Selasa, 07 November 2017

Penguatan Pendidikan Karakter


Dalam rangka Dies Natalis UPI yang ke-63 di Bandung (20/10) sangat ramai. Kehadiran peserta mencapai 2000 orang karena pendaftaran yang gratis, mendapatkan sertifikat, dan snack. Tetapi, bukan hanya itu yang kami inginkan. Niat kami ingin mencari ilmu dari adanya seminar tersebut. Untuk sertifikat dan snack gratis mah bonus lah yaaa. Hehe. Dihadiri oleh Dr. (HC) Popong Otje D. yang sering disapa Ceu Popong, Prof. Uman Suherman, M.Pd. selaku guru besar Bimbingan dan Konseling UPI, dan Dr. Bambang W. selaku wakil ketua KPK.
Menurut T. Ramli (2003) dalam Fathurrohman, dkk. (2013, hlm. 15), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum ialah nilai-nilai sosial tertentu yang banyak dipengaruhi oleh karakter masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yaitu pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari karakter Bangsa Indonesia sendiri., dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Jadi dapat dipahami bahwa pendidikan karakter itu bermakna sama dengan pendidikan moral atau nilai (bukan dalam arti nilai=angka).
Nilai yang berada pada pendidikan karakter dapat diuraikan yaitu menurut Fathurrohman, dkk. (2013, hlm. 19) sebagai berikut: (1) religius; (2) jujur; (3) toleransi; (4) disiplin; (5) kerja keras); (6) kreatif; (7) mandiri; (8) demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10) semangat kebangsaan; (11) cinta tanah air; (12) menghargai prestasi; (13) bersahabat; (14) cinta damai; (15) gemar membaca; (16) peduli lingkungan; (17) peduli sosial; dan (18) tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang akan mencirikan bahwa kita adalah manusia yang berkarakter dan tentu pada saat lahir, manusia masih dalam kondisi suci, kemudian pendidikan karakter dimulai dari keluarga. Ya keluarga. Keluarga akan membawa anak itu menjadi manusia seperti apa (maksudnya bukan berubah jadi power ranger ya, hehe). Ceu Popong menjelaskan bahwa “karakter dibangun dari mulai keluarga. Masa golden age akan menentukan dia akan menjadi sarjana atau tidak, paling penting adalah indung!” (semangatnya Ceu Popong). Ibu- ibu harus tahu mengenai masa golden age anak, yaitu dimulai sejak 0 – 5 tahun dalam menerapkan nilai-nilai karakter anak yang sudah dijelaskan. Sebelum mengajarkan kepada anak, orang tua dahulu yang menerapkan nilai karakter pada diri sendiri dan pada akhirnya diterapkan kepada anak-anaknya.
Jika berbicara tentang pendidikan, seseorang belajar tidak bisa dengan instant, teu bisa ujug-ujug kata bahasa Sunda mah, dan pasti ada proses yang sambung menyambung, yaitu dari perolehan ilmu pendidikan, pengalaman, dan reaksi orang tersebut. Di sekolah, yang memulai menerapkan pendidikan karakter adalah guru. “Sok atuh dari mulai diri sendiri, jadi guru yang baik. Guru nomor hiji (satu), khususnya dalam pendidikan formal” ujar Ceu Popong. Penguatan dan pengembangan karakter memerlukan pengajar/pelatih, dan pembimbing harus melebihi kemampuan siswa. Prof Uman menjelaskan tidak ada Presiden tanpa guru, tidak ada siapapun yang sukses itu tanpa guru. Ya, selain di lingkungan keluarga, sekolah merupakan hal yang sangat penting juga untuk mengembangkan karakter siswa, yaitu guru. Tanpa guru, kita tidak bisa apa-apa, dan dimaksudkan belum memiliki arah tujuan yang jelas.
“Makna pendidikan adalah memanusiakan manusia dengan cara-cara manusiawi dan normatif” Ujar Prof. Uman. Yang perlu diketahui, mendidik manusia kudu cageur, bageur, pinter, jeung singer. Pesan dari Prof. Uman adalah jangan menjadi guru yang ditakuti oleh siswa, tetapi dihormati oleh siswa. Jangan merasa lelah dan jadilah guru yang dikenang oleh siswanya (kata-kata tersebut sangat menyentuh bagiku). Mendisiplinkan siswa bukan dengan cara menakut-nakuti siswa, namun beri pengajaran yang baik dan keteladan dari gurunya. 
Agar bangsa ini maju, harus berdisiplin dalam segala hal, mulai dari diri sendiri, detik ini, hari ini, dan masa yang akan datang.  Ceu Popong menyebutkan ada resep membentuk karakter bangsa: (1) kerja keras; (2) membaca; (3) kerja ikhlas; dan (4) kerja tuntas. In shaa Allah bangsa ini menjadi bangsa memiliki karakter baik sebagai warga negara yang baik.

