Selasa, 24 Mei 2011

Jagalah hatiku Ya Allah...

Jikalau hati ini sakit ya Allah
Jadikanlah raga ini lelah merasakannya
Jadikanlah raga ini ikhlas mengerjakan apa yang Kau perintah dan menjauhi apa yang Kau larang.
Jikalau raga ini yang sakit ya Allah
Jadikanlah hati ini kuat dan ikhlas menahan rasa sakitnya
Dan jadikanlah hati ini pelindung jikalau raga sudah memang sangat sakit menahan setiap ujian dan cobaan dari-Mu
Agar senantiasa mengucurkan semangat hidup dalam raga ini dan senantiasa meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan..

Ya Allah, jagalah hati ini...
Jangan sampai Kau pudarkan aku di sisi-Mu...
Jagalah hatiku untuk selalu bermunajat kepada-Mu..
Jangan sampai aku masuk kepada cinta yang dusta..

Kutelah merasakan apa yang kurasa saat ini,
Tapi mengapa aku berada didalam kesedihan yang nyata?
Apakah ini kodrat yang Kau beri?
Ku selalu bersyukur pada-Mu...

Ya Allah, aku ingin kuseperti orang-orang yang selalu berjuang untuk Allah..
Tetapi tidaklah lurus apa yang sudah kulakukan...
Ku memang bukan manusia yang seperti Ummu Fatimah yang selalu bersabar akan cobaan dan selalu beriman kepada Engkau...
Aku adalah manusia diakhir zaman yang selalu ingin berjuang melawan godaan-godaan didunia ini...

Senin, 23 Mei 2011

Andai Ku Menjadi Penghafal Al-Qur’an

Sebuah pesantren milik Yayasan Ibnu Siena Tangerang. Banyak santri-santri yang mempunyai kelebihan dalam menghapal Al-Qur’an. Terutama 30 Juz, semuanya dihapal dengan cara setiap pagi dan petang. Para santri itu kebanyakan dari luar Pulau Jawa, bahkan dari Luar Negeripun ada. Namun, biaya dipesantren tersebut sangat mahal, bila dihitung kira-kira Rp 1 juta perbulan.


“Aku ingin tinggal dipesantren itu, seandainya aku bisa bersekolah disana...” Shafira, gadis kecil berumur dua belas tahun sedang memerhatikan bangunan pesantren itu. 
“Kamu mau? Bilang aja ke mamamu.. sekarang kan kamu mau menginjak SMP.” Temannya berusaha untuk menyenangkan hatinya. 
“Tapi, mama dan papaku sudah tiada, sebenarnya dulu ketika mamaku masih hidup, ia ingin aku bersekolah disana.. Dengan sekuat tenaga mamaku mencari uang untuk membekalkan aku hidup dipesantren ini.. Tapi, Allah berkehendak lain.. Keinginan mamaku belum tercapai”. Shafira mengingat kenangan mamanya ketika ia sedang duduk di bangku kelas 5 SD. 
“Innalillahi.. Maaf ya Shafira, aku tak tahu bahwa orang tuamu sudah tiada, tapi kamu harus menjalankan keinginan mamamu.. Ayo! Semangat sahabatku..” Nabila berusaha untuk menyenangkan hatinya yang sedang galau. 
“Iya makasih yaa sahabatku..” Shafira akhirnya tersenyum kembali. Jalan berdua ditengah terik panasnya raja siang. 
“Oh ya, terus sekarang kamu tinggal bersama siapa?” Tanya Nabila. 
“Aku sekarang tinggal bersama paman dan bibiku. Pamanku sangat sayang padaku, seperti anaknya sendiri.. Tapi bibiku, selalu membiarkanku sedih dan selalu menyuruhku seperti pembantu”. 
Saat mendengarkan cerita Shafira, Nabila tersentuh dengan ceritanya. memelas kasihan.
“Sabar ya Fir.. Allah sedang mengujimu untuk terus berusaha dan tidak pernah putus asa. Aku akan mendukungmu kawan!” Memberikan senyuman kepada Shafira. 
“Yaa, makasih juga kawan, kau sudah membuatku semangat untuk menjalani hidup ini.. Terima kasih Ya Allah..” terharu.
Setelah mereka berjalan melewati pesantren itu, mereka kembali menuju rumahnya masing-masing. 
“Aku pulang duluan ya Fir.. Semoga kau baik-baik aja dengan pamanmu..” 
“Iya, sekali lagi makasih ya.. Amin.. Hati-hati ya..” Sambil membelokkan sepedanya ke arah rumahnya. 

