup seperti kita. Dan jangan salahkan hewan-hewan yang tak berdosa itu, mereka mungkin hanya kecewa karena tempat yang mereka tinggal itu sudah hilang oleh bangunan baru. Seperti halnya di dalam masyarakat, jika rakyat didiamkan saja atau tidak dipedulikan, maka mereka akan kecewa. Aspirasi rakyat yang kurang terdengar dan keluhan untuk men-sejahterakan masyarakat tidak sampai kepada Dewan Perwakilan Daerah. Namun, kebutuhan mereka selalu meningkat. Apakah kita selalu memikirkan mereka? Mereka hanya bisa menerima keadaan yang sakit untuk di rasa dan terlalu sedih untuk diungkapkan. Dan apa salahnya jika kita langsung terjun ke masyarakat agar kita mengetahui keluhan dan keadaan mereka di daerahnya? Kebutuhan ekonomi yang sangat pesat meningkat, tetapi kesejahteraan masyarakat belum  meningkat. Masih banyak yang membutuhkan pertolongan hidup agar negeri ini damai.
            Saya berharap masyarakat bisa tersenyum, terutama para pelajar yang masih panjang perjalanannya. Penerus bangsa yang akan menjadikan negeri ini lebih baik, yang selalu bahagia menghadapi hidup dan berjuang untuk negeri ini walaupun dilanda kemiskinan. Bahkan orang tua mereka yang pergi ke luar negeri untuk mencari uang, sedangkan anak-anak ditinggal pergi sekian tahun. Betapa rindunya mereka dengan orang tuanya. Rindu terhadap kasih sayang orang tuanya. Saya tidak tega melihatnya.
            Ingin rasanya melihat para pemuda-pemudi berbadan sehat, pandai dan berbudi pekerti yang luhur untuk menjadi penerus bangsa. Tetapi, Saya prihatin. Masih banyak kaum pemuda yang masih pengangguran di jalanan, memakai narkoba, bahkan tawuran pun terjadi oleh para pemuda, penerus bangsa ini... Pasti setiap hari kita sering melihat mereka bukan? Saya pun tidak tahu asal-usulnya seperti apa. Apakah karena orang tuanya yang tidak cukup untuk membiayai sekolah mereka? Atau apakah mereka mempunyai masalah dengan orang tuanya (broken home) sehingga mereka kurang adanya pengarahan oleh orang tuanya? Mereka sangat membutuhkan arahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna. Padahal Tuhan sudah memerintahkan kepada manusia untuk bekerja keras. Dengan mencari nafkah yang halal. Tapi, bisakah kita memberikan mereka peluang untuk bekerja yang sepantasnya kepada mereka? Walaupun mereka bukan sarjana atau anak putus sekolah, tapi Saya yakin mereka adalah orang yang cerdas. Hanya saja harus diberikan arahan yang jelas untuk pekerjaan mereka. Mereka butuh kecukupan ekonomi, kesejahteraan dan keadilan. Seringkah kita mendengar dan melihat para koruptor hanya di penjara sebentar. Sementara rakyat kecil? Orang yang terpaksa maling sesuap nasi karena membutuhkan makan untuk bertahan hidup, malah digusur ke Pengadilan dan hampir di penjara. Bayangkan itu hanya sesuap nasi. Mereka butuh makan, mereka butuh kecukupan gizi untuk kelangsungan hidupnya. Apa yang kita rasakan selama ini? Sangat berbeda dengan perasaan mereka yang membutuhkan perlindungan dan bantuan dari Wakil Daerah tertentu. Ke manakan hati nurani kita? Semoga Tuhan selalu memaafkan segala kesalahan kita selama ini. Aamiin.  Di dalam berita pun Saya seringkali melihat rakyat yang mengeluh bahwa jalan raya di sebuah perkampungan kecil tidak pernah di urus oleh Pemerintah, sehingga jalan tersebut agak berbahaya untuk dilalui karena jalannya bolong dan rusak yang menyebabkan kecelakaan. Jalan rusak memakan banyak korban atas kecelakaan ini? Mari kita memperbaikinya.
            Tapi Saya sangat bangga, ketika Saya mendengar sekumpulan anak yang duduk dibangku Sekolah Dasar yang ingin mengejar cita-citanya, di sebuah perkampungan yang jauh dari kota, tempat tinggal mereka dikelilingi oleh hutan dan sungai agak besar, mereka rela dan tetap semangat bersekolah walaupun mereka harus menyebrangi sungai yang panjang dan mungkin berbahaya untuk seumuran mereka. Setiap hari mereka bersekolah menyebrangi sungai dengan penuh keyakinan dan tidak takut dengan arus yang begitu kencang saat itu, karena tak ada jalan lain, jembatan pun belum ada. Apakah kita merasakan begitu giatnya mereka untuk berjuang menggapai cita-citanya agar bangsa ini maju? Sudahkah kita bersemangat seperti mereka untuk menyelamatkan negeri ini? Dan Saya ingin wakil-wakil daerah (Dewan Perwakilan Daerah) untuk lebih memperhatikan keadaan di sebuah perkampungan kecil atau di mana pun rakyat yang sangat membutuhkan kesejahteraan, keadilan dan kebahagiaan. Mereka membutuhkan jembatan, jalan yang tidak rusak dan segala