Sumber:

Fathurrohman, Pupuh, dkk. (2013). Pengembangan pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama. 

Selasa, 04 Oktober 2016

Semester Tujuh

Seharusnya aku sekarang mengerjakan tugas-tugas kuliah nih. Semester 7 sedang ditempuh, terakhir kuliah di kelas. Yaa hal itu akan segera berakhir dan tibalah persiapan skripsi. Ckckck.
Semakin menantang perkuliahan ini, semoga aku bisa bertahan sampai tuntas setuntas-tuntasnya. Waktu begitu cepat yah? Aku berkeluarga dari 26 September 2015, saat ini sudah memasuki Oktober 2016. Ya Rabb.. Berkahilah langkah hamba dan orang-orang di sekitar hamba..
Masa lalu jadikan pelajaran berharga bagi kita. Entah itu momen persahabatan, cinta, pembelajaran, dan lain-lain. Semoga lulus tepat waktu yah ^_^ Aamiin.


Ketika rindu itu datang, pada seorang lelaki yang sudah menikahiku. :’) 

Selasa, 17 Mei 2016

SUKSES, KARIR, KELUARGA

            Sukses berarti tercapainya sesuatu yang kita kerjakan. Dinamakan sukses bukan hanya diartikan sebagai kaya, cerdas, dan lainnya. Kesuksesan kita berawal dari tercapainya pekerjaan yang kita cintai. Sukses dalam karir pun bermacam-macam, ada yang menganggap sukses jika jabatannya meningkat, maupun hal yang terkecil sekalipun seperti seseorang telah mengerjakan tugas dengan baik mengenai mata pelajaran/mata kuliah yang dia senangi.  Mengenai karir, tentu kita sering membahas ini di perkuliahan, bahkan perbincangan  orang lain. Karir itu kehidupan yang pasti. Menurutku, ibu yang hanya mengurus rumah tangga sudah dikatakan karir, karena seorang ibu mengurus semuanya tentang rumah tangganya. Berawal dari membina anak, memasak, menaati suami (suami adalah bos bagi istri, hehe), mengurus rumah agar dapat terawat dengan baik. Dalam membina anak pun kita harus selalu update, karena zaman sekarang itu perkembangan teknologi atau ilmu semacamnya sangat cepat. Jadi, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dirasakan sendiri oleh kita dan kita membantu anak untuk mencapai tugas perkembangannya. Jika kita diam atau terlalu sibuk, maka kita tertinggal. Ya, ini adalah pandanganku terhadap sukses dalam karir.
            dr. Lula Kamal, M. Sc. mengatakan “kejarlah apa yang membuat kamu bahagia” ketika kuliah umum Bimbingan dan Konseling di BPU kemarin (17/5). Membahas karir memang tak ada habisnya, Saya menuliskan ini diperuntukkan para istri atau perempuan yang sedang mengejar karir. Karir sangat boleh bagi perempuan, namun kembali lagi pada pandangan masing-masing. Yang terpenting, karir tidak membuat keluarga terbaring dalam kesunyian, maksudnya tidak peduli terhadap keluarga, yang diingat hanyalah kerjaan sampai lupa bahwa ada waktunya refreshing bersama keluarga. Jangan sampai keluarga menyesuaikan dengan pekerjaan, tetapi pekerjaan harus menyesuaikan dengan keluarga (Pribadi, 2016).
