Senin, 11 April 2011

Psikologi Humanistik

Perkembangan psikologi humanistik tidak lepas dari pandangan psikologi holistik dan humanistik. Pekembangan aliran-aliran behaviorisme dan psikoanalisis yang sangat pesat di Amerika Serikat ternyata merisaukan beberapa pakar psikologi di negara itu. Mereka melihat bahwa kedua aliran itu memandang manusia tidak lebih dari kumpulan refleks dan kumpulan naluri saja.
Mereka juga menganggap kedua aliran itu memandang manusia sebagai makhluk yang sudah ditentukan nasibnya, yaitu oleh stimulus atau oleh alam ketidakkesadaran manusia. Dan yang tidak kalah penting, mereka berkesimpulan bahwa kedua aliran itu menganggap manusia sebagai robot atau sebagai makhluk yang pesimistik dan penuh masalah.
Humanistik mengatakan bahwa manusia adalah suatu ketunggalan yang mengalami, menghayati dan pada dasarnya aktif, punya tujuan serta punya harga diri. Karena itu, walaupun dalam penelitian boleh saja dilakukan analisis rinci mengenai bagian-bagian dari jiwa manusia, namun dalam penyimpulanya, manusia harus dikembalikan dalam kesatuan yang utuh. Pandangan seperti ini adalah pandangan yang holistik. Selain itu manusia juga harus dipandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, perkembangan pribadinya, perbedaan-perbedaan individunya dan dari sudut kemanusiaanya itu sendiri. Karena itu psikologi harus memasuki topik-topik yang tidak dimasuki oleh aliran behaviorisme dan psikoanalisis, seperti cinta, kreatifitas, pertumbuhan, aktualisasi diri, kebutuhan, rasa humor, makna, kebencian, agresivitas, kemandirian, tanggung jawab dan sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan humanistik.
Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama, yaitu, psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia. Kedua, ia menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia. Ketiga, ia menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi.
Humanistik tidak jelas kaitannya dengan ekologi psikologi. Pada satu sisi, Humanistik tempat yang paling berkuasa atas nilai potensial untuk pengembangan individu.  Ini nilai-nilai pengalaman manusia dan kemampuan manusia untuk melampaui pikiran dengan lingkungan sekitarnya, dengan cara yang kreatif.  Jadi dalam hal Humanistik untuk manusia dan pengalaman. Humanistik adalah ilmu manusia untuk menangkap pengalaman dalam semua keindahan yang subjektif.  Ini yang menyebabkan sebuah penekanan atas berbagai  metode fenomenologi yang bertujuan untuk mendapatkan semaksimal mungkin jati diri manusia.