Dirumah, Shafira langsung menuju kamarnya. Tiba-tiba bibinya datang dan menyuruhnya membeli makanan untuk makan siangnya. 
“Fir.. beliin bibi lauk pauk buat nanti makan siang”. Baru saja Shafira datang ke rumah, sudah disuruh pergi lagi keluar. 
Nasib Shafira kian penuh dengan cobaan. Dengan kesabarannya yang tinggi, hingga mengikhlaskan semuanya. 
“Ya Allah, sampai kapan aku terus begini? Padahal aku kesini hanya ingin bersekolah di Pesantren Ibnu Siena itu” Hati kecilnya bicara. 
Sebenarnya, Shafira tinggal di Bogor. Tetapi karena Shafira ditinggal ayahnya, ia langsung diasuh oleh pamannya. Tujuannya Shafira hanya ingin bersekolah di Pesantren itu. Karena ia bercita-cita ingin keluar negeri dan melanjutkan kuliah disana. 
“Aku ingin kuliah di Mesir” Tekadnya.
Pulang dari warung, Shafira ingin membujuk bibi dan paman untuk menyekolahkan dia sampai dia tamat SMA. Tapi dia sepertinya tidak berani untuk mengungkapkannya kepada bibi, karena dia hanya menumpang dirumah ini. Justru ia harus berterima kasih. Akhirnya didalam hatinya bangkit untuk mengungkapkan apa yang ingin dia katakan. Walaupun sedikit canggung untuk mengungkapkannya.  
“Bi, boleh ga aku tinggal dipesantren? Yang didekat rumah ini?” Mulutnya bergetar.
“Memangnya kau sanggup untuk membayar Rp 1 juta sebulan?” Shafira tersinggung. 
“Bi, tapi aku ingin seperti mereka yang bisa menghapal Al-Qur’an dalam 30 Juz. Hebat banget kan?” tak kalah untuk mengucapkan kembali. 
Bibinya sangat cuek dan tertawa seakan menghinanya. 
“Ehmmm, memangnya nyari uang itu gampang ya, sampai Rp 1 juta sebulan?  Mendingan kamu mengaji tiap habis maghrib aja disana. Kalo itu baru gratis.” Lalu diam sejenak dan mengucapkan kata-kata yang tidak menyenangkan hati, bahkan membuat hati Shafira panas. 
“Ya Allah, memang benar apa yang diucapkan bibi, aku memang ga punya uang sedikitpun, malah aku dibekali oleh bibi untuk kehidupan sehari-hari”. Pasrah didalam hatinya melihat keadaan ini.
Walaupun akhirnya Shafira hanya diizinkan pada waktu ba’da maghrib, ia tetap senang dan bersyukur, karena ia masih bisa mengaji dipesantren itu. 
“Aku ingin mencari ilmu, gak apa-apa deh hanya mengaji ba’da maghrib aja dan aku ingin benar-benar bisa menghapal isi ayat Al-Qur’an itu”.

Setiap harinya Shafira tetap setia pergi ke pesantren itu, meski hanya ba’da maghrib saja. Shafira tetap bertekad ingin benar-benar belajar. Tetapi, yang menjadi masalahnya, Shafira selalu diperlakukan seperti pembantu di rumah bibinya. Shafira ingin bertahan walau sakit itu terus ada dibenaknya demi belajar menghapal Al-Qur’an.   

Paman selalu pulang malam, jadi tak heran kalau Shafira benar-benar baik-baik saja bersama bibinya. Padahal sangat fatal atas perlakuan bibinya terhadap Shafira pada siang hari. Dan betapa sedihnya Shafira pada waktu itu. Paman selalu membela ia, sedangkan bibinya sangat membencinya. Meskipun bibinya adalah bibi yang baik, tetapi bibinya selalu memarahi dia ketika dia melakukan kesalahan walau sedikit. Shafira ingin tinggal dipesantren itu, tapi bibi menolaknya. Akhirnya Shafira memutuskan untuk kabur dari rumah pamannya, dan pergi kembali ke Bogor.