apapun mengenai kesejahteraan daerah. Saya harap wakil-wakil daerah harus terjun langsung ke masyarakat untuk melihat kondisi yang sangat memprihatinkan itu. Memperbaiki semua kekurangan yang mengganggu kebahagiaan mereka. Dan ternyata bukan hanya terdapat di satu daerah saja, namun di daerah-daerah lain juga banyak yang mengalami seperti itu. Jangan biarkan senyuman indah mereka terusik oleh hal-hal yang membuat mereka sengsara. Secara bertahap kita pasti bisa untuk memakmurkan bangsa ini. Melihat para pelajar tersenyum riang dan tak kenal lelah mencari pembelajaran untuk memajukan negeri ini. Membuat kehidupan mereka sangat berarti dan bermakna. Mereka ada karena mereka memang sangat penting. Hidup di dunia ini hanya satu kali. Manfaatkan kehidupan kita lebih berharga di bawah naungan-Nya.
            Saya menulis bukan bermaksud untuk menggurui dan bukan merasa diri ini lebih hebat. Tetapi Saya ingin kita bersama-sama membukakan hati untuk apa kita hidup di dunia ini. Di akhirat nanti kita akan diminta pertanggungjawaban selama apa yang kita lakukan ketika hidup di dunia. Bukan untuk berfoya-foya, melainkan Tuhan memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya. Dan Tuhan melihat perbuatan-perbuatan kita selama di dunia. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Daerah itu memang sulit, tetapi kita tidak sendiri, kita hidup bersama dan berkontribusi untuk membangun negeri ini lebih baik lagi. Di dalamnya terdapat pahala yang sangat besar. Jika kita melakukannya dengan ikhlas dan penuh semangat untuk memperbaiki kesejahteraan yang kian menurun ini, Tuhan akan memberikan jalan untuk kita. Tuhan selalu menolong hamba-Nya.  
            Sesungguhnya amanah itu memang berat, apalagi menyangkut negeri ini untuk memakmurkan daerah-daerahnya agar tidak lost contact dengan daerah Pusat. Dengan itu bekerja semaksimal mungkin untuk negeri ini. Wakil daerah adalah orang yang mewakili daerah-daerah tertentu untuk memberikan informasi dari daerah setempat. Meninjau kinerja wakil daerah memberikan kesejahteraan dan membangun daerah yang aman, makmur dan adil. Masih banyak sekolah-sekolah di daerah terpelosok yang membutuhkan bantuan berupa buku bacaan lengkap, bangunan yang berdiri kokoh dan investasi gratis bagi siswa yang kurang mampu. Sepertinya kurang diperhatikan atau memang tidak tahu. Untuk itulah saya menyarankan wakil-wakil daerah untuk terjun langsung ke masyarakat agar memiliki hubungan erat dengan daerahnya dan khususnya masyarakat di daerah tertentu.
            Mengenai pemimpin, Saya mewakili para pelajar di Indonesia membutuhkan wakil-wakil daerah yang jujur, bertanggung jawab dan memberikan pelayanan bagi masyarakat agar hidup sejahtera. Saya tahu, semua manusia pasti mempunyai pikiran dan hati nurani. Jangan biarkan kesejahteraan kami pergi.. Kami membutuhkan kesejahteraan itu dengan nyata, bukan hanya ucapan dari petinggi-petinggi/wakil yang mengurusi daerah tersendiri yang katanya akan memakmurkan daerahnya. 
            Masalah korupsi pun kian memuncak. Pejabat tinggi yang hanya memantau saja diberi puluhan juta. Apakah tidak cukup dengan uang itu? Saya penasaran, digunakan untuk apa saja uang sebanyak itu? Sementara rakyat kecil yang membutuhkan pekerjaan untuk menafkahi keluarganya sangat sulit mencari uang. Mereka bersusah payah mencari uang, namun  Saya hargai jika mereka mencari uang dengan cara yang halal. Saya kagum jika mereka tetap bersabar dan bersyukur atas apa yang mereka dapatkan. Sebenarnya, Tuhan menilai manusia bukan dari jabatannya yang tinggi, namun keikhlasan dalam menjalani hidup ini. Membuat hidup lebih bermakna dan tidak merasa hidup ini sengsara. Negeri yang aman tanpa ada korupsi, pembunuhan dan ketidak-adilan dalam memutuskan sesuatu akan melahirkan kejayaan. Yang perlu kita luruskan adalah memberikan pelayanan dalam kesejahteraan mereka dan memberikan peluang pekerjaan untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup mereka yang masih panjang. Sadar akan perilaku mana yang baik atau yang buruk, mulia atau hina dan mengedepankan budi pekerti luhur. Dengan demikian, negeri kita akan tenang dan tentram. Melahirkan putra-putri bangsa yang cerdas dan berkecukupan. Tak ada yang mengganggu kerja keras mereka untuk belajar agar mereka hidup dan mendambakan negeri ini aman dari apa yang mereka lihat sekarang ini. Semoga negeri ini terus maju, selalu aman dan pemuda-pemudi yang pantang menyerah untuk hidup di negeri ini. Aamiin. 