Senin, 04 April 2011

Kerinduan



            Syifa, nama panggilan dari Syifatun Hasanah. Seorang gadis kecil yang lembut, lucu dan shalehah, membuat semua orang kagum kepadanya. Termasuk dua abangnya itu, Fauzi dan Fauzan. Mereka sangat rukun dan tidak pernah berkelahi. Karena Syifa adalah adik kesayangannya, mereka selalu ingin diperhatikan oleh adiknya itu. Tetapi kedua orang tuanya sangat tidak memerhatikan mereka. Ibu dan ayahnya sibuk, sibuk, dan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
            Suatu hari ketika mereka akan pergi berangkat kesekolah, sangat memprihatinkan. “Ayah, Ibu dimana kalian?” Syifa mencari-cari orang tuanya. “Neng, ayah dan ibu sedang pergi keluar dari pagi sekali.” Jawab pembantunya. Syifapun terdiam dan akhirnya sarapan sendiri. “Ayah ibu mana fa? Kok sepi gini?” datang Fauzi. “Ga tau bang, aku ga tahan hidup sendirian kayak gini, orang tua sudah ga peduli sama anaknya lagi cuma karena pekerjaan.” Syifa menangis tersedu. Fauzi menjawabnya dengan perlahan, “Syifa adikku, mereka juga butuh uang untuk menghidupi kita, memenuhi kebutuhan kita, kita juga harus bersikap dewasa karena kita bukan anak kecil lagi”.  “Iya dik.. benar kata abangmu, kamu tidak sendirian, Allah selalu ada bagimu dan kita juga ada bagimu”. Sambung Fauzan. “Iya deh bang, tapi aku juga tubuh kasih sayang”. “Syifa, kita semua sayang kamu kok.. udah biarin aja mereka sibuk dengan sendirinya. Nanti juga sadar sendiri”. “Sekarang, cepetan sarapan, nanti telat lagi”. Dengan tenang mereka pergi kesekolah tanpa didampingi orang tuanya.
            Ketika disekolah pada jam istirahat, ayah Syifa meneleponnya. “Kriiiing..Kriiiing..” handphone Syifa berbunyi. “Haloo.. Assalamu’alaykum ayah, ada apa yah?”. “Wa’alaykumussalam, sayang..  Ada berita bagus.”  “Berita bagus apa?” dengan cuek Syifa menjawabnya. “Kita akan pindah ke Singapore, kau akan bersekolah disana”. Terus terang ayah mengabarkan berita bahagia itu. Namun dihati Syifa, tidak sedikitpun bahagia atas keputusan orang tuanya. “Yah, aku ga mau pergi kesana! Aku sudah sangat betah dengan hidup di negeri ini. Kenapa sih yah, cuma karena uang kita menjadi jauh?” sebalnya. “Syifa, dengerin ayah dulu.. Ibu juga setuju kita pergi kesana... Kita bisa bersenang-senang disana” jawab ayah. “Yah, emangnya Indonesia ini kurang apa lagi? Ku sudah cukup senang hidup di Indonesia ini. Apakah ayah tidak tau? Indonesia juga kaya, pemandangannya indah-indah. Kita juga harus bersyukur yah. Hidup bukan untuk berfoya-foya, bukan hanya untuk bersenag-senang, tapi hidup itu yang penting untuk beribadah kepada Allah yah!” Syifa menutup handphonenya dengan rasa kecewa atas keputusan ayahnya yang egois.
            Setelah istirahat, Syifa melakukan dispense pergi ke sekolah abangnya. Tiba disekolah abangnya, ia segera menuju kelasnya walaupun mereka sedang belajar. “Abang Fauzi, abang Fauzan...” Fauzi dan Fauzan mendengar suara Syifa dari arah belakang kelasnya itu. Dan mereka segera pergi ke arah suara itu muncul. “Syifa? Ada apa kesini?” Tanya Fauzi. “Bang, ayah menelepon abang ga?” Resah Syifa. “Oh iya (melihat handphone) ada panggilan tak terjawab dari ayah..”Ujar Fauzi. “Memangnya ada apa?” Fauzan bingung. Syifa menenangkan hatinya terlebih dahulu untuk rilex berbicara dengan nyaman dan tidak tergesa-gesa. “Kita bakalan pindah ke Singapore bang!” akhirnya Syifa menangis lagi. “Apaaa?!” mereka berdua kaget atas apa yang diucapkan adiknya itu. “Kita harus gimana bang, aku ga mau pindah kesana.. Aku udah betah disini.. Aku ingin tinggal disini aja, ibu juga sudah setuju untuk pergi kesana.. Biarlah mereka saja yang kesana!!” Syifa membenci keputusan ayah.  “Kita liat aja nanti..” jawab abangnya singkat.
            Syifa menelepon ibunya saat ia mengetahui berita ini. “Kriing... Kriiiing.. Kriiing...” Handphone ibu berbunyi. “Halo, Assalamu’alaykum.. Ada apa sayang?” Tanya ibu dengan tenang. “Bu, apa benar ibu setuju pindah ke Singapore?” Resah Syifa. “Iya nak, ibu sangat setuju.. Memang kenapa? Oh iya, ibu minta maaf tadi belum keburu ngasih taunya. Soalnya ada meeting dikantor, maaf ya..” Ujarnya. “Bang, dia aja ga ada waktu untuk memberi tahukan kita, mungkin ibu udah lupa kalo ga ditelepon sama aku”. Sedihnya dan mengeluh kepada abangnya. “Yaudah deh bu, maaf ganggu!” dengan nada yang agak tinggi Syifa menjawabnya, lalu mengakhiri pembicaraannya. 
            Tiba di rumah, Syifa, Fauzi dan Fauzan pergi ke kamar masing-masing dan mengunci kamarnya. Ayah dan ibunya datang kerumah secara bersamaan ingin membicarakan tentang keberangkatan ke Singapore. Ibu dan ayah menuju kamar Syifa, dan pintunya dikunci. “Sayang, buka dong pintunya.. Ibu dan ayah mau bicara dengan kamu sayang.. Ayo buka pintunya” sambil mengetuk pintu. “Bu, aku ga mau pindah dari sini. Walaupun ibu terus memaksa kami, kami tetap tidak mau pergi kesana.. Ibu aja yang pergi kesana dengan ayah! Ibu sudah tidak peduli dengan apa yang kita butuhkan. Ibu selalu tak ada ketika aku membutuhkan ibu. Ayah juga, selalu saja ketika aku membutuhkan sesuatu kepada ayah, ayah selalu sibuk dengan urusan dunia! Ibu, ayah... Aku butuh perhatian dari kalian.. Aku merasa kasih sayang ibu dan ayah kepada kami mulai berkurang saat kalian mendapat pekerjaan baru yang sangat sibuk. Memang, kebutuhanku terpenuhi. Tapi aku rindu seperti dulu. Hidup sederhana kita selalu bersama. Aku hanya ingin kasih sayang. Bukan karena uang”. Panjang lebar dia mengeluh kepada orang tuanya. Ibu dan ayah merasa tidak berdaya lagi ketika Syifa berbicara seperti itu. “Ya Allah, apakah selama ini kami kurang mendidik anak hingga terlepas dengan kasih sayang kami? Ya Allah, maafkan kami.. Kami lalai dalam mendidik dan berbagi kasih sayang bersama keluarga.. Maafkan kami Ya Allah, hingga akhirnya anak-anak kami membenci kami.. Ya Allah...” Ibu menangis tanpa henti, dan ayah sangat terpukul atas keputusannya tidak profesional.
            Fauzi dan Fauzan keluar dari kamarnya dan menghampiri ibu dan ayah. Ibu, ayah.. jangan bersedih.. Maafkan kami jika kami seperti ini kepada ayah dan ibu. Tapi ada benarnya juga kata Syifa, kita rindu dengan kasih sayang ibu dan ayah yang dulu.. Beda banget dengan yang sekarang.. Kita saling menjauh karena urusan kerja yang selalu ada dipikiran ayah dan ibu”. Fauzan menambahkan.