Ketika pamannya mengetahui Shafira kabur dari rumahnya, pamannya segera menyusulnya ke Bogor. Tiba di Bogor, ternyata Shafira sudah pergi ke Kuningan untuk mencari pekerjaan. Pamannya sangat terlambat untuk membujuknya supaya tetap tinggal dirumahnya. 
“Apa salahku sehingga dia pergi dari rumah tanpa sepengetahuanku?” Sambil terisak-isak pamannya mengeluarkan air mata dan merasa bersalah. 
“Tidak apa-apa, dia hanya ingin mencari pekerjaan agar mendapat uang untuk bekalnya”. Ujar tetangganya. 
“Memangnya sebenarnya Shafita mau pergi kemana?” Tanya paman menahan tangisnya. 
“Shafira ingin bersekolah di Pondok Pesantren Ibnu Siena. Karena ia ingin menghapal Al-Qur’an agar ia bisa lanjut study ke Mesir. Tapi ia tidak punya apa-apa”. Dengan hati yang penuh rendah diri, tetangga yang dibelakang rumah Shafira itu. 
Selesai perbincangan antara tetangga Shafira dengan pamannya. Tak lama kemudian mereka pergi kerumahnya dengan rasa bersalah dan bibinya tenang-tenang saja bahkan tidak merasakan apapun (kejam).
   
Paman Shafira tiba-tiba berfikir atas apa yang diinginkan Shafira. 
“Kenapa ia tidak bicara denganku kalau ia ingin pesantren?” bertanya pada hati. 
Pada waktu itu, paman segera  mencari-cari Shafira ke Kuningan. 
“Tenang Shafira, paman akan membantumu agar kau bisa menggapai cita-citamu study ke Mesir. Tapi kamu masih terlalu kecil untuk bekerja. Usiamu pantas untuk belajar, bukan bekerja”. Ujarnya dalam hati.
Paman terus mencari Shafira tanpa lelah. Seharian paman mencari keberadaan Shafira dilingkungan Kuningan. Allah belum memberinya petunjuk. Tapi paman tak berputus asa untuk mencarinya. 
“Shafira, kemana kau pergi? Kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri..” Paman selalu mengingatnya dan tubuhnya mulai melemah.