Senin, 01 Desember 2014

Awal Desember 2014

Awal dari cerita di masa bulan Desember ini, mungkin tak jarang orang-orang sudah mengenalku bahwa aku akan segera menikah *kaget*. Ya, kalau di PPB itu gosip apapun selalu terhempas luas. Namun, apapun yang terjadi, jika memang itu yang terbaik, kenapa tidak?
Beginikah rasanya diseriusin oleh seseorang? Apakah aku bisa untuk menjalani proses kehidupan yang baru nantinya? Padahal aku masihlah imut begini (baca:masih kecil) hehehe.
Ya memang, membangun keluarga tidaklah mudah, kita juga sebelumnya harus memilah dan memilih siapa calon imam yang pantas untuk kita. Termasuk, visi harus sama dan sejalan dengan misinya. Aku yakin, memang banyak sekali keberkahan setelah berkeluarga itu. Meskipun akan ada rintangan yang akan berdatangan, jadikan itu adalah penguat rasa kebersamaan untuk menghadapi masalah yang ada.
Sebenarnya, aku menulis tentang ini yaaa malu-malu tapi nulis hehe. Ya, kisahku sekarang, yakinkan bahwa sesuatu itu akan indah pada waktunya. walaupun dulu aku sering berpikir bahwa aku hanya wanita biasa. Setelah aku menyadari bahwa kejadian apapun akan menjadi cerita setelah dilaluinya. Ya, aku sedang merasakan betapa indahnya kekuasaan Allah yang melahirkan rasa cinta kepada manusia.
Waktu memang tak dapat berhenti. Sekarang pun sudah menginjak akhir tahun. Saya penasaran, bakal ada apa yaaah pada tahun 2015? hehehe.  



