Kamis, 19 Desember 2024
Healing Terbaik adalah Menulis
Senin, 09 Desember 2024
Welcome Back My Notes
Assalamualaikum.. Bagaimana kabarmu, blog-ku? Aku harap mulai saat ini aku benar-benar ingin menata kembali apa tujuanku untuk menulis di sini. Salah satunya untuk berbagi kisah dan sharing saja.
Terkejut sekali diriku, terakhir kalinya aku menulis di sini pada tahun 2018. Ke mana saja diriku sampai saat ini? Aku akan bercerita dari tahun 2018 - 2022 dulu ya. Waktu yang sangat panjang, beragam kisah hidup yang sudah aku lewati bersama suami. Selama 6 tahun ini aku 'ngapain aja sih?'.
- 2018
Di waktu ini, aku ikut suami ke Papua, dan entah kenapa aku saat itu ingin pulang ke rumah (Tasik). Ternyata, rencana Allah Swt. sangat indah ya (sambil flash back masa itu). Di mana aku Alhamdulillah diberi kepercayaan oleh-Nya untuk menjaga malaikat kecil di perutku. Yang aku ingat, saat aku baru mengetahui bahwa aku sedang hamil itu ketika terlambat datang bulan, dan itu di waktu bulan Ramadhan. Masyaa Allah :') Setelah mengetahuinya, aku cek kandungan di klinik ISOS tempat suamiku bekerja, dan Alhamdulillah bukti itu benar. Kondisiku sedang hamil 4 minggu (makin ingin segera pulang cuti). Namun, kami direkomendasikan jangan dulu naik pesawat ketika hamil muda, 'riskan' katanya. Padahal kami sudah merencanakan akan pulang cuti sebelum lebaran Idul Fitri.
Entah apa yang meyakinkan aku untuk bersi keras ingin pulang, tapi Bismillah saat itu kami sedang mencari jalan terbaik. Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap pulang cuti dalam keadaan aku hamil 4 minggu, dan meminta surat keterangan dokter bahwa aku sedang mengandung dan punya pegangan kalau dimintai surat keterangan. Ok fix, Lahaulaa walaa quwwata illa Billah.. kami pun dengan hati-hati melakukan segala sesuatu ketika penerbangan sampai tiba di rumah dan jika terjadi sesuatu, insyaa Allah aku ikhlas (pikiranku kala itu). Alhamdulillaaah.. Saat pulang cuti janinku kuat untuk naik pesawat. Dulu, kupikir takut pendarahan, dll. Ternyata atas izin Allah Khansa-ku bertahan.
-2019
Awal tahun, kumerasa deg-degan tak karuan mungkin ya.. mendengar kata 'melahirkan', di saat aku sedang hamil masa akhir, dan aku mencari tempat-tempat untuk melahirkan. Dan akhirnya ku melahirkan di RS Jasa Kartini Tasikmalaya. Ditemani abah, nin, wa tini yang selalu mendampingiku. Suami saat itu sedang di perjalanan menuju Tasik. Yangti, mertuaku hadir di saat yang tepat. Saat detik-detik terakhir Khansa memperlihatkan dirinya di dunia, yangti langsung masuk dan memberiku kecupan manis agar aku semangat untuk melahikan malaikat mungil ini. Ah, kisah ter so sweet bareng yangti. Dimulai saat ini, aku dan suami benar-benar belajar mengasuh, merawat, mencintai Khansa, anak pertama kami.
-2020
Tahun 2020 ini, kumenjalani sebagaimana mestinya orang tua merawat anaknya dengan kasih sayang. Ya, memang sebelumnya kami diberi tantangan untuk membesarkan Khansa di saat LDM. Rasanya nano nano lah yaaa. Semua ada sisi positif dan negatifnya sih. Dan Qadarullah tahun 2020 ini, banyak cobaan di dunia ini, salah satunya ada Covid-19 yang mulai terjadi di Indonesia. Rencana Allah pasti yang terbaik. Tidak mungkin Allah menciptakan virus tersebut tanpa ada maksud. Tentara-tentara Allah itu, membuat kita lebih menafakuri atas kebesaran-Nya. Dan sayangnya, saya terlalu was-was akan hal itu karena takut terjadi apa-apa pada si kecil Khansa yang baru berapa bulan. Dan akhirnya, Bismillaah... semoga bisa menghadapi apapun yang terjadi di tahun 2020.