Ketika paman jatuh pingsan dan lemah jantungnyapun kambuh, ia dibawa ke rumah sakit terdekat. Sampai 5 jam ia belum sadar juga. Beberapa menit kemudian, ia siuman dan kondisi badan belum stabil. Paman ingin bertemu dengan Shafira sebelum ia meninggalkannya. Saat itu, pamannya menelepon Polisi untuk mencari Shafira. Sudah sehari Shafira belum ditemukan juga. Paman makin hawatir akan keberadaannya. Tapi, paman Shafira tak lelah berdoa kepada Sang Khaliq untuk memberikan petunjuk kepada Shafira.
Paman masih berada di rumah sakit, sudah dua hari paman tinggal dirumah sakit itu. Dan Polisi terus mencari Shafira. Saatnya tiba! Shafira sudah ditemukan. Polisi memintanya untuk segera kerumah sakit secepatnya. Akhirnya Shafira menyetujuinya. Shafira bergegas menemui pamannya. Paman berada dikamar ICU, paman sangat senang bertemu dengan Shafira untuk terakhir kalinya. 
“Paman senang bertemu denganmu.. Paman mencarimu kemana-mana dan akhirnya paman jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit ini..” Ujar pamannya. 
Shafira sangat menyesal akan keberadaannya yang mencari kerja untuk menghidupi dirinya sendiri. 
“Paman, maafkan Fira telah merepotkan paman.. Tapi Shafira ingin mempunyai biaya agar bisa sekolah disana..” Terbaring disamping pamannya. 
“Fira, paman ga tega ngeliat kamu seperti ini.. Cita-cita masih bisa digapai, dan waktumu adalah belajar, bukan mencari uang..” Paman sambil batuk-batuk dan kian melemah. 
Karena ia tidak ingin mengecewakan semuanya, Shafira tetap tegar menghadapinya. 
“Hmmm...” Sambil mengangguk-ngangguk Shafira memberikan senyuman. 
Paman menatap Shafira dengan rasa yang ingin dikenangnya. Senyuman terakhirnya merasa Shafira akan ditinggalkan oleh paman kesayangannya itu. Lalu, pamannya berbisik kepadanya dan membawa sesuatu dari tasnya, 
“Fir.. Ini ada kartu ATM milik paman, passwordnya adalah 1122334455. Jika kamu memang benar-benar ingin bersekolah disana, ambillah ATM ini. Disitu ada uang banyak hasil tabungan paman. Semoga bermanfaat untuk bekal kamu dan jangan sampai dihabiskan untuk berfoya-foya. Kelak, jika kau sudah beranjak kuliah, uang dari ATM ini masih ada untuk membayar kuliahmu. Nanti saat kau lulus kuliah, kamu mencari kerja dan akhirnya kau mempunyai uang sendiri. Maafkan paman jika ini saatnya paman harus pergi.” Sesudah panjang lebar ia mengatakannya, matanya selalu berkaca-kaca. 
“Paman, Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikanmu. Aku kan selalu berdoa untuk paman. Terimakasih paman, hatimu bagai malaikat penolong.” Shafira tak bisa menahan air matanya yang jatuh ke lantai. 
“Laailaahailallah.. Muhammadarrasulullah...” Kalimat yang diucapkan oleh paman itu, akhirnya bisa terbawa dalam penutup kehidupan dunia. 

Paman yang shaleh, selalu berbuat kebaikan di dunia. Akhirnya meninggal dengan tenang. Dan Shafira, bisa melanjutkan study di Ibnu Siena. Alhasil, Shafira menjadi seorang perempuan yang kuat dan selalu berjuang untuk dirinya dan belajar hanya karena Allah SWT.
                                                  “THE END”

Jumat, 20 Mei 2011

Dalam Kesendirianku

Ya Allah, aku tak ingin menyiksa diri sendiri. Terasa sejuk dan tangisanku membasahi pipi, ingat akan cinta-Mu.. Namun, perjalanan ini tak ada yang bahagia dan sedih. Semua bercampur dalam kehidupanku..
Ku ingin terus berlari mencari-Mu, ku ingin Kau selalu ada disini, di hati..
Sungguh hati ini tenang bila dekat dengan-Mu..
Dalam kesendirianku, aku bermuhasabah..
Mungkin ku terlalu banyak godaan dan cobaan, mungkin ku tak seperti yang lain..
Dalam kesendirianku, ku selalu tenang..
Dimalam hari, ku terbangun.. Mengingat Engkau, memohon Kau selalu ada disini, dihatiku..
Ku mohon pada-Mu Yaa Rabb.. Janganlah Kau masukkan aku kedalam golongan orang-orang yang tak mensyukuri nikmat-Mu dan orang yang tidak beriman kepada-Mu.....

Rabu, 04 Mei 2011

Kejutan

Alhamdulillah.... Aku bersyukur dan berterima kasih kepada Presiden OSIS dan Kementerian Agama yang membuatku terharu dengan pesan-pesan yang disampaikannya... Jazakallahu khairan katsira :)