            Cintailah pekerjaanmu, maka kau akan bahagia. Biarpun penuh dengan tantangan dan air mata, maka kau akan merasakan hasilnya di kemudian hari, karena hasil takkan mengkhianati proses. Masa depan adalah hal yang akan kita hadapi. Jika kita mempunyai hobi, maka cintailah hobimu, secara kontinu, dan jangan berhenti. Jikalau hobimu menulis, maka cintailah tulisanmu, menulislah secara kontinu, tulislah hal-hal yang menyenangkan atau pun duka, yang mengandung hikmah di dalamnya. Kau cintai dengan hati.
            Keluarga adalah nomor satu (Kamal, 2016). Saya pun setuju dengan pendapat beliau. Karena keluarga adalah tempat kita berteduh. Jika kita lelah dengan pekerjaan, maka ingatlah ada keluarga yang menanti untuk menghiburmu. Walaupun ketika sukses dalam karir pun kita akan bahagia dan mengabari kepada keluarga dengan bangga, kepada keluargalah kita mengekspresikan apa yang kita rasakan. Semua ini, atas izin Allah. Allah yang telah melahirkan rasa sedih, rasa senang, rasa bangga, rasa syukur, dan sebagainya. Atas izin Allah pula kita masih berdiri diri bumi ini, dapat melihat postingan ini, dan dapat menghirup udara segar setiap hari. Sadarkah dirimu?

            Ketika kumenuliskan kata demi kata di sini, saya menjadi sadar bahwa kita jangan terlalu mencintai dunia ini, karena dunia ini fana. Akhiratlah yang akan kekal abadi di dalamnya dan “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya” (Hadits Riwayat Al-Hakim). Kita boleh mencintai apa yang ada di dunia ini, tapi tak lupa dengan akhirat. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya dan menjadikan kita orang yang selalu bersyukur atas apa yang Allah beri. Aamiin.. 

Jumat, 04 Maret 2016

Menilai Diri

Aku mendapatkan percakapan santai namun sangat berarti. Percakapan ini aku dapatkan dari sebuah grup di WA:
Seorang guru yang alim ditanya tentang dua keadaan manusia, yaitu (1) manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh, dan selalu merasa suci. (2) manusia yang sangat jarang ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut, dan cinta dengan sesama. Lalu sang guru menjawab: “Keduanya baik”, (meneruskan) boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yang sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yang buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yang baik lahir dan bathinnya. Yang kedua bisa jadi sebab kebaikan hatinya, Allah akan menurunkan petunjuk lalu ia menjadi ahli ibadah yang juga memiliki kebaikan lahir dan bathin. Kemudian orang tersebut bertanya lagi, “Lalu siapa yang tidak baik kalau begitu?”. Sang Guru Sufi menjawab: “Yang tidak baik adalah KITA, orang ketiga yang selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri.

Dari percakapan tersebut, aku merasakan bahwa betapa tidak tahu diri ini, sangat bisa untuk mengomentari keadaan orang lain (tidak apa-apa jika mengkritik yang membangun), namun kita lalai dari menilai diri kita sendiri. Semoga kita selalu memahami diri sendiri, berintropeksi diri akan-sedang-sudah melaksanakan sesuatu, dan terus berdoa semoga Allah selalu mengiringi langkah kita di manapun dan kapanpun. Aamiin.  
(Sumber: Kawan Imut)

Kamis, 03 Maret 2016

Kau itu UNIQ :)