-2021
Ketika kupikir-pikir, sangat tak terasa waktu terus berlalu. Alhamdulillaah aku bisa melewati sedikit demi sedikit rintangan pada saat membesarkan Khansa. Belajar mengurus sendiri tanpa dibantu oleh wa Entin dan orang tua. Aku merasakan bahwa aku berhak memiliki reward (ini bukan maksud berbangga diri ya, tapi keyakinan agar aku lebih bersemangat lagi untuk mendidik Khansa berdasarkan kemampuanku. Dan mungkin ini terkesan lebay, tapi memang reward terhadap diri sendiri itu perlu). Entah itu reward nya makan-makan di mall, nonton di bioskop, dll. Sebetulnya yang sederhana-sederhana aja udah bikin aku bersemangat lagi.
Makin hari semakin menyadari bahwa aku sepertinya kurang bisa mendidik Khansa sendiri (kalau LDM kan tidak ada kontak fisik antara ayah dan anak setiap hari). Sebenarnya orang bebas berpendapat sesuai dengan keyakinan dan kondisi masing-masing ya kan. Sebetulnya tak ada yang salah mendidik anak ketika LDM atau tidak selagi orang tuanya dapat berkomunikasi dan memiliki kesepakatan-kesepatakan untuk mendidik dengan jarak jauh. Tapi, yang aku rasakan aku belum bisa memenuhi itu. Komunikasi perbedaan waktu menjadi tantangan buatku, apalagi suami pulang cuti dalam 3 bulan sekali (meski ga terasa waktu 3 bulan itu).
Aku terus memikirkan bagaimana jika aku ikut suami saja???? Apalagi ditambah keadaan saat itu tempat tinggal suami bersebelahan dan dipakai untuk karantina covid-19. Kupikir saatnya ini adalah waktu yang tepat untuk kembali bersama mendidik Khansa yang akan memasuki usia 3 tahun, dimana masa yang butuh perhatian juga dari ayahnya untuk lebih mengoptimalkan perkembangan Khansa.
Qadarullah, kisah covid-19 yang aku takuti, terjadi padaku, Khansa, dan wa Entin. Begitulah kisahnya, sebetulnya panjang banget, tapi apapun yang terjadi, itu pasti kehendak-Nya, dan kami tak bisa lari dari itu. Alhamdulillahnya, meski begitu, kami baik-baik saja. :') Masya Allah..
Setelah itu, pertengahan 2021, barulah keluarga kecilku pindah ke Papua.
- 2022
Banyak pelajaran yang aku ambil. Hidup bersama suami seru juga. Eh ternyata makin betah, tapi ya meski di sini hanya hutan, banyak teman kok, semuanya menginspirasi. Alhamdulillah 'ala kullihaal.
_bersambung_
Selasa, 01 Januari 2019
Perjuangan Pasangan LDM
Menjadi seorang istri itu ternyata tidaklah mudah. Bukan hanya
dengan adanya pernikahan, kita menjadi lega, melainkan waspada terhadap
tantangan yang akan datang di kemudian hari bersama pasangan kita. Kisahku
menikah ketika berkuliah di semester 5 merupakan patut direnungkan. Pasti
adanya godaan yang datang apalagi saat masih aktif berorganisasi. Syukurku
setelah menikah, suami mengizinkan aku untuk melanjutkan organisasi di kampus. Aku
dan suami ditakdirkan untuk LDM (long distance married), pada saat itu aku
berkuliah di Bandung dan suami kerja di Kuala Kencana – Papua. Usiaku dan suami
berbeda tiga tahun. Selama aku menikah diusia tergolong muda, yaitu 20 tahun,
tapi tidak ada salahnya untuk terus belajar menjadi pribadi yang dewasa. Perjuangan
menjadi pasangan LDM itu membuatku mengerti bahwa kebersamaan suami istri
haruslah berkualitas. Bagaimana cara kita untuk menjalankan quality time bersama suami pada saat
masa cuti, apalagi cuti yang diberikan yaitu tiga minggu, namun disyukuri sajalah.