May 3, 2011 at School

Senin, 11 April 2011

Psikologi Humanistik

Perkembangan psikologi humanistik tidak lepas dari pandangan psikologi holistik dan humanistik. Pekembangan aliran-aliran behaviorisme dan psikoanalisis yang sangat pesat di Amerika Serikat ternyata merisaukan beberapa pakar psikologi di negara itu. Mereka melihat bahwa kedua aliran itu memandang manusia tidak lebih dari kumpulan refleks dan kumpulan naluri saja.
Mereka juga menganggap kedua aliran itu memandang manusia sebagai makhluk yang sudah ditentukan nasibnya, yaitu oleh stimulus atau oleh alam ketidakkesadaran manusia. Dan yang tidak kalah penting, mereka berkesimpulan bahwa kedua aliran itu menganggap manusia sebagai robot atau sebagai makhluk yang pesimistik dan penuh masalah.
Humanistik mengatakan bahwa manusia adalah suatu ketunggalan yang mengalami, menghayati dan pada dasarnya aktif, punya tujuan serta punya harga diri. Karena itu, walaupun dalam penelitian boleh saja dilakukan analisis rinci mengenai bagian-bagian dari jiwa manusia, namun dalam penyimpulanya, manusia harus dikembalikan dalam kesatuan yang utuh. Pandangan seperti ini adalah pandangan yang holistik. Selain itu manusia juga harus dipandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, perkembangan pribadinya, perbedaan-perbedaan individunya dan dari sudut kemanusiaanya itu sendiri. Karena itu psikologi harus memasuki topik-topik yang tidak dimasuki oleh aliran behaviorisme dan psikoanalisis, seperti cinta, kreatifitas, pertumbuhan, aktualisasi diri, kebutuhan, rasa humor, makna, kebencian, agresivitas, kemandirian, tanggung jawab dan sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan humanistik.
Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama, yaitu, psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia. Kedua, ia menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia. Ketiga, ia menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi.
Humanistik tidak jelas kaitannya dengan ekologi psikologi. Pada satu sisi, Humanistik tempat yang paling berkuasa atas nilai potensial untuk pengembangan individu.  Ini nilai-nilai pengalaman manusia dan kemampuan manusia untuk melampaui pikiran dengan lingkungan sekitarnya, dengan cara yang kreatif.  Jadi dalam hal Humanistik untuk manusia dan pengalaman. Humanistik adalah ilmu manusia untuk menangkap pengalaman dalam semua keindahan yang subjektif.  Ini yang menyebabkan sebuah penekanan atas berbagai  metode fenomenologi yang bertujuan untuk mendapatkan semaksimal mungkin jati diri manusia.