Assalamualaikum, Hallo pembaca setia :’)


Maafkan sudah lama aku tak bercakap di sini. Namun, ada satu hal yang menggugahku untuk terus memperjuangkan tingkat kemampuanku dalam menulis. Ya, ingin berbagi cerita saja ketika aku melakukan ‘teaching point’ pada mata kuliah Bimbingan Kelompok. Di sana aku tak tahu mengapa aku tiba-tiba menangis ketika melihat video yang aku tayangkan sendiri. Terbayang olehku pada muhasabah diriku. Entah mengapa aku menjadi berpikir bahwa (mohon maaf) penyandang disabillitas yang notabene mempunyai kekurangan fisik atau mental, namun mereka mempunyai daya juang yang tinggi, bahkan melebihi kita orang normal. Maha Benarnya Allah, Allah memang tidak membeda-bedakan manusia, yang Allah perhatikan adalah hati manusia. Seharusnya kita merasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Melihat diriku yang sering mengeluh, namun pasti Allah sedang menguji diriku sesuai dengan kemampuanku. Begitu juga dirimu.. J Yuk, kita saling mengintropeksi diri. Sama-sama berjuang, tentunya dengan segala kemampuan yang ada dan realistis. Semangat kawan, kau itu uniq! J

Senin, 07 Desember 2015

LDR

Akhir-akhir ini aku sedang sibuk dengan tugas mata kuliah dan organisasi. Belum terlirik akan menulis pada blog ini. Namun ya, secara tidak langsung, apapun kondisinya, aku harus menulis ini di sini. Ya, tak terasa olehku bahwa aku sudah mengarungi rumah tangga selama hampir dua bulan. Kutahu, kurasakan seperti inilah keadaan sesudah menikah. LDR pun sudah di depan mata, tak terbayangkan olehku jika aku memang sedang LDR dengan suamiku. Segala rasa yang aku lontarkan padanya, mau tidak mau, suamiku harus mengetahuinya.
Biarkan dia sedang mencari nafkah. Dalam perjuangannya, kuiringi doa untuknya. Bersamanya kuakan bertahan sekuat mungkin. Aku pun di sini berjuang untuk masa depan juga. Ya Allah, Bolehkah aku mencurahkan kebahagiaanku di sini? Nikmat-Mu tak terhitung Yaa Rabb.. Kau mempertemukan aku dengannya, syukurku pada-Mu.. Suami yang begitu taat pada orang tuanya dan orang tuaku, serta sayang pada saudaraku, semakin tumbuh cintaku padanya.
Yaa Rabb.. Tumbuhkanlah rasa cinta dan kasih sayang pada kami dengan ridho-Mu..


<3 Jaisyalmatin Pribadi

Senin, 12 Oktober 2015

Teman Sejati


Ketika lisanku sukar untuk berucap, badan merinding, dan berlinangan air mata membasahi pipiku. Ada sesosok laki-laki yang telah duduk di depanku yang sedang menghadap waliku. Mengucapkan janji suci yang membuat dunia ini gemetar, di hadapan Allah..
Oh Tuhan.. benarkah ini adalah sebuah pernikahan? Seperti inikah? Aku tak percaya takdirku sampai pada akhirnya umur 20 tahun untuk berumah tangga. Kini diriku yang belum sepenuhnya dewasa, ingin belajar bagaimana cara menghadapi kehidupan rumah tangga yang rumit menjadi mudah apabila diselesaikan bersama.

Cukup sudah penantianku terhadap seseorang selama ini.  Ternyata dia-lah orangnya, yang akan membimbingku, menemaniku, dan memberiku kasih sayang sebagai seorang suami di kala suka dan duka. Cukup sampai di sini, di hati ini kuberlayar untuk mencari pasangan yang menerimaku apa adanya.