            “Nak... Ayah dan ibu minta maaf yang sebesar-besarnya.. Mungkin yang kami lakukan belum tentu baik dimata kalian, yang selalu mengedepankan pekerjaan daripada kalian.. Kami minta maaf sayang..” Ibu memohon minta maaf kepada Syifa. Syifa akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar yang tadinya dikunci. “Ibu, ayah.. Sudah jangan menangis, mungkin ini salah kami juga, terlalu ingin diperhatikan.. Tapi, inilah kami yang ingin selalu dekat kalian.. Liat bu, ibu pernah berpikir ga, orang-orang di negeri Palestine yang sekarang yang selalu di jajah dan dikekang oleh tentara kafir itu memohon kepada Allah agar mereka (korban-korban) dipersatukan kembali dengan keluarganya.. Sementara kita, yang hidupnya serba berkecukupan dan seharusnya selalu bersama, ga ada hambatan untuk bertemu.. Kita harus bersyukur bu.. maka dari itu aku sangat rindu dengan pelukan ibu dan kasih sayang ayah..” Mendengar Syifa menangis, ibu pun termenung.
            “Mulai sekarang, ibu akan selalu di dekat kalian.. Seperti dulu lagi, ibu akan berjuang dan mengedepankan kehidupan kalian daripada pekerjaan ibu..” Ibu mulai tersadarkan ketika Syifa menceritakan tentang kehidupan Palestine sekarang. “Ayah juga... Ayah ga akan lembur lagi kecuali kalian izinkan.. maafkan ayah juga ya nak...”
            Ayah, ibu, Syifa, Fauzi dan Fauzan saling berpelukan. Karena orang tua seharusnya mengetahui apa yang diinginkan oleh anaknya. Entah itu kasih sayang dan ketulusan yang diberikan kepada anaknya. Mereka memang perlu didikan orang tua. Hasil survey, banyak kejadian yang seperti ini. Orang tuanya hanya memberikan uang untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan kasih sayangnya tidak ada. Padahal anak-anak merindukannya.
            Dan akhirnya, mereka hidup bersama dan selalu ada bagi anak-anaknya. Kasih sayang yang di rindukannya selama bertahun-tahun, disinilah mereka menemukan kerinduan kembali. “Alhamdulillah Ya Allah.. Aku bersyukur keluargaku bersatu kembali.. semoga kita bersatu untuk selamanya....” Syifa merasa bahagia atas kasih sayang orang tuanya yang selama ini ia rindukan, menjadi kembali seperti dulu yang selalu bahagia walaupun sederhana.
                   