Senin, 04 April 2011

Kerinduan



            Syifa, nama panggilan dari Syifatun Hasanah. Seorang gadis kecil yang lembut, lucu dan shalehah, membuat semua orang kagum kepadanya. Termasuk dua abangnya itu, Fauzi dan Fauzan. Mereka sangat rukun dan tidak pernah berkelahi. Karena Syifa adalah adik kesayangannya, mereka selalu ingin diperhatikan oleh adiknya itu. Tetapi kedua orang tuanya sangat tidak memerhatikan mereka. Ibu dan ayahnya sibuk, sibuk, dan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
            Suatu hari ketika mereka akan pergi berangkat kesekolah, sangat memprihatinkan. “Ayah, Ibu dimana kalian?” Syifa mencari-cari orang tuanya. “Neng, ayah dan ibu sedang pergi keluar dari pagi sekali.” Jawab pembantunya. Syifapun terdiam dan akhirnya sarapan sendiri. “Ayah ibu mana fa? Kok sepi gini?” datang Fauzi. “Ga tau bang, aku ga tahan hidup sendirian kayak gini, orang tua sudah ga peduli sama anaknya lagi cuma karena pekerjaan.” Syifa menangis tersedu. Fauzi menjawabnya dengan perlahan, “Syifa adikku, mereka juga butuh uang untuk menghidupi kita, memenuhi kebutuhan kita, kita juga harus bersikap dewasa karena kita bukan anak kecil lagi”.  “Iya dik.. benar kata abangmu, kamu tidak sendirian, Allah selalu ada bagimu dan kita juga ada bagimu”. Sambung Fauzan. “Iya deh bang, tapi aku juga tubuh kasih sayang”. “Syifa, kita semua sayang kamu kok.. udah biarin aja mereka sibuk dengan sendirinya. Nanti juga sadar sendiri”. “Sekarang, cepetan sarapan, nanti telat lagi”. Dengan tenang mereka pergi kesekolah tanpa didampingi orang tuanya.
            Ketika disekolah pada jam istirahat, ayah Syifa meneleponnya. “Kriiiing..Kriiiing..” handphone Syifa berbunyi. “Haloo.. Assalamu’alaykum ayah, ada apa yah?”. “Wa’alaykumussalam, sayang..  Ada berita bagus.”  “Berita bagus apa?” dengan cuek Syifa menjawabnya. “Kita akan pindah ke Singapore, kau akan bersekolah disana”. Terus terang ayah mengabarkan berita bahagia itu. Namun dihati Syifa, tidak sedikitpun bahagia atas keputusan orang tuanya. “Yah, aku ga mau pergi kesana! Aku sudah sangat betah dengan hidup di negeri ini. Kenapa sih yah, cuma karena uang kita menjadi jauh?” sebalnya. “Syifa, dengerin ayah dulu.. Ibu juga setuju kita pergi kesana... Kita bisa bersenang-senang disana” jawab ayah. “Yah, emangnya Indonesia ini kurang apa lagi? Ku sudah cukup senang hidup di Indonesia ini. Apakah ayah tidak tau? Indonesia juga kaya, pemandangannya indah-indah. Kita juga harus bersyukur yah. Hidup bukan untuk berfoya-foya, bukan hanya untuk bersenag-senang, tapi hidup itu yang penting untuk beribadah kepada Allah yah!” Syifa menutup handphonenya dengan rasa kecewa atas keputusan ayahnya yang egois.
            Setelah istirahat, Syifa melakukan dispense pergi ke sekolah abangnya. Tiba disekolah abangnya, ia segera menuju kelasnya walaupun mereka sedang belajar. “Abang Fauzi, abang Fauzan...” Fauzi dan Fauzan mendengar suara Syifa dari arah belakang kelasnya itu. Dan mereka segera pergi ke arah suara itu muncul. “Syifa? Ada apa kesini?” Tanya Fauzi. “Bang, ayah menelepon abang ga?” Resah Syifa. “Oh iya (melihat handphone) ada panggilan tak terjawab dari ayah..”Ujar Fauzi. “Memangnya ada apa?” Fauzan bingung. Syifa menenangkan hatinya terlebih dahulu untuk rilex berbicara dengan nyaman dan tidak tergesa-gesa. “Kita bakalan pindah ke Singapore bang!” akhirnya Syifa menangis lagi. “Apaaa?!” mereka berdua kaget atas apa yang diucapkan adiknya itu. “Kita harus gimana bang, aku ga mau pindah kesana.. Aku udah betah disini.. Aku ingin tinggal disini aja, ibu juga sudah setuju untuk pergi kesana.. Biarlah mereka saja yang kesana!!” Syifa membenci keputusan ayah.  “Kita liat aja nanti..” jawab abangnya singkat.
            Syifa menelepon ibunya saat ia mengetahui berita ini. “Kriing... Kriiiing.. Kriiing...” Handphone ibu berbunyi. “Halo, Assalamu’alaykum.. Ada apa sayang?” Tanya ibu dengan tenang. “Bu, apa benar ibu setuju pindah ke Singapore?” Resah Syifa. “Iya nak, ibu sangat setuju.. Memang kenapa? Oh iya, ibu minta maaf tadi belum keburu ngasih taunya. Soalnya ada meeting dikantor, maaf ya..” Ujarnya. “Bang, dia aja ga ada waktu untuk memberi tahukan kita, mungkin ibu udah lupa kalo ga ditelepon sama aku”. Sedihnya dan mengeluh kepada abangnya. “Yaudah deh bu, maaf ganggu!” dengan nada yang agak tinggi Syifa menjawabnya, lalu mengakhiri pembicaraannya. 
            Tiba di rumah, Syifa, Fauzi dan Fauzan pergi ke kamar masing-masing dan mengunci kamarnya. Ayah dan ibunya datang kerumah secara bersamaan ingin membicarakan tentang keberangkatan ke Singapore. Ibu dan ayah menuju kamar Syifa, dan pintunya dikunci. “Sayang, buka dong pintunya.. Ibu dan ayah mau bicara dengan kamu sayang.. Ayo buka pintunya” sambil mengetuk pintu. “Bu, aku ga mau pindah dari sini. Walaupun ibu terus memaksa kami, kami tetap tidak mau pergi kesana.. Ibu aja yang pergi kesana dengan ayah! Ibu sudah tidak peduli dengan apa yang kita butuhkan. Ibu selalu tak ada ketika aku membutuhkan ibu. Ayah juga, selalu saja ketika aku membutuhkan sesuatu kepada ayah, ayah selalu sibuk dengan urusan dunia! Ibu, ayah... Aku butuh perhatian dari kalian.. Aku merasa kasih sayang ibu dan ayah kepada kami mulai berkurang saat kalian mendapat pekerjaan baru yang sangat sibuk. Memang, kebutuhanku terpenuhi. Tapi aku rindu seperti dulu. Hidup sederhana kita selalu bersama. Aku hanya ingin kasih sayang. Bukan karena uang”. Panjang lebar dia mengeluh kepada orang tuanya. Ibu dan ayah merasa tidak berdaya lagi ketika Syifa berbicara seperti itu. “Ya Allah, apakah selama ini kami kurang mendidik anak hingga terlepas dengan kasih sayang kami? Ya Allah, maafkan kami.. Kami lalai dalam mendidik dan berbagi kasih sayang bersama keluarga.. Maafkan kami Ya Allah, hingga akhirnya anak-anak kami membenci kami.. Ya Allah...” Ibu menangis tanpa henti, dan ayah sangat terpukul atas keputusannya tidak profesional.
            Fauzi dan Fauzan keluar dari kamarnya dan menghampiri ibu dan ayah. Ibu, ayah.. jangan bersedih.. Maafkan kami jika kami seperti ini kepada ayah dan ibu. Tapi ada benarnya juga kata Syifa, kita rindu dengan kasih sayang ibu dan ayah yang dulu.. Beda banget dengan yang sekarang.. Kita saling menjauh karena urusan kerja yang selalu ada dipikiran ayah dan ibu”. Fauzan menambahkan.