Bismillah… Inilah takdirku, inilah pilihanku, inilah orangnya…. Tak disangka, kau bilang bahwa kau datang tepat pada waktunya. Ya, aku baru saja merasakan seperti ini sekarang. Telah banyak peristiwa yang tak terduga, yang benar-benar semakin kubersyukur pada-Mu Yaa Rabb.. :’)

Indahnya pacaran setelah menikah… tenang rasanya.. Pun aku dan dia sedang diuji kesetiaan dan kepercayaan.. Dia sedang bekerja untuk masa depan kami nanti. Ya, Kami ditakdirkan berpisah untuk sementara. Dia sedang fokus bekerja, aku pun sedang fokus kuliah. Kami seperti sedang berjalan masing-masing, namun kedekatan kami selalu di hati dan pikiran ini.


Perjuanganku untuk menjaga hati, memang tidak ada ujungnya. Godaan selalu ada, tetapi aku yakin, dengan niat tekad yang kuat, akan mengalahkan godaan itu. Teruslah perbaiki diri walaupun tak ada yang salah. Prinsipku, maafkanlah diri sendiri dan orang lain, itu membuat kita semakin tenang menjalani hidup ini. 

Jumat, 26 Juni 2015

Indahnya menjemput Ridho Orang Tua dengan Cinta..