Senin, 03 November 2014

Ketika Embun Tak Selamanya Putih

Siapa yang tak punya cita? 
Menjunjung mahligai kebahagiaan  
Guratan takdir yang amat dalam
Akankah hidup ini adalah ujian?

Embun datang dengan sejuknya
Tak lama, ia menjadi sosok misterius
Menyelami suhu yang amat dingin
Pagi merindukannya.. 

Ya, tak selamanya embun menjadi putih
Terlalu lama terdiam
Menyeringai penuh dalam pikiran 
Tangan pun bergetar, mencari kehangatan

Singgasana menjadi godaan..
Ya, hidup dengan fatamorgana..
Kapankah akan realistis?
Semakin kuat, semakin diuji yang dahsyat pula
begitulah hidup, tak selamanya putih 

Hingga pada akhirnya, kita menyadari..
Titik temu pada keabadian rasa, 
Mewarnai hidup dengan penuh hikmah..
Karena embun tak selamanya putih.. 
Ia mempunyai enigma yang beragam.. 

Rabu, 08 Oktober 2014

Inilah diriku..

Pagi hari yang begitu cerah, suara hati meniatkan untuk berkompromi antara pikiran dan hati. Walaupun harapan tak sebanding dengan usaha, mungkin ini kelemahan diriku yang harus didobrak sedikit demi sedikit. Entah mengapa, pikiranku semakin mendalam dan di kala aku migrain, sakitnya luar biasa. Inginku tak seperti itu, aku ingin seperti yang lain, layaknya dapat berperilaku pada umumnya. Aku belum mengetahui, apa yang sebenarnya ini terjadi? Ya, aku harus berpikiran positif. Rasa ketakutan-ketakutanku kian menantang, bagaimana penilaian orang lain terhadapku.Tapi, inilah aku…

Apakah aku berperilaku terlalu lembut? Berdiam diri? Sering merenung? Apakah hanya itu yang dapat aku lakukan? Aku juga ingin seperti mereka yang dapat berbicara, cepat menanggapi dan tepat, sedangkan aku hanya bisa melalui tulisan dan tulisan. Hanya itu. Dalam benakku, memang aku seperti ini haruslah kita bersyukur pada hidup yang kita jalani. Ya, kata orang sih selow saja, namun aku, aku yang tidak dapat berpikiran selow saja atau hanya menjalani kehidupan saja. Berusaha untuk bersyukur pada kenyataan ini.   

Makna, ya.. aku mungkin hanya menerima.. mencoba untuk menerima diriku seutuhnya. Walau aku tak bisa aktif dalam vocal atau berbicara, maka aku harus mengoptimalkan kemampuanku. Yaitu menulis dan menulis. Apalah diriku, dengan keunikanku.. :’) belajar dan belajar di bumi ini. Bumi Allah.. Yap, aku sekarang mulai konsentrasi pada kemampuanku seutuhnya. Manusia memang tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangannya :’) #jadi, jangan bersedih hati 

Senin, 22 September 2014

Semester III

Assalamualaikum Blog-ku, sudah lama aku tak bersua lagi di sini.. Maafkan aku, kesibukanku di perkuliahan ini insyaAllah takkan lupa padamu dan pasti mempunyai cerita di setiap episode kehidupan ini.. Yap,  lanjut pada awal cerita. Sebenarnya aku masih ada tugas, setiap minggu malah. Tapi syukurku, aku tak sendiri di dunia ini. Banyak teman yang menginspirasiku tiap hari, entah itu kejadian kecil sampai kejadian yang WAH :D Aku semakin berpikir, harus pke quote ‘belajar jangan tertinggal’. Meskipun semester 3 ini aku lebih santai dari semester sebelumnya. Namun, memang banyak hikmah yang dapat kuambil di semester ini. Salah satunya, Alhamdulillah sudah satu tahun aku menikmati masa kuliah BK ini. Suka dan duka tentang apa yang aku rasakan sekarang, mungkin akan berdampak di kemudian hari. Karena ini menyangkut masa depanku.