            “Nak... Ayah dan ibu minta maaf yang sebesar-besarnya.. Mungkin yang kami lakukan belum tentu baik dimata kalian, yang selalu mengedepankan pekerjaan daripada kalian.. Kami minta maaf sayang..” Ibu memohon minta maaf kepada Syifa. Syifa akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar yang tadinya dikunci. “Ibu, ayah.. Sudah jangan menangis, mungkin ini salah kami juga, terlalu ingin diperhatikan.. Tapi, inilah kami yang ingin selalu dekat kalian.. Liat bu, ibu pernah berpikir ga, orang-orang di negeri Palestine yang sekarang yang selalu di jajah dan dikekang oleh tentara kafir itu memohon kepada Allah agar mereka (korban-korban) dipersatukan kembali dengan keluarganya.. Sementara kita, yang hidupnya serba berkecukupan dan seharusnya selalu bersama, ga ada hambatan untuk bertemu.. Kita harus bersyukur bu.. maka dari itu aku sangat rindu dengan pelukan ibu dan kasih sayang ayah..” Mendengar Syifa menangis, ibu pun termenung.
            “Mulai sekarang, ibu akan selalu di dekat kalian.. Seperti dulu lagi, ibu akan berjuang dan mengedepankan kehidupan kalian daripada pekerjaan ibu..” Ibu mulai tersadarkan ketika Syifa menceritakan tentang kehidupan Palestine sekarang. “Ayah juga... Ayah ga akan lembur lagi kecuali kalian izinkan.. maafkan ayah juga ya nak...”
            Ayah, ibu, Syifa, Fauzi dan Fauzan saling berpelukan. Karena orang tua seharusnya mengetahui apa yang diinginkan oleh anaknya. Entah itu kasih sayang dan ketulusan yang diberikan kepada anaknya. Mereka memang perlu didikan orang tua. Hasil survey, banyak kejadian yang seperti ini. Orang tuanya hanya memberikan uang untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan kasih sayangnya tidak ada. Padahal anak-anak merindukannya.
            Dan akhirnya, mereka hidup bersama dan selalu ada bagi anak-anaknya. Kasih sayang yang di rindukannya selama bertahun-tahun, disinilah mereka menemukan kerinduan kembali. “Alhamdulillah Ya Allah.. Aku bersyukur keluargaku bersatu kembali.. semoga kita bersatu untuk selamanya....” Syifa merasa bahagia atas kasih sayang orang tuanya yang selama ini ia rindukan, menjadi kembali seperti dulu yang selalu bahagia walaupun sederhana.
                   