Tahun ini, 2015.. Banyak sekali kejadian yang menarik dan berkesan bagi Saya. Kehidupan ini mengajari Saya untuk selalu bermuhasabah. Dari bulan Januari lalu, ketika Saya pulang ke rumah yang ada di Tasikmalaya, Saya dilamar oleh seorang laki-laki, tetapi Saya belum memutuskan lamarannya diterima atau tidak. Saya meminta waktu untuk memikirkannya. Saya tidak menyangka bahwa laki-laki itu membawa orang tua sekaligus untuk menanyakan kesiapan Saya untuk menikah. Lisan tak berucap, hati bergetar. Selalu bertanya-tanya, apakah ini benar? Secepat itukah? Apakah ini sebagian dari Rencana Allah?
Sebelumnya Saya sudah kenal dengan laki-laki itu pada lima tahun yang lalu, ketika  awal masuk SMA. Saya hidup dengan keluarga yang memprioritaskan agama dari pada yang lain, terutama Bapak Saya. Dengan ketegasan orang tua dan cara mendidiknya yang berperilaku demokratis, Bapak dengan ketegasannya namun diselimuti oleh kelembutannya, Mama dengan kekhawatiran (jika terjadi apa-apa) dan kasih sayangnya, membuat Saya sangat bersyukur memiliki keluarga utuh seperti ini.  Saya mempunyai prinsip pacaran setelah menikah, hal itu dibangun sejak Saya masih kelas 2 SMA. Saya berkomitmen untuk tidak pacaran terlebih dahulu, dan menginginkan langsung dilamar serta mempunyai target menikah diusia 22 tahun. Namun, Allah mempunyai rencana indah yang tak terduga. Saat ini Saya berumur 20 tahun dan orang yang melamar Saya adalah 23 tahun, serta sudah memiliki pekerjaan. Sangat tidak menyangka bahwa secepat inikah Saya menikah?  
         Orang tua Saya saat itu benar-benar bingung dan terkejut, baru saja tahun lalu kakak perempuan Saya menikah, kok tahun ini Saya dilamar? Apalagi Saya anak kedua dari dua bersaudara (bungsu). Terdapat pro dan kontra terhadap apa yang terjadi. Bapak Saya menganjurkan menikah diusia muda jika memang sudah mampu untuk menikah dan tidak ada masalah  jika putrinya menikah di saat kuliah. Namun, Mama Saya ketika itu belum setuju  jika Saya menikah di saat kuliah, karena Mama memaparkan kekhawatiran-kekhawatirannya kepada Saya, terutama khawatir jika Saya terganggu kuliahnya. Akhirnya kami sekeluarga berdiskusi tentang hal ini dan mencari jalan keluar yang terbaik. Saya menjelaskan seperti apa sosok laki-laki itu sepengetahuan Saya. Yang Saya ketahui, laki-laki itu berkepribadian baik, bertanggung jawab, dan Saya kagum terhadap dirinya yang shaleh. Lalu Saya merasa ada keunikan pada diri laki-laki itu yang membuat Saya semakin kagum, ketika dirinya mengatakan, “Saya menyukai Shofi, izinkan Saya untuk menikahi Shofi, dan Saya sudah beristikharah”. Bapak bercerita kepada Saya pada saat laki-laki itu datang sebelum lamaran. Bapak baru mengenalinya, sejak saat laki-laki itu menemui orang tua Saya tanpa sepengetahuan Saya. Pada akhirnya, Saya beserta orang tua terus melakukan istikharah, mencari ilham, mencari solusi, dan lain-lain.
Sejujurnya, baru kali ini Saya menemukan laki-laki yang seperti ini., mengungkapkan perasaan “suka” kepada Bapak Saya sendiri. Saya anggap laki-laki itu sangat gentle. Saya tidak mengira bahwa dirinya benar-benar serius dengan Saya. Laki-laki tersebut mempunyai prinsip yang sama dengan Saya, yaitu pacaran setelah menikah. Saya yakin, dirinya dapat menjaga diri, mempunyai konsep diri yang jelas, dan sangat hebat bahwa dirinya sudah meyakinkan orang tua Saya untuk menikah di tahun ini. Saya juga mengetahui bahwa sukarnya menghadap kepada orang tua perempuan pada zaman sekarang, apalagi Saya masih kuliah, tetapi tidak untuk laki-laki itu. Saya merasakan ada banyak jalan untuk menempuh ikatan yang suci itu. Setelah keluarga kami meminta waktu untuk memutuskannya, tiba-tiba Mama luluh atas kedatangan seorang laki-laki itu dengan niat baiknya, dan Saya pun merasa terdapat keyakinan bahwa Saya akan menikah dengannya, akan dibimbing olehnya, dan akan menjadi teman sejatinya di saat suka dan duka.  
Teringat apa yang telah dikatakan oleh dosen mata kuliah Dasar-dasar BK Keluarga (Ibu Dr. Hj. Euis Farida, M.Pd.) bahwa menikah itu lebih baik bukan didasarkan ‘nikahin aja, daripada zina’, padahal menikah itu untuk memelihara, menyempurnakan, dan pengabdian. Bukan ada ‘daripada’nya. Menikah itu tergantung dari kesiapan dan kematangan mental dan fisik untuk membangun keluarga, dan faktor ekonomi pun berpengaruh untuk kelangsungan hidup keluarga. Dalam hadits, seseorang bertanya kepada Hasan al-Bashri: “Saya memiliki seorang putri yang telah menginjak usia nikah, sudah banyak orang yang melamarnya, kepada siapakah saya harus menikahkannya?”. Hasan menjawab: “Nikahkanlah dia dengan seorang yang takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, sebab kalau dia mencintainya maka dia akan memuliakannya dan apabila dia marah maka dia tidak akan menzholiminya”.