Aku paling suka action, daripada hanya sebatas omongan belaka. Ya walaupun aku akui bahwa aku kurang bisa berbicara di depan umum, tapi aku mempunyai kemampuan yang lain (be ur self aja, tetap PEDE) :D Aku mencoba untuk berpikir positif pada diri dan lingkunganku. Ya, aku sangat menikmati dan senang berteman dengan teman-teman sekelasku. Dosen yang sering menginspirasi agar kita tetap menjadi konselor yang rendah hati kepada siapapun. Dan yang aku suka, jurusan ini sangat tepat untukku karena banyak ilmu-ilmu tarbiyah diri, pengingat, dan memotivasi mahasiswa agar menjadi pribadi yang baik dan benar sebelum menjadi konselor. Menata hati itu memang butuh perjuangan, namun konselor bukanlah manusia yang sempurna, tetap seutuhnya.


Learn to learn, ini adalah salah satu prinsip dasar mata kuliah Andragogi. Bahwa kita belajar yaaa untuk belajar juga. Tidak ada yang merasa sudah paling tinggi. Walaupun kita sudah di atas, tetaplah rendah hati dan menjadi pimpinan yang baik. Pemimpin diri yang mempunyai jiwa pembelajar, haus akan ilmu. Itulah learn to learn. pembelajar sejati sampai akhir hayat, Aamiin.. InsyaAllah :’))

Kamis, 07 Agustus 2014

Datang dan Pergi

Terlepas dari datang dan pergi.. begitu juga hidup ini, pergantian waktu yang selalu mengharukan sekaligus terdapat kegelisahan membuat hati ini sulit untuk berlabuh pada kenyataan yang berbeda.. menerima takdir ini, ya menerima itu tidak lah segampang yang orang pikirkan, sungguh harus dibuktikan dengan keikhlasan dan meyakini bahwa semua itu ada waktunya dan akan baik-baik saja. tak perlu disesali kegelisahan terjadi, ini adalah perputaran kehidupan.. ya, namanya datang dan pergi.. 

Memanglah hidup ini bukan sesuatu yang bisa kita pegang selamanya, bumbu kehidupan ini setelah datang ada kesenangan, setelah pergi terjadi kesedihan, bisa jadi hidup ini kembali indah ketika sesuatu yang datang itu lebih indah dari sesuatu yang pergi. Kadang, kita pernah menyimpulkan dunia ini hampa, dunia ini penuh dengan kenangan, dirasakan oleh orang yang sederhana-sederhana saja sampai orang kaya pun merasakannya. mungkin, kita belum menyadari adanya karunia yang Allah berikan pada kehidupan kita, hanya belum menyadari. apabila kita renungi, datang dan pergi itu adalah bagian rencana Allah. begitu pula kesedihan yang tak terobati, obat kesedihan itu bukannya kita harus berdiam diri, mempenjarakan diri, obat kesedihan itu menerima datang dan perginya sesuatu. dan yakinlah, rencana Allah pasti indah.. Dia akan menggantikan sesuatu yang pahit dengan yang lebih manis :)  

Hakikat datang dan pergi ini, kata yang mudah, namun di dalamnya banyak gejolak-gejolak rasa yang memasukkan kita, yaitu kesenangan dan kegalauan pada akhirnya. Kita harus menyadari, sesuatu yang pergi *belum selamanya pergi* akan datang kembali, waktu yang akan menyingkap rahasia itu.

Yang aku rasakan,
Kepada kakakku satu-satunya, Himmatushifa.
Long last with your husband <3