           

Kamis, 03 Maret 2011

Sebuah Ingatan Kecil Untuk Para Akhwat



Pasti semua manusia mempunyai rasa sayang dan rasa cinta. Tapi, disaat rasa itu tumbuh ketika kita menikah. Sedangkan kita harus belajar terlebih dahulu untuk sukses dan membuat orang tua bangga. Memang, hidup ini susah jika kita tidak menikmatinya dengan ikhlas. Adakalanya kita terpaut kepada kemarahan, kekesalan, kebohongan, kebencian, dan sifat negatif lainnya. Terutama pada menjaga hati dan pandangan.
Menjaga pandangan dan hati tidaklah sulit untuk dilaksanakan, tergantung kita berniat atau tidak. Mungkin kalian bilang, menjaga hati itu susah. Ya kan? Ana juga merasakan hal itu. Tapi kita harus tau, dimana saat perasaan itu muncul, kita harus memanage hati kita sekuat mungkin. Kalian pasti bisa!! . Apa sih yang ga bisa kalo kita berniat untuk lebih baik lagi? Kenapa tidak? Kita hidup didunia ini kan hanya sementara, manfaatkanlah hidup kita dibarengi dengan Taqwa, pasti indah deh.. Ana yakin J Ya, ana sama dengan kalian. Mempunyai rasa sayang, tapi itu fitrah manusia bukan? Ana juga lagi berusaha agar setiap langkah ana menjadi ikhlas dan karena Allah SWT.
Balik lagi ke materi menjaga hati dan pandangan, hehe.. Salah satunya yang membuat hati ini semakin membusuk, kotor dan keras membatu adalah tidak pandainya kita menahan pandangan. Barang siapa yang ketika di dunia ini tidak mahir menahan pandangan, gemar melihat hal-hal yang diharamkan Allah, maka jangan terlalu berharap dapat memiliki hati yang bersih. Umar bin Khattab pernah berkata, "Lebih baik aku berjalan di belakang singa daripada berjalan di belakang wanita." Orang-orang yang sengaja mengobral pandangannya terhadap hal-hal yang tidak hak bagi dirinya, tidak usah heran kalau hatinya lambat laun akan semakin keras membatu dan nikmat iman pun akan semakin hilang manisnya.
Nah, Umar Bin Khattab aja berani berbuat seperti itu? Mendingan berjalan dibelakang singa dari pada berjalan dibelakang wanita. Hihi.. (Merasa wanita). Buat para Akhwat yang dicintai Allah, Allah pasti melindungi kita dari segala marabahaya yang akan menimpa kita. Makanya, kita harus selalu ingat kepada Allah dalam kondisi apapun. Jika kita tidak sabar untuk menghadapi musibah, rugilah kita. Tidak mendapat pahala disisi Allah. Kita lah (kaum wanita) yang seharusnya menjaga aurat kita. Apa kalian mau digoda sama para lelaki yang berpenyakit hatinya? Pasti tidak mau kan? Itu berakibat fatal dan mengumbar nafsu para kaum lelaki. Semoga kita dilindungi Allah ... Amin.
Nah, wanita itu penyebab dari kekacauan imannya para ikhwan. Syukur kalo ikhwan tersebut bisa menjaga pandangannya dan selalu beristigfar apa yang sedang dirasakannya. Jadi, ayolah kita menahan pandangan dan menjaga hati, serta tidak mengumbar nafsu para lelaki. Tapi, berusahalah menjadi wanita yang Shalehah.. Orang tua kita pasti senang dengan kita. Mereka pasti menganggap bahwa mereka tidak sia-sia mendidik anaknya untuk bertaqwa kepada Allah dan menghormati orang tuanya. Pasti orang tua kita bahagia.
“Ubahlah sikapmu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Ingat hidup ini Cuma 1 kali! J

Selasa, 01 Maret 2011

Belajar Dari Wajah



Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.
Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah.
Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.
Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.
Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu, bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.
Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.
Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.
Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.
Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.
Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.
Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!
Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, Subhanallaah.