Hadits tersebut berpandangan bahwa jika ada yang melamar, dan orang yang melamarnya itu berkepribadian baik dan shaleh, maka terimalah, sebelum menyesal di kemudian hari. Orang baik akan selalu membuat orang yang di sekitarnya bahagia, insyaAllah.
Setelah kami mendiskusikan jauh-jauh hari mengenai hal ini dengan keluarga besar, insyaAllah kami melaksanakan akad dan resepsi pernikahan setelah keponakan Saya menikah di bulan Juli tahun ini. Alhamdulillah kami mendapat jalan keluarnya dan itu adalah kami menerima lamaran tersebut. Tiga minggu kemudian, kami sekeluarga berniat untuk bersilaturrahmi dan memberikan keputusan atas lamaran itu. Bukannya Saya yang menginginkan menikah cepat, tetapi Allah yang menggerakkan hati Saya untuk menyempurnakan setengah agama sekaligus berusaha menjadi lebih baik untuk tabungan orang tua dan pastinya membahagiakan mereka kelak. Memang kita tak dapat mengelak ketentuan-Nya. Akhirnya, detik-detik lamaran itu terselesaikan. Barulah dirinya memberikan cincin emas putih yang bercorak love kepada Saya.
Saya terkejut ketika Mama menjadi semangat mengurus persiapan pernikahan untuk bulan-bulan yang akan datang. Sebelumnya, Mama merasa khawatir dan belum setuju untuk menikahkan Saya, tetapi setelah dilalui akhirnya Mama ridho, dan akan memiliki 4 orang anak. Hikmahnya, orang tua Saya menjadi ridho dan menerima calon menantunya karena sifat baik yang dimiliki oleh laki-laki tersebut. InsyaAllah jika berjodoh, akan sampai pada pelaminan, jika tidak, mungkin Allah mempersiapkan seseorang yang terbaik untuk Saya. Jodoh itu kalau sudah merasa pas di hati, lanjutkanlah ke jenjang yang lebih serius. Jadilah orang yang selektif dalam memilih. Apalagi teman hidup yang selalu mendampingi kita.
Kisah yang mengharukan juga, Alhamdulillah Saya mendapat beasiswa dari Pemprov. Jawa Barat pada tahun ini, padahal Saya mengajukan data-data beasiswa ketika tahun lalu ke Pemprov. Jawa Barat. Saya kira, Saya tidak mendapat beasiswa tersebut, namun di sela-sela hari yang penuh dengan kebimbangan, Allah menghadirkan kuasa-Nya yang tak terkira. Saya yakin ini adalah bagian dari rencana Allah dan pertanda Saya harus banyak bersyukur. Orang tua pun menangis haru dan syukuran ketika mendengar Saya mendapat beasiswa.  
Saya merasakan bahwa orang tua Saya memiliki sifat demokratis. Sebagaimana dijelaskan oleh Rif’an (2013, hlm. 66) bahwa tipe orang tua bisa bermacam-macam. Pertama, ada orang tua yang punya karakter demokratis. Ini seringkali berasal dari kalangan berpendidikan. Untuk menghadapi orang tua seperti ini perlu adanya dialog dengan logika yang baik. Ceritakan bagaimana kondisi saat ini di mana perilaku seks di kalangan anak muda yang sudah sangat memprihatinkan. Ceritakan kisah-kisah pernikahan yang sukses dilakukan oleh beberapa orang besar yang ternyata tidak menghalangi mereka untuk meraih prestasi yang tinggi. Kedua, tipe orang tua yang agamanya cukup baik. Untuk menghadapi orang tua dengan karakter ini, insyaAllah akan lebih mudah, karena mereka menyadari bahwa menikah adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Islam. Ketiga, tipe orang tua yang teguh dengan pendapat pribadinya dan senantiasa menganggap anaknya sebagai anak kecil yang belum mampu berpikir logis. Mereka sulit percaya bahwa anaknya bisa menjangkau pemikiran yang baik untuk masa depannya. Untuk menghadapi orang tua seperti ini, ajaklah orang-orang yang selama ini disegani oleh orang tua untuk menjelaskan tentang keinginan menikah, misalnya tokoh masyarakat, kakek, nenek, dan orang yang disegani oleh orang tua. Ceritakan tentang manfaat nikah di usia muda dan bahaya-bahaya yang bisa ditimbulkan akibat menunda pernikahan”. Inilah ungkapan dari penulis yang pro terhadap menikah di usia muda dan memberikan tips-tips untuk menghadapi orang tua ketika berkeinginan untuk menikah.     

Referensi :
Hadits Hasan al-Bashri.

Rif’an, Ahmad Rifa’i. (2013). Nikah Muda, Siapa Takut?. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.