Tinggal kita mengatur strategi bahwa pertemuan yang singkat itu dijadikan bermakna
bagiku dan suamiku.
Suamiku adalah seorang pria yang memiliki cara tersendiri untuk
mengatur hidupnya dan terorganisir, serta aku harus taat mengikuti sistem yang
dibuat suami untuk mengatur hidupnya, contohnya aku diajarkan oleh suamiku
membuat: (1) proposal kebutuhan harian-bulanan (dikarenakan kami berhubungan
jarak jauh, suami memintaku untuk membuat proposal agar kebutuhan terpantau dan
terpenuhi). Isi dari proposal tersebut yaitu berupa kebutuhan harian seperti
belanja bahan makanan untuk sehari-hari sampai alat mandipun dicatat, barulah
ditotalkan estimasi harga dan pengeluaran yang ditulis olehku pada akhir bulan,
lalu kami evaluasi. Awalnya berat untuk melakukan semua itu, namun ya inilah
yang harus kulalui dan belajar untuk mengatur kebutuhan rumah tangga, dan
Alhamdulillah terbiasa; (2) aku diajarkan untuk membuat schedule time selama suami cuti, dari kurang lebih tiga minggu
cuti, aku dan suami berdiskusi dan menulis catatan untuk merencanakan kegiatan
apa saja yang akan dilakukan pada masa cuti tersebut, sehingga tidak ada waktu
yang terbuang sia-sia. Untuk urusan kegiatan dadakan, kami menyesuaikan, karena
kami hanya bisa merencanakan, namun Allah Swt. yang menentukan; (3) aku
diajarkan membuat pos-posan, seperti pos emergency,
pos bulanan suami-istri, pos investasi, pos infaq, dan lain-lain; (4) . ; dan 5)
aku disarankan untuk menjadi full time
mommy oleh suamiku.
Selasa, 04 Oktober 2016
Semester Tujuh
Senin, 12 Oktober 2015
Teman Sejati
Jumat, 26 Juni 2015
Indahnya menjemput Ridho Orang Tua dengan Cinta..
Deskripsi Diri berdasarkan Teori Psikoanalisis
Minggu, 03 Mei 2015
3 Mei 2015
Selasa, 03 Maret 2015
Catatan Kecil
Akan kujadikan engkau pangeran di setiap perjalanan kehidupanku..
Menjadikan yang terakhir untukku,
Sampai senja itu menelan waktuku..
Bandung, 3 Maret 2015
Rabu, 25 Februari 2015
Mama dan Bapakku Tersayang
Kamis, 29 Januari 2015
Ketika Ujian Hidup Melanda..
Rabu, 28 Januari 2015
Ajari Aku....
Rabu, 10 Desember 2014
Jangan Biarkan Kesejahteraan Kami Pergi..
Senin, 01 Desember 2014
Awal Desember 2014
Senin, 03 November 2014
Ketika Embun Tak Selamanya Putih
Menjunjung mahligai kebahagiaan
Guratan takdir yang amat dalam
Akankah hidup ini adalah ujian?
Embun datang dengan sejuknya
Tak lama, ia menjadi sosok misterius
Menyelami suhu yang amat dingin
Pagi merindukannya..
Ya, tak selamanya embun menjadi putih
Terlalu lama terdiam
Menyeringai penuh dalam pikiran
Tangan pun bergetar, mencari kehangatan
Singgasana menjadi godaan..
Ya, hidup dengan fatamorgana..
Kapankah akan realistis?
Semakin kuat, semakin diuji yang dahsyat pula
begitulah hidup, tak selamanya putih
Hingga pada akhirnya, kita menyadari..
Titik temu pada keabadian rasa,
Mewarnai hidup dengan penuh hikmah..
Karena embun tak selamanya putih..
Ia mempunyai enigma yang beragam..
Rabu, 08 Oktober 2014
Inilah diriku..
Senin, 22 September 2014
Semester III
Kamis, 07 Agustus 2014
Datang dan Pergi
Yang aku rasakan,
Kepada kakakku satu-satunya, Himmatushifa.
Long last with your husband <3



.jpg)