           

Kamis, 03 Maret 2011

Sebuah Ingatan Kecil Untuk Para Akhwat



Pasti semua manusia mempunyai rasa sayang dan rasa cinta. Tapi, disaat rasa itu tumbuh ketika kita menikah. Sedangkan kita harus belajar terlebih dahulu untuk sukses dan membuat orang tua bangga. Memang, hidup ini susah jika kita tidak menikmatinya dengan ikhlas. Adakalanya kita terpaut kepada kemarahan, kekesalan, kebohongan, kebencian, dan sifat negatif lainnya. Terutama pada menjaga hati dan pandangan.
Menjaga pandangan dan hati tidaklah sulit untuk dilaksanakan, tergantung kita berniat atau tidak. Mungkin kalian bilang, menjaga hati itu susah. Ya kan? Ana juga merasakan hal itu. Tapi kita harus tau, dimana saat perasaan itu muncul, kita harus memanage hati kita sekuat mungkin. Kalian pasti bisa!! . Apa sih yang ga bisa kalo kita berniat untuk lebih baik lagi? Kenapa tidak? Kita hidup didunia ini kan hanya sementara, manfaatkanlah hidup kita dibarengi dengan Taqwa, pasti indah deh.. Ana yakin J Ya, ana sama dengan kalian. Mempunyai rasa sayang, tapi itu fitrah manusia bukan? Ana juga lagi berusaha agar setiap langkah ana menjadi ikhlas dan karena Allah SWT.
Balik lagi ke materi menjaga hati dan pandangan, hehe.. Salah satunya yang membuat hati ini semakin membusuk, kotor dan keras membatu adalah tidak pandainya kita menahan pandangan. Barang siapa yang ketika di dunia ini tidak mahir menahan pandangan, gemar melihat hal-hal yang diharamkan Allah, maka jangan terlalu berharap dapat memiliki hati yang bersih. Umar bin Khattab pernah berkata, "Lebih baik aku berjalan di belakang singa daripada berjalan di belakang wanita." Orang-orang yang sengaja mengobral pandangannya terhadap hal-hal yang tidak hak bagi dirinya, tidak usah heran kalau hatinya lambat laun akan semakin keras membatu dan nikmat iman pun akan semakin hilang manisnya.
Nah, Umar Bin Khattab aja berani berbuat seperti itu? Mendingan berjalan dibelakang singa dari pada berjalan dibelakang wanita. Hihi.. (Merasa wanita). Buat para Akhwat yang dicintai Allah, Allah pasti melindungi kita dari segala marabahaya yang akan menimpa kita. Makanya, kita harus selalu ingat kepada Allah dalam kondisi apapun. Jika kita tidak sabar untuk menghadapi musibah, rugilah kita. Tidak mendapat pahala disisi Allah. Kita lah (kaum wanita) yang seharusnya menjaga aurat kita. Apa kalian mau digoda sama para lelaki yang berpenyakit hatinya? Pasti tidak mau kan? Itu berakibat fatal dan mengumbar nafsu para kaum lelaki. Semoga kita dilindungi Allah ... Amin.
Nah, wanita itu penyebab dari kekacauan imannya para ikhwan. Syukur kalo ikhwan tersebut bisa menjaga pandangannya dan selalu beristigfar apa yang sedang dirasakannya. Jadi, ayolah kita menahan pandangan dan menjaga hati, serta tidak mengumbar nafsu para lelaki. Tapi, berusahalah menjadi wanita yang Shalehah.. Orang tua kita pasti senang dengan kita. Mereka pasti menganggap bahwa mereka tidak sia-sia mendidik anaknya untuk bertaqwa kepada Allah dan menghormati orang tuanya. Pasti orang tua kita bahagia.
“Ubahlah sikapmu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Ingat hidup ini Cuma 1 kali! J

Selasa, 01 Maret 2011

Belajar Dari Wajah



Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.
Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah.
Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.
Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.
Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu, bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.
Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.
Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.
Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.
Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.
Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.
Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!
Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, Subhanallaah.

Senin, 28 Februari 2011

Seni Menata Hati Dalam Bergaul



Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah.
1. Aku Bukan Ancaman Bagimu
Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih kalau kita simak Rasulullah Saw. bersabda, "Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari)
Hindari penghinaan
Apapun yang bersifat merendahkan, ejekan, penghinaan dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya, jangan pernah dilakukan, karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit hati serta rasa dendam.
Hindari ikut campur urusan pribadi
Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan.
Hindari memotong pembicaraan
Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan cara yang arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara yang tebak pada waktu yang tepat.
Hindari membandingkan
Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penampilan, harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa terhina.
Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya
Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula mencaci kawannya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah harus siap menjalani proses dan tahapan.
Hindari merusak kebahagiannya
Bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan merusak kebahagiaanya. Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung mendapatkan hadiah dari luar negeri, padahal kita tau persis bahwa barang tersebut buatan dalam negeri, maka kita tak perlu menyampaikannya, biarlah dia berbahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut.
Jangan mengungkit masa lalu
Apalagi jika yang diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutupi.
Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin disembunyikannya, termasuk diri kita, maka jangan pernah usil untuk mengungkit dan membeberkannya, hal seperti ini sama denga mengajak bermusuhan.
Jangan mengambil haknya
Jangan pernah terpikir untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan terhadap hak seseorang akan menimbulkan asa tidak suka dan perlawanan yang tentu akan merusak hubungan.. Sepatutnya kita harus belajar menikmati hak kita, agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain.
Hati-hati dengan kemarahan
Bila anda marah, maka waspadalah karena kemarahan yang tak terkendali biasanya menghasilkan kata dan perilaku yang keji, yang sangat melukai, dan tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun. Kita harus mulai berlatih mengendalikan kemarahan sekuat tenaga dan tak usah sungkan untuk meminta maaf andai kata ucapan dirasakan berlebihan.
Jangan menertawakannya
Sebagian besar dari sikap menertawakan seseorang adalah karena kekurangannnya, baik sikap, penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain sebagainya, dan ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.
Hati-hati dengan penampilan, bau badan dan bau mulut
Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan atau mulut kita, karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat orang lain merasa terusik kenyamanannya, dan cenderung ingin menghindari kita.
2. Aku menyenangkan bagimu
Wajah yang selalu cerah ceria
Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda, "Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta". (Sunan Abu Dawud).
Senyum tulus
Rasulullah senantiasa tersenyum manis sekali dan ini sangat menyenangkan bagi siapapun yang menatapnya. Senyum adalah sedekah, senyuman yang tulus memiliki daya sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati siapapun, senyum adalah nikmat Allah yang besar bagi manusia yang mencintai kebaikan. Senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong, angkuh, dan orang yang busuk hati.
Kata-kata yang santun dan lembut
Pilihlah kata-kata yang paling sopan dengan dan sampaikan dengan cara yang lembut, karena sikap seperti itulah yang dilakukan Rasulullah, ketika berbincang dengan para sahabatnya, sehingga terbangun suasana yang menyenangkan. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan, mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan.
Senang menyapa dan mengucapkan salam
Upayakanlah kita selalu menjadi orang yang paling dahulu dalam menyapa dan mengucapkan salam. Jabatlah tangan kawan kita penuh dengan kehangatan dan lepaslah tangan sesudah dilepaskan oleh orang lain, karena demikianlah yang dicontohkan Rasulullah.
Jangan lupa untuk menjawab salam dengan sempurna dan penuh perhatian.
Bersikap sangat sopan dan penuh penghormatan
Rasulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika sahabatnya melucu, dan ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan hal yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat diutamakan oleh Rasulullah.
Senangkan perasaannya
Pujilah dengan tulus dan tepat terhadap sesuatu yang layak dipuji sambil kita kaitkan dengan kebesaran Allah sehingga yang dipuji pun teringat akan asal muasal nikmat yang diraihnya, nyatakan terima kasih dan do’akan. Hal ini akan membuatnya merasa bahagia. Dan ingat jangan pernah kikir untuk berterima kasih.
Penampilan yang menyenangkan
Gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Menggunakan pakaian yang baik bukanlah tanda kesombongan, Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Allah.
Maafkan kesalahannya
Jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain kepada kita, karena hal ini akan membuat bahagia dan senang siapapun yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita, dan tentu hal ini pun akan mengangkat citra kita dihatinya.
3. Aku Bermanfaat Bagimu
Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari nilai manfaat yang ada dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik di antara manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi hamba-hamba Allah lainnya.
Rajin bersilaturahmi
Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang mendalam, apalagi jikalau membawa hadiah, insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang.
Saling berkirim hadiah
Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa saling memberi dan berkirim hadiah akan menumbuhkan kasih sayang. Jangan pernah takut miskin dengan memberikan sesuatu, karena Allah yang Maha Kaya telah menjanjikan ganjaran dan jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus.
Tolong dengan apapun
Bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, wakt atau setidaknya perhatian yang tulus, walau perhatian untuk mendengar keluh kesahnya.
Apabila tidak mampu, maka do’akanlah, dan percayalah bahwa kebaikan sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah.
Sumbangan ilmu dan pengalaman
Jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman yang ada pada diri kita bisa menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain.
Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka, kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan terasa nikmat, karena tidak mengharapkan sesuatu dari orang melainkan kenikmatan kita adalah melakukan sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah Swt.

Ku Menangis Disaat Ku Marah

 
                Pada minggu lalu, ku selalu terdiam memikirkan temanku. Bagaimana caranya agar ku tidak selalu menangis pada saat merasakan sesuatu. Ku lebih baik terdiam saat ku mulai marah. Walaupun tindakanku sangat konyol saat menangis di WC, karena kutahankan kemarahanku atau kesedihanku. Ku merasa lega karena ku bisa menangis. Aku sangat sedih bila temanku selalu membuatku tertekan. Ya, tentunya harus bertahan menghadapinya. Tapi kuselalu berusaha menghibur diri agar ku tidak menjadi gila karena hal sepele. Aku tak tahu sifatku seperti apa. Jika aku kinestetik, ku menemukan bukti-bukti bahwa ku kinestetik. Kenapa ya, kuselalu melakukan sesuatu dengan perasaanku mulu? Kalo logika sama intelektual mah jangan ditanya lagi, pasti hidup memerlukan itu semua.
                Herannya, mengapa disaat ku selalu merasakan hal aneh atau apa lah yang menimpaku selalu membuatku menangis. Entah itu karena terharu, menahan kemarahan, atau sedih karena tertekan? Terlalu gampang untuk dibuatnya. Walaupun ku rada-rada sebel sama temanku itu, tapi aku selalu pasrah dengan apa yang terjadi. Ya, mungkin karena ku ingin mereka bahagia. Ku tetap terdiam tanpa mengeluarkan kemarahan. Karena ku tahu, marah itu memang tidak baik dan membuat kita tertekan. Cobalah untuk melapangkan hati kita dan selalu bersabar agar kita tidak selalu mengikuti hawa nafsu, ya contohnya marah. Tapi marah yang mana dulu nih? Ada marah karena kebaikan dan ada juga marah karena hawa nafsu. Semoga kita selalu marah karena kebaikan dan marah karena Allah juga.                
                Ku tak mau panjang lebar menceritakan hal ini, karena pasti ada privacy gitu deh hehe... Tapi kesimpulan dariku, marah itu mendingan dikeluarkan pada saat yang tepat dan dikeluarkannya bukan hanya dari mulut, tapi dari hati juga. Agar kita selalu menginstropeksi diri kita, apakah kita sudah bisa menahan amarah atau belum. Jika amarah kita tidak diatur, habislah kita dengan rasa dendam atau bisa berakibat negatif.Jadi, lebih baik menangis daripada marah. Pada dasarnya, pasti menurut orang-orang kita tuh cengeng, gampang tersinggung lah, segala gampang pokoknya. INGAT! Hanya kita sendiri yang merasakan apa yang terjadi pada diri kita, bukan orrang lain kan? Mereka tidak tahu apa yang kita rasakan sekarang. So, don’t be sad... Cause Allah always in ours heart. Laa Tahzan, Innallaha ma’ana J